Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Mengejar Cinta Pak Duda 42


__ADS_3

Fio sangat merasa kesal saat mengetahui jika Luna akan menginap di rumah Sakya. Entah apa yang sedang direncanakan oleh wanita itu, tetapi Fio merasa ada yang janggal. Saat Fio baru keluar dari kamar mandi bawah melihat Luna yang sedang memasukkan serbuk kedalam sebuah gelas. Saat Luna meyakini tidak ada yang melihatnya dia segera membawa minuman ke lantai dua, dimana hanya ada dua kamar. Kamar milik Sakya dan juga kamar milik Nesya.


"Itu maksudnya apa?" Fio mengikuti langkah kaki Luna yang ternyata masuk ke dalam kamar Sakya.


Fio langsung bisa menyimpulkan jika Luna sedang merencanakan sesuatu kepada Sakya.


"Mas Sakya, ini air putihnya."


Sakya yang baru saja ingin beranjak ke tempat tidur merasa sangat terkejut dengan kehadiran Luna tanpa mengetuk pintu.


"Luna."


"Maaf Mas, aku lupa gak ketuk pintu. Aku cuma mau kasih air putih. Mas Sakya harus banyak minum air putih."


Sakya segera mengambil gelas dari tangan Luna. "Makasih ya."


"Ya udah itu aja. Aku juga mau tidur." Dengan senyum tipis Luna beranjak meninggalkan kamar Sakya. Dalam hati Luna terus mengucapkan mantra, "Minumlah Mas, agar tidurmu nyenyak."


Fio yang sempat menguping segera mencari tempat persembunyian agar tak terlihat oleh Luna yang akan keluar dari kamar Sakya.


"Dasar, wanita licik. Aku tidak boleh membiarkan pak Sakya sampai meminum air putih itu," batin Fio.


Setelah memastikan jika Luna sudah sampai di lantai bawah, Fio segera mengetuk pintu kamar Sakya.

__ADS_1


TOK ... TOKK... TOKKK


"Pak Sakya," panggilnya.


Sakya hanya bisa mendengus pelan. Baru saja dia ingin memejamkan matanya, terdengar Fio memanggil namanya.


"Ada apa?" Setelah pintu dibuka, Sakya langsung mendelik kearah Fio.


Tanpa ingin menjawab pertanyaan dari Sakya, Fio langsung masuk kedalam kamar Sakya untuk mencari dimana gelas yang dibawa oleh Luna tadi. Mata langsung menemukan gelas yang berada diatas nakas.


"Pak Sakya udah minum air ini?" tanya Fio yang langsung mengangkat gelasnya.


Sakya menggeleng pelan. "Belum."


"Eh, kenapa dibuang? Fi, kamu kenapa?"


"Pak Sakya kalau mau minum biar aku ambilkan yang baru. Aku tidak mau pak Sakya minum air itu!"


Sakya tertawa kecil saat melihat wajah Fio telah mengerut. "Kamu kenapa? cemburu?" ejek Sakya.


Fio mendengus pelan. Bukan masalah cemburu, tetapi Fio tidak ingin Sakya masuk kedalam perangkapnya Luna. "Kamu kalau lagi cemburu serem ya. Pantesan aja sampai sekarang kamu gak pernah diapelin cowok."


"Aduh ... pak Sakya bisa diam gak! Asal pak Sakya tau, mbak Luna itu tadi memasukan sesuatu kedalam gelas pak Sakya!" tegas Fio. Namun, lagi-lagi Sakya hanya bisa menertawakan Fio dan menganggap Fio sedang cemburu buta.

__ADS_1


"Terus saja tertawa!" Fio menghentakan kakinya lalu pergi meninggalkan kamar Sakya. "Dasar bapak-bapak dibilangin gak percaya! Ah ... serahlah! Fio memilih untuk tidur di kamar Nesya karena dia sangat penasaran apa yang akan dilakukan oleh Luna selanjutnya.


Sepeninggal Fio, Sakya tak ambil pusing. Dia segera merebahkan tubuhnya. Namun, ucapan Fio masih membayangi pikirannya hingga dia kesusahan untuk memejamkan matanya. "Kalau bener apa yang dikatakan oleh Fio, berarti kedatangan Luna memang memiliki maksud tersembunyi."


Sakya berpura-pura untuk memejam saat mendengar suara pintu dibuka oleh seseorang. Karena posisinya yang terlentang membuatnya kesusahan untuk mengintip.


"Wah ... habis."


Jantung Sakya berdebar. Jelas saja dia tau siapa yang sedang diam-diam masuk ke dalam kamarnya.


"Mas Sakya, maafkan aku." Luna membelai pelan wajah Sakya.


"Aku terpaksa melakukan cara ini agar kamu menikahi ku, Mas. Aku masih sangat mencintaimu. Tapi sepertinya kamu tidak akan pernah bisa menggeserkan posisi Sarah di dalam hatimu. Tapi ... dengan cara seperti ini, aku pasti akan segera menggeser posisi itu kan Mas?" Luna tertawa pelan.


Dengan gerakan pelan, tangan Luna membuka satu persatu kancing baju Sakya, membuat Sakya yakin jika Luna sedang ingin menjebaknya. Beruntung saja Fio sempat membuang minuman itu, jika tidak maka malam hanya akan menjadi malam terburuk untuk Sakya.


Saat kancing baju sudah mulai terlepas, Luna segera naik ke tempat tidur. Wajahnya sudah sangat dekat hendak mencium bibir yang dahulu pernah menjadi miliknya. Namun, dengan cepat Sakya membuka mata dan mendorong tubuh Luna ke samping. "Mas Sakya." Mata Luna terbelalak saat sosok Sakya telah berdiri dengan merapikan kancing bajunya.


****


Karena sebuah teror, akhirnya aku up lagi. Makasih yang selalu ada untukku, saat aku sedang terjatuh. Lope-lope buat kamu.


Eh, kalau aku buat sekuel cerita Briyan dan Nara adakah yang mau singgah? Katakan Iya, jika kalian ingin mendukung novel selanjutnya.

__ADS_1



__ADS_2