
Hari ini mungkin adalah hari yang paling bahagia dalam hidup seorang Meizia, di mana ia bisa memutuskan sendiri apa yang ia lakukan dalam hidupnya.
"Kamu bisa 'kan bekerja sebagai kasir ini?" tanya Riana setelah memberikan sedikit pelajaran bagaimana menjadi kasir.
"Bisa, Mbak," jawab Meizia sambil tersenyum.
"Pertahankan itu," tukas Riana sambil terkekeh.
"Apanya?" tanya Meizia karena ia memang tidak tahu apa yang Riana pertahankan darinya.
"Senyum kamu, Meizia," jawab Riana. "Aku rasa kamu tipe orang yang tidak bisa tersenyum, wajah kamu selalu tegang. Orang akan takut melihat wajahmu jika terus begitu, bisa-bisa restoranku menjadi sepi."
Meizia tertawa kecil mendengar gurauan Riana. "Nah, sesekali tertawa juga bagus," kata Riana.
"Terima kasih, Mbak," ucap Meizia sekali lagi.
Bagaiamana Meizia tak tersenyum hari ini? Ibunya Ameer datang menemuinya dan meminta Meizia menerima Ameer, lalu sekarang ia mendapatkan pekerjaan yang baik di lingkungan yang baik.
Semua berkah ini tak pernah Meizia duga akan ia dapatkan.
"Oh ya, Mei, usiamu berapa? Pernah sekolah?" cicit Riana yang memang penasaran sejak dulu, sebab wanita itu begitu tertutup. "Tolong jangan tersinggung, aku hanya ingin tahu dan sebenarnya semua yang bekerja di sini mengisi formulir juga memperlihatkan kartu identitasnya," kekehnya.
"Tidak apa-apa," Meizia sembari mengeluarkan ID card dari dalam tas dan memberikannya pada Riana. "Usiaku 22 tahun sekarang, Mbak, aku pernah kuliah tapi cuma dua semester karena setelah itu aku ... aku di paksa berhenti." Meizia berkata lirih di akhir kalimat.
"Maafkan aku, Meizia," ucap Riana.
"Tidak apa-apa, itu masa lalu," kata Meizia. "Jika aku bekerja dan bisa menabung, mungkin aku bisa melanjutkan kuliahku nanti."
"Kamu pasti bisa," ujar Riana menyemangati. "Kamu masih sangat muda, Meizia, sungguh. Aku sempat berpikiran mungkin kau 25 atau 27 tahun."
"Wajahku setua itu?" kekeh Meizia.
"Bukan," bantah Riana dengan cepat. "Aku hanya tidak berpikir kau ada di dalam lingkungan seperti ini di usia yang sangat muda."
"Aku ada di lingkungan itu bahkan sejak aku masih kandungan," lirih Meizia yang seketika membuat Riana sadar ia telah mengungkit masa lalu Meizia.
"Semangat bekerja, Meizia," tukasnya dengan cepat. "Selamat menempuh hidup baru, Hem?"
Sementara di sisi lain, Shafa dan Marwa sedang membagi beberapa teman Meizia agar bisa bekerja di tempatnya juga di restaurant Riana.
Mereka melihat Jenny sebagai gadis yang cerdas sehingga Shafa menempatkan gadis itu juga sebagai kasir. Ameer juga ada di sana, dia ingin tahu apakah semua orang sudah mendapatkan apa pekerjaan atau tidak.
"Dua yang lainnya nanti ke restaurant Riana," kata Shafa. "Kamu antar mereka ke sana ya, Ameer."
__ADS_1
"Okay," kata Ameer.
"Apa kalian semua ingat pesanku?" tanya Ameer pada semua wanita itu. "Tidak perlu memberi tahu siapapun tentang masa lalu kalian, jika ada yang bertanya, kalian tidak wajib menjawab. Fokus saja bekerja," tukasnya.
"Dan aku hanya menggaji kalian sesuai standar saja," sambung Shafa. "Aku harap kalian bekerja sama dengan baik supaya toko kita maju, karena kalau tokonya maju maka secara otomatis gaji kalian lebih besar."
"Terima kasih banyak," ucap Jenny dan yang lainnya dengan tulus.
Ameer pun membawa dua wanita lainnya ke restaurant Riana, wanita yang bernama Gita dan Indy.
"Aku harap kalian bisa bekerja dengan baik di sana," kata Ameer. "Di sana ada Meizia."
"Apa Ustadz akan menikahi Meizia seperti yang orang-orang bilang?" celetuk Gita yang seketika membuat Ameer terkekeh.
"Sebaiknya kalian fokus bekerja, jangan memikirkan itu," tukas Ameer.
