Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Mengejar Cinta Pak Duda 32


__ADS_3

Seakan harapan Sakya sirna saat buah hatinya tak kunjung sadar. Satu bulan lamanya dia menanti agar sang anak membuka matanya kembali, tetapi sepertinya sang anak enggan untuk membuka mata. Sakit memang, tetapi Sakya harus menguat diri. Tak ada yang lebih penting lagi daripada menunggu anaknya sadar. Meskipun disela-sela pekerjaannya, Sakya tetap menyempatkan diri untuk menghubungi Fio untuk menanyakan apakah ada perkembangan dari Nesya. Meskipun setiap saat Fio mengatakan hal yang sama, tetapi itu tak membuat Sakya jera. Dia berharap mendapatkan balasan dari Fio yang mengatakan jika Nesya telah sadar. Namun, itu hanya sebuah harapannya saja. Kerena Kenyataan tak sesuai dengan harapan.


Setiap hari Fio selalu mendapatkan tekanan dari dua insan yang sedang menghadapi masalah besar. Fio sendiri tak tahu cara apa yang akan dia gunakan untuk meyakinkan kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Karina. Siapa makan nangka, siapa pula yang kena getahnya. Siapa yang enak, siapa yang susah. Jika sudah seperti Fio tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Kakak macam apa sih gak mau nolongin adiknya sendiri," keluh Daniel yang sudah berada di ruangan Nesya. Bocah itu hampir setiap hari datang untuk menemui Fio, berharap sang kakak bisa menyelesaikan masalahnya.


Mata Fio memutar, seakan dia sedang memikirkan sesuatu. "Aku punya cara. Dan ini satu-satunya cara untuk kalian agar aman," kata Fio sedikit ragu.


"Apa itu?" Daniel sudah tak sabar menunggu sambungan kata dari Fio.


"Gugurkan saja janin Karina! Semua akan beres."

__ADS_1


"Gila Lu, Kak! Meskipun gue brengsek, gue gak akan rela kalau bibit gue dihancurin. Lu pikir nanem bibir itu gak butuh tenaga? Gue sampai keringat njir ," bantah Daniel tak terima. "Gue mau lu yakinkan bapak sama ibu buat kasih restu untuk gue nikahin Karina. Toh bentar lagi kita lulus," sambungnya lagi.


"Menyusahkan orang idup Lu! Dasar Kudanil!"


****


Fio berusah untuk membantu sang adik, meskipun dia tidak yakin jika kedua orang tuanya akan setuju.


Suara salam panjang tak mendapatkan sahutan. Pintu yang tak kunci membuat Fio menggaruk kepalanya untuk mencari keberadaan sang ibu.


Assalamualaikum ... Ibu," panggil Fio untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


Fio yakin jika kedua orang tuanya ada di rumah karena motor milik bapaknya ada di depan rumah.


Setelah meneliti kesegala penjuru ruangan yang nihil, Fio memutuskan untuk mencari keduanya di dalam kamar. Seperti waktu yang telah berlalu, suara huha-huha membuat Fio mengurungkan niatnya untuk membuka pintu kamar sang ibu. Fio buka perempuan polos, dan dia tahu suara apa itu.


"Ngenes banget sih idup gue. Dah tau gue jomblo abadi yang ngarep dinikahi duren, tapi belum kesampaian malah harus dihadapi dengan kenyataan yang menyediakan. Coba aja pak Sakya mau nyentuh gue. Suara gue pasti bukan cuma huha-huha." rutuk Fio yang malang.


Sang adik sudah sering melakukan hubungan seperti itu, dan saat ini Fio harus mendapati jika kedua orang tuanya juga sedang berolahraga raga di kamar. Mentang-mentang rumah sepi langsung mereka gunakan untuk berolahraga raga.


"Geli pak." Tawa ibunya dengan cekikikan.


"Pak ... jangan! Ibu geli."

__ADS_1


Entah apa yang sedang terjadi di dalam kamar, Fio hanya mampu menutup telinganya karena merasa geli sendiri. "Dasar tua-tua keladi. Pak Sakya ... aku juga mau ...." Fio memutuskan berlari ke kamarnya.


__ADS_2