Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
I Love U, Really!


__ADS_3

Tama langsung mengangkat tubuh Tari, pria itu bergegas menuju mobilnya. Namun, kepala Tari menggeleng kuat. Tama jadi bimbang, ia memilih membawa Tari masuk ke dalam rumah dari pada membuat wanitanya tertekan dan berujung pada hal yang tidak diinginkan.


"Nak Tari!" pekik Bik Arum.


Wanita tua itu berjalan dengan cepat di depan Tama untuk membukakan pintu kamar Tari.


Begitu sudah berada di dalam kamar Tari, Tama menurunkan tubuh istrinya di ke atas tempat tidur.


"Bik Arum telfon dokter untuk datang ke sini ya," ucap Bik Arum.


Kepala Tari menggeleng pelan. "Perut Tari udah gak begitu sakit lagi, Bik."


Wanita bertubuh mungil itu berkata jujur, karena saat ini rasa sakit di perutnya sudah berkurang.


Tama yang duduk di sisi tempat tidur dapat mengetahui jika Tari masih merasakan sisa rasa sakit akibat terjatuh tadi, ia dapat melihatnya dari kerut-kerutan wajah sang istri yang mulai berkurang.


Bik Arum melipir ke dapur, wanita tua itu sudah tahu jika pria yang ada di sebelah anak angkatnya adalah suami Tari. Ia mengetahui hal itu dari Fajar dan juga Tari yang pernah bercerita ke padanya.


Tama mencoba peruntungannya dengan mengelus perut buncit istrinya.


Tari baru saja ingin melayangkan protes, namun rasa nyaman akubat sentuhan Tama pada perutnya semakin mengurangi rass sakit yang ada.


"Aku merasakannya bergerak," ucap Tama dengan wajah antusias.


Tangan pria itu terus mengusap lembut permukaan perut Tari yang tertutup dengan baju baby doll yang dikenakan wanita bertubuh mungil itu.


"Dia menendang!" Tanpa sadar air sebening kristal jatuh dari sudut mata Tama.


Tari turut meneteskan air matanya, kenapa pria yang ingin dia lupakan kembali hadir. Apa tuhan sedang mengujinya?


"Kenapa?" lirih Tari


Tangan Tama berhenti bergerak tanpa mengangkat telapak tangannya yang berada di atas perut Tari.


"Kenapa Pak Tama hadir lagi? Biarkan Tari hidup dengan tenang," ucap Tari dengan mata menganak sungai.


"Aku mohon beri aku kesempatan satu kali lagi ...." Tama memohon, ia berusaha menggenggam tangan Tari. Tetapi wanita itu menepisnya.


"Pak Tama juga tidak menginginkan anak ini ada kan? Jadi Tari mohon lepaskan kami." Tari terisak.


Tama merasakan nyeri dihatinya, dia tidak ingin berpisah lagi dengan istri dan anak yang dikandung oleh Tari.


"Tari ... dengarkan penjelasanku," pinta Tama dengan wajah prustasi.

__ADS_1


"Bukannya semua sudah jelas? Ruang rahasia itu, pil KB, dan ... rekaman yang membuat ayah Tari MENINGGAL!" ucap Tari dengan suara bergetar.


"Aku memang suami yang bodoh, ruangan itu sudah tidak ada lagi. Hanya beberapa foto yang tersisa untuk Una, dan untuk rekaman itu ...."


Tari tidak menatap wajah suminya. Namun, wanita itu tetap mendengarkan apapun yang keluar dari mulut Tama.


"Rekaman itu memang benar—"


Tes!


Air mata Tari mengalir dengan deras, sudah ia duga dirinya hanya dimanfaatkan. Dan bodohnya ia percaya.


"Aku mohon jangan menangis, dengarkan penjelasanku. Please," ucap Tama.


Tangan pria itu terulur mengapus air yang membasahi pipi sang istri. Baru saja Tari ingin memalingkan wajahnya, tetapi Tama lebih cepat dari Tari sehingga ia berhasil mengusap air mata istrinya.


"Tari, percayalah jika aku menginginkan anak kita."


"Lalu untuk apa semu pil-pil itu? Kenapa setiap Pak Tama ingin menyentuh Tari, Bapak selalu mengingatkan Tari untuk meminum pil sialan itu! Kenapa? Kenapa Pak?!" teriak Tari.