"Meizia anak yang baik sebenarnya, Ustadz," ujar Gita lagi. "Aku sudah bekerja pada Mami Lala sejak lama jadi aku sangat mengenal Meizia, anak itu ingin sekolah dan menjadi orang sukses agar bisa merubah hidup ibunya. Tapi Mami Lala enggan membayar biaya kuliah Meizia dan justru menjual gadis malang itu. Berkali-kali dia mencoba kabur tapi Mami Lala selalu berhasil menangkapnya. Terakhir kali beberapa bulan yang lalu, dia menyiksa Meizia di depan kami semua. Bahkan sampai dia pingsan, Mami Lala tetap memukuli dia. "
Hati Ameer seperti tertusuk ribuan pedang mendengar cerita itu. "Sebaiknya jangan membahas masa lalu," pinta Ameer dengan tegas. Mata pria itu sudah berkaca-kaca, rahangnya mengeras membayangkan siksaan yang diterima oleh Meizia, bukan hanya fisik tetapi juga psikis.
Gita terdiam dan mengangguk mengerti, siapa yang mau mendengar cerita buruk orang yang dicintai?
Sesampainya di restaurant, Ameer langsung mengantar Gita dan Indy menemui Riana. Setelah itu, ia menemui Meizia yang menjaga kasir.
"Selamat pagi," balas Meizia dengan ramah.
"Bagaiamana? Sulit?" tanya Ameer basa-basi.
"Tidak," jawab Meizia sambil tertawa kecil.
"Hem, kamu sudah bisa tertawa . Apa sudah menerima gaji pertama?" goda Ameer yang membuat Meizia tergelek.
"Tidak, Ameer, aku hanya senang karena bisa bekerja," jawab Meizia. "Oh ya, jadi yang akan bekerja di sini Gita dan Indy? Jenny bekerja di tempat kakakmu?"
"Yap, dia punya posisi sama seperti kamu, jadi kasir."
"Itu posisi yang sangat bagus."
Ameer mengangguk.
"Oh ya, ibumu tadi datang menemuiku," kata Meizia yang membuat Ameer terkejut.
"Kenapa? Apa yang Ummi lakukan?"
__ADS_1
"Dia bilang kau mencintaiku," ucap Meizia malu-malu sambil tertunduk.
"Lalu?" tanya Ameer. "Kamu terkejut? Bukannya aku juga sudah bilang ke kamu kalau aku mencintaimu?"
Meizia melirik Riana yang kini berjalan ke arahnya, sudah mulai ada beberapa pelanggan yang datang juga.
"Bisa kita bicara saat makan siang nanti? Ini jam kerjaku," kata Meizia.
"Okay," jawab Ameer dengan semangat.
Bersamaan dengan itu, Hana datang ke restaurant dan ia langsung menyapa Ameer juga Meizia. "Kalian membicarakan apa? Terlihat sangat serius," kata Hana.
"Tidak ada," jawab Meizia, berada di hadapan Hana membuat ia merasa minder. Hana lebih dalam segalanya dari dia, tapi bagaimana bisa justru dia lah yang memenangkan hati Ameer.
"Jika ada yang penting, lanjutkan saja," kata Hana. "Biar aku yang menjaga kasir."
"Ide bagus," kata Ameer dengan lebih semangat lagi.
"Tapi_"
"Tidak apa-apa," kata Hana sembari menarik Meizia. "Asal jangan terlalu lama."
"Ayo!" Ameer mengajak Meizia ke sebuah kursi di pojok. Meizia masih merasa tak enak hati, tapi Hana memberi isyarat agar ia pergi.
"Terima kasih, Hana," kata Meizia kemudian ia mengikuti Ameer.
"Jadi? Apa yang Ummi katakan padamu, Meizia? Hanya tentang cinta itu?" tanya Ameer tak sabar.
"Dia bilang akan merestui cintamu dan menerimaku asal aku menjadi istri yang baik untukmu," kata Meizia.
"Jadi?" tanya Ameer.
"Aku bukan wanita yang baik, Ameer, tapi aku harap kamu mau membimbingku menjadi istri yang baik?"
"Jadi kau menjadi istriku?"
"Aku harap kau tidak mempermasalahkan masa laluku di masa depan nanti.
"Meizia, kamu mau menjadi istriku atau tidak?" Ameer bertanya penuh penekanan karena Meizia terus memutar kata-kata. Padahal yang ingin Ameer dengan hanya iya atau tidak.
"Apakah menurutmu aku bisa menjadi wanita yang pantas untukmu?"
"Astagfirullah." Ameer menggeram antara kesal dan gemas.
__ADS_1
"Mari kita saling memantaskan diri, Meizia. Kamu berusaha memantaskan diri sebagai makmum dan aku akan berusaha memantaskan diri sebagai imam yang baik untuk mengajarimu banyak hal."