Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Mengejar Cinta Pak Duda 11


__ADS_3

Sesuai dengan ucapan Sakya, hari ini dia akan mengajak Fio untuk mendaftarkan Nesya ke salah satu sekolah TK. Dengan seperti itu, Nesya bisa bersosialisasi dengan teman-teman seusianya. Berharap Nesya juga memiliki pengetahuan yang luas.


Setelah mendapatkan salah satu sekolah yang cocok, karena lebih dekat dengan jarak rumahnya, Sakya pun berlanjut untuk membelikan perlengkapan untuk anaknya karena besok Nesya sudah bisa masuk ke sekolah.


"Kita mau kemana, Yah?" tanya Nesya saat Sakya tidak melewati rumahnya tanpa berhenti.


"Kita belanja sebentar untuk keperluan Ines besok," kata Sakya.


"Wah ... asyik." Nesya berteriak akibat rasa bahagia.


Mobil telah berhenti di salah satu pusat pembelanjaan terbesar. Untuk kali pertamanya Nesya melihat bangunan yang menjulang tinggi karena saat berada di rumah neneknya hanya akan ada pasar yang bisa dia lihat.


"Wah ... besar sekali gedungnya, Yah." kagum Nesya tanpa henti. Fio terus menggandeng tangan Fio untuk mengikuti langkah Sakya yang sudah memasuki Mall tersebut.


"Fi, kamu masuk kedalam toko itu dulu ya. Aku ada urusan sebentar."


"Tapi ... Pak."


Tanpa ingin mendengarkan ucapan Fio, Sakya segera berlalu meninggalkan Nesya dan Fio. Langkah sedikit berlari untuk mengejar seseorang yang dia kenali.

__ADS_1


"Kita masuk aja, Sayang. Kita beli tas dan sepatu. Oke."


Nesya mengangguk pelan mengikuti langkah Fio sambil bertanya, "Memang ayah mau kemana, Aunty?"


Fio menyendikkan bahunya. "Aunty tidak tahu. Mungkin ayah sedang ada perlu. Ines kan tahu kalau pekerjaan ayah itu sangat sibuk."


"Baiklah, kalau begitu mari kita belanja," seru Nesya dengan riang.


Nyatanya hanya rasa sesak yang didapatkan oleh Fio. Meskipun dia sudah sabar menemani Nesya berbelanja hingga selesai namun, hatinya masih tidak terima saat melihat Sakya datang bersama dengan Luna.


"Fi, maaf sudah membuat kalian menunggu lama," kata Sakya yang hendak membayar tagihan belanja Fio.


"Tidak apa-apa, Pak." Fio sekilas melirik Luna yang sudah menenteng papar bag.


Dengan mata yang berbinar, Nesya segera mengambil hadiah pemberian dari Luna.


"Apa ini, Tante?" tanyanya.


"Itu hadiah untuk Nesya. Yang rajin sekolahnya ya."

__ADS_1


Rasa sesak Fio tidak sampai disitu saja karena ternyata Luna juga berada satu mobil dengannya. Apalagi saat ini Nesya telah berada dipangkuan Luna. Ibarat kata Fio hanya obat nyamuk yang berada di kursi belakang.


"Ya Allah gini amat nasibku. Bukannya makin lengket sama pak duren, eh malah di jadiin obat nyamuk. Ngenes hidup ini," keluh Fio dalam hati.


Fio menatap kesal kearah Luna yang sudah berhasil mengambil hatinya Nesya. Jika seperti ini sebentar lagi dia akan dengan mudah untuk ngambil hati ayahnya Nesya.


"Tidak!" Fio berteriak sambil menggelengkan kepalanya.


Sakya dengan cepat menginjak rem dan menoleh kebelakang. "Fi, ada apa? kamu kenapa?" tanya Sakya heran.


"Fio kamu kenapa?" tanya Luna juga.


Tidak hanya kedua orang dewasa yang menanyakan mengapa tiba-tiba Fio berteriak. Nesya yang polos pun juga bertanya kepada Fio.


"Aunty kenapa berteriak?"


Fio hanya bisa nyengir saat menyadari jika dia telah melakukan kesalahan akibat kecerobohannya. "Astaga apa yang sudah aku lakukan?" batin Fio.


"Hehe ... maat seperti aku tertidur dan mimpi," kilah Fio.

__ADS_1


Saat itu juga semua merasa lega dengan jawaban Fio. "Bisa-bisanya di dalam mobil kamu ketiduran, Fi!" cibir Luna.


"Mungkin dia kelelahan," timpal Sakya.


__ADS_2