
"Jika Hana hanya bisa duduk di atas kursi roda dan tidak dapat memberikanmu cucu, apa kau akan menerimanya sebagai menantu?"
Abi Ahmad terhenyak mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh teman sekaligus calon besannya itu, ia terlihat begitu terkejut.
"Pikirkan itu baik-baik, dan jangan lupa beritahu Syafiq tentang keadaan calon istrinya agar dia sendiri dapat memutuskan. Menikahi Hana berarti mau menerima segala kekurangan yang tidak akan pernah bisa disempurnakan oleh siapapun."
Abi Thohir berkata dengan tegas, ia juga tak berharap Syafiq mau menikahi Hana. Yang ia harapkan saat ini hanya satu, bisa merawat dan membahagiakan Hana di sisa hidupnya.
Sementara temannya itu tak menjawab sedikitpun, ia hanya terdiam, terlihat jelas tak mampu berkata-kata.
Abi Thohir beranjak pergi dengan membawa hati yang sudah lega, lega karena sudah memberi tahu keadaan Hana pada orang yang berhak tahu.
Sementara di sisi lain, Meizia dan ibu mertuanya sedang menyusun beberapa pakaian bayi di lemari yang baru saja dibeli oleh Ameer.
Mereka belanja perlengkapan bayinya sedikit demi sedikit, sehingga tidak membuat Meizia lelah. "Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk si kembar?" tanya Ummi Nayla.
"Aku menyerahkan semuanya pada Ameer, Ummi," jawab Meizia. "Tapi aku ingin nama yang baik, istimewa."
"Tentu saja itu harus, Nak," kata Ummi Nayla. "Nama itu adalah do'a, jadi harus yang mengandung makna kebaikan."
Meizia mengangguk sambil tersenyum. "Aku ingin anak-anakku mengerti arti kehidupan dan nilai-nilai agama sejak dini, Ummi. Mereka tidak boleh sepertiku yang buta akan ilmu agama, mereka harus menjadi orang yang baik."
Ummi Nayla menatap wajah Meizia yang tampak sendu. "Ibu yang baik adalah yang berhasil membuat anak-anaknya lebih baik dari dirinya."
__ADS_1
Meizia lagi-lagi hanya tersenyum dan mengangguk.
"Oh ya, apa Ummi tahu apa yang dikatakan Dokter pada om Thohir?" tanya Meizia yang tiba-tiba teringat pada ayah temannya itu. "Dia terlihat murung akhir-akhir ini, bahkan aku yakin dia semakin kurus, itu terlihat sangat jelas."
Ummi Nayla hanya menggeleng lemah karena ia memang tidak tahu apa saja yang dikatakan Dokter pada iparnya itu tentang Hana, Riana juga tak berbicara apapun. Namun, Ummi Nayla tahu mereka seperti menyembunyikan sesuatu.
"Aku mengkhawatirkan keadaan Hana, apalagi ini sudah lama sekali tapi dia tidak bangun-bangun." Meizia berkata dengan lirih. "Padahal seharusnya sekarang dia sudah menikah, kemudian pergi ke rumah suaminya. Tapi kenapa semuanya tidak sesuai dengan rencana kita?"
"Terkadang takdir memang tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan, Mei. Bahkan, terkadang yang terjadi kebalikan dari yang diinginkan."
"Ini tidak adil," sahut Meizia. "Padahal Hana adalah orang baik, kenapa begitu?"
"Orang baik diuji keikhlasannya, Sayang."
Meizia mengambil segelas susu itu tetapi tak langsung meminumnya. "Kenapa tidak langsung diminum?" tanya Ameer.
"Aku mau ke kamar mandi, akhir-akhir ini aku semakin sering buang air kecil, sampai aku merasa malas keluar masuk kamar mandi" lapar Meizia yang membuat Ameer terkekeh.
"Itu pertanda hari kelahiran semakin dekat," seru Ummi Nayla.
"Ya sih, Dokter juga berkata begitu," sahut Meizia. "Tapi kenapa harus pipis terus? Aku 'kan malas, apalagi kalau ingin pipis tengah malam," gerutunya sembari berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Saat Meizia sudah menghilang di balik pintu kamar mandi, Ummi Nayla langsung bertanya keadaan Hana pada Ameer. Berpikir putranya itu tahu sesuatu.
__ADS_1
"Yang aku tahu, Hana hanya koma karena mengalami luka dibagian kepalanya. Tapi aku tidak tahu yang lain, Ummi," tukas Ameer. "Apalagi selama ini Om selalu menemui Dokter sendirian, dia selalu melarangku menemaninya."
"Semoga saja Hana segera sadar seperti Syafiq."
"Aamiin."
...🦋...
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi itu lah yang dikatakan ayahnya Hana," ujar Abi Ahmad pada sang istri yang juga terlihat terkejut mendengar kabar yang tak terduga ini.
"Mengingat bagaimana Hana terluka dan terjebak dalam mobil dalam waktu yang cukup lama, kabar itu bisa saja benar adanya."
"Kalau begitu kita harus bawa Syafiq pulang," tukas sang istri yang membuat Abi Ahmad terkejut.
"Jadi maksud mu perjodohan benar-benar dibatalkan?" pekiknya.
"Apalagi yang bisa diharapkan? Apa Abi mau Syafiq menghabiskan sisa hidupnya mengurus istrinya yang lumpuh?"
"Hana lumpuh juga salah Syafiq, Syafiq yang membawa mobil itu."
"Tapi Syafiq ditabrak, bukan menbarakkan diri!"
Di saat kedua orang tuanya berdebat tentang Hana, Syafiq justru terus memikirkan keadaan Hana dan tak bisa berhenti mengkhawatirkannya. Mimpinya nya tentang Hana yang mencari keadilan dalam takdirnya juga menyita perhatian Syafiq, takut semua itu pertanda yang tidak baik.
__ADS_1
"Tolong jaga Hana, ya Allah. Jangan biarkan kemalangan apapun terjadi padanya."