Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Kecanduan


__ADS_3

!Rada anget, yang tidak suka boleh di-skip ya. Hehehe!


Tama menarik pinggang istrinya, tak ada jarak diantara kedua insan itu. Lion junior yang berada di balik handuk putih pun kian menempel dengan Tari.


Tubuh Tari terasa kaku, apa lagi saat bibir Tama mulai menyapu lembut benda kenyal semerah buah cherry itu.


Tama sedikit kesulitan ketika melakukan pergulatan benda kenyal dengan istrinya karena tinggi Tari yang tak seberapa.


Dengan sigap, pria itu memegang pinggang Tari dan menaikannya ke dalam gendongan ala koala. Spontan Tari mengalungkan kakinya di perut Sang Suami.


Begitu mendapatkan posisi yang pas, mereka kembali bertukar saliva, benda tak bertulang milik Tama membelit Tari dengan lihai. Pria itu mengabsen setiap deretan gigi kelinci Tari.


Tangan yang awalnya menahan pinggang Sang Istri, kini berpindah. Jari-jari kokoh itu berselancar di balik kaus yang Tari kenakan.


Suara lenguhan wanita itu terdengar syahdu di telinga Sang pria. Tama terus menggerakkan jarinya di atas bukit kembar Tari, membuat tubuh Tari merasa gelisah karena menginginkan sesuatu yang lebih.


Napas keduanya semakin tak beraturan, ditambah lilitan benda tak bertulang yang sedari tadi tidak terlepas. Cengkraman tangan Tari di bahu suaminya semakin kuat kala Tama menggenggam aset wanita itu dengan tangan kokohnya.


"Eungh, Tari capek," ucap Tari dengan napas naik turun begitu pergulatan benda tak bertulang lepas.


"Kita belum selesai, sudah minum pil-nya?" tanya Tama sembari mengendus-ngendus leher Sang istri.


Tari menggeliat karena kegelian. "U-udah uhh is jangan gitu! Tari belum mandi tau!" Tubuh Tari semakin tak karuan akibat ulah benda tak bertulang Sang Suami yang menyapu lembut lehernya.


Dahi Tama mengernyit, pantas saja dia merasakan kulit Tari yang lumayan asin. Namun, karna sesuatu yang sudah berada di ujung tanduk, ia mengabaikan semua itu dan memilih membawa Tari ke atas ranjang.


Tubuh yang masih saling merangkul itu perlahan jatuh di atas ranjang. Kini Tari berada di bawah kungkungan suaminya. Tama tanpa malu menarik handuk yang lilitannya sudah lemah.


Mata Tari mendelik begitu melihat Lion junior yang sudah siap sedia.


"T-tutup P-pak—eh My lion. Nanti Lion junior masuk angin," ucap Tari gelagapan.


Sebelah tangan Tari berusaha meraih selimut. Begitu berhasil meraihnya, Tari yang masih berada di bawah kungkungan Tama menutupi belalai gajah milik suaminya.


"Ah ... shitt!!!" geraman Tama terdengar berat.


Tangan Tari gemetaran ketika selimut yang ia gunakan ternyata jatuh sebelum ia menutupi Lion junior, dan jadilah tangan mungilnya tanpa sengaja menyentuh belalai gajah itu.


Tama yang sudah benar-benar tak tahan, segera melepas pakaian istrinya. Tatapan Tama persis seperti singa kelaparan yang melihat daging segar.

__ADS_1


Tangan Tama mulai melepas pengait kacamata bukit kembar milih Sang Istri dan mencampakkannya secara asal. Pria itu mulai membungkukkan tubuhnya, dan mulai melancarkan aksinya sebagai bayi besar.


Tari bergerak tak karuan, aksi Tama benar-benar membuatnya menjadi cacing kepanasan. Ia mencengkram surai hitam milik Sang Suami dengan kedua tangannya,


Tubuh Tari terasa lemas kala sesuatu itu datang. Tapi, Tama tak membiarkan wanita itu untuk istirahat. Dia mulai masuk kehidangan utama.


Dengan cekatan tangan Tama menarik pinggang celana Tari. Ia menariknya dengan tak sabaran.


Senyum devil menghiasi wajah Tama, ia menatap tubuh istrinya dari atas hingga bawah dengan tatapan liar.


"Kau siap pookie? Kita masuk ke acara inti," ucap pria itu dengan menyeringai. Dengan gerakan slow motion Tama membelai pipi istrinya.