"Aku terlalu takut saat itu, takut jika kelak kau mengabaikan Una karena memiliki anak kandung."


"Apa Pak Tama kira Tari sejahat itu? Tari bukan tiri yang ada di film ikan terbang!" pekik Tari.


Tama menahan tubuh Tari, ia khawatir jika istrinya terus berteriak akan membuat perut Tari keram atau kejang.


Tari tersentak, hatinya berdesir hangat. Kenapa ia baru mendengar kata-kata ini sekarang?


"Semua udah terlambat, sebaiknya Pak Tama pergi dari sini!" usir wanita itu.


Tama menggelengkan kepalanya. "Tidak! Aku tidak ingin kehilanganmu lagi. Setiap malam aku tersiksa, suara tangismu dan bayi menghantuiku. Rasa bersalah dan rindu, semuanya berpadu satu."


"Sebaiknya Pak Tama pergi dari sini dan jangan kembali lagi!"


Tari menunjuk pintu kamarnya, ia mengusir Tama.


"Aku mohon maafkan aku," lirih Tama.


"Ya, Tari maafkan. Sekarang silahkan pergi!" ketus Tari di sela-sela suaranya yang serak.


Tama tersenyum miris, inilah ujung dari kebodohannya. Sekarang ia hanya bisa mengikuti kemauan Tari, dirinya takut sang istri tertekan akan kehadirannya.


"Baiklah, tapi sebelum itu ... bolehkah aku tahu apakah anak kita seorang pangeran atu putri?" tanya Tama dengan penuh harap.

__ADS_1


"Laki-laki," sahut Tari singkat.


"Apa boleh aku berpamitan dengannya? Aku ingin membisikkan sesuatu ke padanya."


"Ya."


Tama menggeser tubuhnya untuk lebih dekat dengan Tari. Pria itu menyentuh perut Tari dengan kedua tangannya.


"Halo jagoannya Papa. Papa hanya ingin bilang ke kamu kalau Papa sangat mencintai Mama dan baby boy," bisik Tama dengan bibir yang bergetar.


Tari mendengar semua ucapan Tama, wanita wanita itu tak dapat menahan tangisnya. Sekuat tenaga ia menahan agar suara tangisnya tidak keluar. Namun, air mata tak dapat terelakan karena bendungannya telah retak.


"Baby boy ... Papa titip Mama ya. Hhh." Tama menitihkan air matanya, anak yang ada di kandungan Tari merespon ucapannya dengan pergerakkan.


Bahkan Tari dapat merasakan pergerakkan sang anak.


Tama adalah pria keras kepala, ia jarang sekali menangis. Kecuali ketika dirinya kehilangan Manda. Dan kini ia merasakannya kembali, bahkan kali ini rasanya lebih menyakitkan.


Cup ....


Pria itu mendaratkan bibirnya di atas perut Tari. Ia seperti akan berpisah dari istri dan anaknya.


Tama mengangkat kepalanya, ia mengusao wajahnya kasar. "Boleh aku memelukmu untuk yang terakhir?" tanya Tama dengan seulas senyum yang dipaksankan.


Tari menatap wajah suaminya, kemudia kepala wanita itu mengangguk pelan.


Tanpa menyia-nyiakan waktu, Tama langsung memeluk tubuh istrinya dengan perasaan sedih.


"Apa aku harus mati agar bisa berada di sisimu?" tanya Tama dengan lirih.


Lidah Tari keluh, ia tak menjawab pertanyaan sang suami. Bahkan membalas pelukan Tama pun tidak ia lakukan.


"Jika iya, maka aku mau memilih jalan itu—"


"Jangan bicara seperti itu! Kasihan Una."


Bibir Tama membentuk garis lengkung ketika Tari membalas ucapannya. Setidaknya Tari masih memikirkan nasib Una, pikir Tama.


Tama dengan enggan melepas pelukannya dari sang istri. Ia berdiri dari duduknya. Tangan kokoh itu mengusap kepala Tari dengan sayang sebelum akhirnya ia mengucapkan kalimat "Aku pamit."


`


`

__ADS_1


`


Bersambung ....


__ADS_2