
Malam hari tiba. Tama bersama Tari membawa Azka ke atas ranjang mereka. Sementara Una sudah tidur di kamarnya sendiri.
"Tari yang hamil, mual, ngidam. Tapi kenapa ini mukanya si Azka plek ketiplek kayak Papa nya!" keluh Tari.
Tama yang tengah menatap wajah putra nya mengulas senyum bangga. "Dia tampan seperti Papa nya," ucap Tama.
"Gak adil!"
"Mau yang mirip sama kamu, Sayang?" tanya Tama dengan wajah serius.
"Halah kamus lama! Ujung-ujungnya atraksi di atas ranjang, 'sayang kalau mau anak yang mirip kamu itu ada triknya bla, bla, bla'." Tari menirukan gaya bicara suaminya dengan mulut baju ke depan.
Tama tergelak melihat tingkah laku sang istri yang selalu membuatnya terhibur dan merasa masih muda.
"Huaaa, Mam mm haa."
Tari memukul lengam suaminya dengan gemas lalu mempuk-puk Azka yang terbangun karena suara tawa Papa nya yang menggelegar.
"Azka sayang bobok lagi ya, Nak."
"Mam ma ma. Papa pa." Bukannya kembali tidur, Azka malah berceloteh dengan mata berbinar terang.
"Jagoan Papa." Tama memegang tangan mungil putra nya dengan hati-hati.
Tari yang awalnya kesal, kini malah tersenyum melihat kedekatan antara Azka dengan Tama. Ia seperti melihat dua Tama. Satu versi dewasa dan yang satu versi balita.
"Azka sayang, sudah malam. Adek bobok ya," bujuk Tari dengan lembut.
"Sayang, Azka tidurnya sebentar lagi ya. Dia masih mau main sama Papa nya," ucap Tama.
"No! Ini udah malam Yank, nanti jam tidur Azka berantakan. Ayo, Nak." Tari menggendong putranya dengan hati-hati.
Ibu muda itu membawa Azka ke dalam baby box, lalu menyanyikan lagu penghantar tidur untuk putranya.
Tama menyusul sang istri yang sedang menidurkan anak mereka. Namun, saat hampir sampai. Tari sudsh lebih dulu memperingati suaminya lewat lirik setajam belati.
Jadilah Tama kembali menunggu Tari di atas ranjang mereka. Daripada singa betina itu mengamuk dan berakhir dirinya harus tidur di kamar tamu.
Tidak! Dia tidak bisa tidur jauh-jauh dari Tari. Tama merasa heran, kenapa belakangan ini istrinya menjadi lebih galak.
Setelah beberapa menit, Tari berhasil membuat Azka Batara kembali tergidur. Wanita itu berdiri dan berjalan menuju tempat ternyamannya, yaitu ranjang.
__ADS_1
"Azka sudah Tidur?" tanya Tama pada Tari yang merebahkan tubuhnya.
"Sudah," sahut Tari.
Mereka berdua berbaring saling berhadapan. Mata keduanya saling memancarkan cinta dan kasih sayang.
Tama membawa tubuh sang istri ke dalam pelukan hangatnya. Wajah Tari berada tepat di atas dada bidang suaminya.
"Sayang ...." Panggil Tama.
"Hm? Kenapa Yank?" tanya Tari. Kepala wanita itu mendengak untuk menatap wajah sang suami.
Tama terdiam sejenak sambil meneliti wajah Tari dengan seksama.
"Kamu masih muda, sedangkan aku sebentar lagi masuk usia kepala 4. Setelahnya aku menjadi kakek-kakek. Apa kamu akan meninggalkan ku?" tanya Tama dengan wajah harap-harap cemas.
Tari menangkup kedua pipi suaminya, wanita itu mengecup bibir tebal Tama sebelum mengucapkan sebuah kalimat yang membuat hati Tama terasa sejuk.
"Tari mencintai Pak Tama, hal seperti itu tidak akan membuat Tari berhenti untuk mencitai Papa nya Una dan Azka." Tari kembali mengecup bibir suaminya.
Tama terharu mendengar ucapan istrinya, ia menahan kepala Tari agar tidak melepaskan kecupan itu.
***
"Huek! Huek!"
Tama terbangun dari tidurnya saat mendengar suara Tari yang sedang muntah-muntah di dalam kamar mandi.
Pria itu langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi tanpa memperdulikan tubuhnya yang tidak tertutup oleh apapun karena pertarungan mereka tadi malam.
"Sayang, kamu sakit?" tanya Tama khawatir.
Kepala Tari menggeleng, wanita itu membasuh wajahnya dengan air. "Yank, tolong ambilkan testpack di laci nakas," pinta Tari pada suaminya.
Terlihat wajah Tama yang kebingungan, namun pria itu langsung bergegas mengambil apa yang dipinta istrinya saat wajah galak Tari kembali menohoknya.
"Ini, Sayang."
"Sana keluar, Tari mau mastiin sesuatu dulu."
"Kamu hamil?" tanya Tama spontan.
__ADS_1
Tari mengendikkan kedua bahunya. "Mungkin iya, mungkin tidak. Tapi Tari udah telat hampir satu bulan."
Wajah Tama tampak sumeringah, pria itu tidak mau keluar dari kamar mandi. Ia lebih memilih menunggu istrinya menggunakan benda persegi panjang tersebut.
Setelah beberapa menit kemudian ....
"Bagaimana hasilnya sayang?" tanya Tama tak sabaran.
"Garis dua," sahut Tari.
"Terima kasih tuhan." Tama langsung memeluk istrinya dengan perasaan bahagia yang tidak terkira.
"Thank you, Sayang." Pria itu mencium puncak kepala sang istri.
"Yank ... Azka masih kecil, masa sudah punya adik. Kamu sih! Setiap hari gempur aku mulu."
"Salah kamu yang membuatku kecanduan. Azka pasti senang sayang. Kamu jangan khawatir, kita akan membesarkan anak kita bersama-sama, tanpa kekurangan apapu."
Tari tersenyum mendengar kalimat suaminya yang menenangkan. Mereka saling berpelukkan dengan mengucap banyak syukur ke pada Tuhan yang telah memberi mereka banyam kebahagian.
`
`
`
Sekian bonus chapter dari othor Kacan😍
Kacan mau mengucapkan banyak terima kasih ke pada para pembaca cerita 'Mengejar Cinta Pak Duda'.
Terima kasih atas dukungannya😘 Tanpa kalian cerita ini mungkin tidak berlanjut💕
Makan nangka bareng teman
Nangka dibeli oleh Ibu
Terima kasih Kacan ucapkan
Jumpa lagi di cerita baru
...Jangan lupa mampi ke karya baru Kacan 'Sebatas Status'🐸💕🙏...
__ADS_1