Tari menatap wajah suaminya dengan mata sayu, ia yang sudah terpancing dengan kelihaian mantan duda itu hanya bisa mengangguk.


Tama menurunkan tubuhnya dengan perlahan, ia mulai melakukan kegiatan inti itu dengan hati-hati.


Suara-suara yang membuat suasana panas pun mulai terdengar. Jeritan bercampur rancauan absurd dari mulut Tari menusuk hingga ke telinga Tama.


"Aahh aduh behhsok terlambat."


"Pahhk Tari behhlum eungh ngerjain tugass! Bla, bla, bla ...." Rancauan absurd Tari mengalir begitu saja bersamaan dengan suara kesukaan Tama.


Sepasang suami istri itu terus mengarungi indahnya surga dunia di tengah-tengah penghuni rumah yang sudah beristirahat.


Tama baru menghentikan aksinya ketika jarum jam menunjukkan pukul 2 pagi. Tubuh pria itu ambruk di atas tubuh mungil istrinya. Mereka terlelap tanpa mengenakan sehelai benang pun.


Terdengar dengkuran Tama yang begitu berisik. Namun, anehnya Tari tidak terganggu sedikit pun. Wanita itu terlalu kelelahan hingga suara berisik pun tidak terdengar di telinganya.


***


Peran malam terganti dengan matahari yang mulai menyebulkan diri. Tari merasa tubuhnya keram, ia membuka mata dengan perlahan, ternyata Sang Suami tidur di atas tubuh mungilnya.


Kepala Tama berada di ceruk leher Tari, wanita itu bingung harus melakukan apa. Ia merinding merasakan kulit yang tidak terhalangi apa pun saling bersentuhan.


Mereka persis seperti roti selai yang saling menimpah.


Tari yang takut kesiangan, dengan perlahan menggeser tubuh suaminya dengan kesusahan. Usaha melepaskan diri dari kungkungan suami pun berhasil.


Perlahan Tari mendudukkan tubuhnya, ia memperhatikan tubuh Tama, mata bulat itu tak sengaja melihat Lion junior yang juga masih terlelap seperti pemiliknya.

__ADS_1


Tari menggeleng-gelengkan kepalanya. Wanita itu menarik selimut untuk menutupi tubuh Tama.


Buru-buru Tari masuk ke dalam kamar mandi dengan sedikit meringis karena sensasi rasa ngilu di pusat tubuhnya.


Ia menyelesaikan acara mandinya secepat mungkin, Tari dengan cekatan bersiap-siap untuk berangkat ke kampus tanpa membangunkan Tama. Ia tak mau terjadi acara olah raga pagi seperti yang sudah-sudah, jadi dirinya memilih untuk turun ke bawah sendirian.


"Una sayang!" panggil Tari begitu melihat Una yang sedang bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.


"Mbak Ijah, biar Tari aja yang ngelanjutin," ucap Tari pada Mbak Ijah yang sedang menyisir surai indah nan panjang milik Una.


Mbak Ijah dengan anggukkan kepala membiarkan Tari untuk melanjutkan acara merapikan rambut Si Bocah Gembil yang belum selesai.


"Una sayang kok diam aja? Mama ikat dua ya rambutnya." Tari membelai kepala putrinya dengan sayang.


"Huh!" Una membuang muka dari Tari.


Kepala Tari menoleh ke arah Mbak Ijah, ia bertanya tanpa suara pada wanita yang bertugas mengurus Una.


"Merajuk," jawab Mbak Ijah yang juga tanpa suara.


Tari mengangguk paham dengan mulut membentuk huruf O, rupanya bocah gembil kesayangannya sedang dalam mode merajuk.


"Yah, sepertinya Una syantik udah gak sayang lagi sama Mama," ucap Tari dengan wajah tertunduk lesu.


Bocah gembil itu menoleh ke arah Tari, mendengar suara lesu Sang Mama membuatnya tak kuasa berlama-lama untuk merajuk. Anak berusia lima tahun itu langsung masuk ke dalam pelukan Tari.


"Una sayang Mama. Tapi Una sebal sama Mama kalna seling kelual," adu bocah lucu itu dengan aksen cadelnya.


"Uhhh, sayangnya Mama. Sorry." Tari memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang.


Mbak Ijah memperhatikan kedekatan dua perempuan beda generasi itu dengan tatapan haru. Ia kagum dengan istri majikannya yang begitu menyangi Una, walaupun Una bukan darah daging Tari.


`


`


`


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2