
Tidak tahu bagaimana caranya Fio menjelaskan kepada kedua orang tuanya jika dia tidak hamil, karena kedua orang tuanya sama sekali tidak mempercayai ucapan Fio.
Bahkan saat sedang dibutuhkan bantuan, Sakya tidak ada di sampingnya untuk memberikan klarifikasi kepada orang tuanya.
"Pak, Bu, sampai Fio harus bagaimana agar kalian percaya jika Fio itu tidak hamil." Fio merasa jengkel karena terus di desak untuk mengakui apa yang tidak dia alami.
"Kamu ini tinggal jujur aja apa susahnya sih, Fi! Ibu malu, Fi. Anak yang ibu banggain ternyata hamil di luar nikah!" seru ibunya.
"Tapi Fio gak hamil, Bu," sanggah Fio berulang kali. Namun, tetap saja tak mampu meyakinkan kedua orang tuanya.
"Gak kelar-kelar pembahasan kalian dari tadi malam. Percuma zaman udah canggih, tapi gak tau apa yang harus dilakukan. Kan ada tes kehamilan. Gitu aja kok ribut." Semua mata tertuju pada celotehan Daniel yang masih mengenakan seragam putih abu-abu.
"Nah, benar tuh kata kudanil. Tumben otak luh encer?" timpal Fio. "Fio akan buktikan kalau Fio tidak hamil," lanjutnya lagi.
"Jika sampai positif, awas kamu!" ancam ibunya. "Pak, antar ibu ke apotik dulu!" titahnya pada sang suami.
"Bapak berharap kamu memang tidak hamil, Fi. Jika sampai kamu hamil, kamu bapak coret dari kartu keluarga!" Ancaman datang lagi dari pak Mail.
__ADS_1
"Serah ah, pusing kepalaku. Kalian ini orang tuaku atau tetangga ku yang jabir sih?" gerutu Fio.
"Fi! Jangan sembarang kamu ya!" tegur ibunya.
Sepeninggal kedua orang tuanya, Fio merebahkan kesebuah sofa. Helaan panjang begitu berat. Gosip di luar sana kian terbang jauh dibawa oleh angin. Yang lebih parah lagi ada yang menyalakan api sehingga membakar jiwa-jiwa yang tidak tahu apa-apa.
"Kusut amat muka itu? Kagak pernah disetrika ya?" cibir Daniel sambil menyalakan televisi.
"Mulut lu, asal njeplak ya!" protes Fio kesal.
"Yaelah ... gitu aja marah. Harusnya lu itu berterimakasih karena gue udah nyari jalan keluar buat nyelesain masalah lu! Eh, tapi lu beneran gak lagi hamil, 'kan?" celetuk Daniel.
"Hidih ... ngarep," cibir Daniel mengejek.
Fio mendadak terdiam. Memang apa yang dikatakan oleh Danie itu ada benarnya jika Fio hanya terlalu bermimpi untuk bisa dihamili oleh duren satu anak itu, mengingat pernikahan Fio hanya untuk sebuah status.
Fio tidak tahu bagaimana kelak dia akan menjalani hari-hari setelah berstatus istri Sakya. Pasti Fio hanya akan menahan luka, karena Sakya yang belum bisa move on dari mendiang istrinya.
__ADS_1
"Ngelamun aja! Kesambet setan baru tahu rasa lu! Tuh di panggil sama nyonya besar." Daniel melemparkan sebuah bantal kecil yang sempat mengenai wajahnya tadi.
"Sialan luh!" gerutu Fio.
****
Masih sama dengan hari-hari sebelumnya, Nadine pantang menyerah untuk membujuk Sakya. Misinya kali ini tidak boleh gagal.
"Sakya, ibu ingin bicara!" kata Nadine saat melihat Sakya keluar dari kamarnya. "Katakan kalian dari mana, kenapa tidak pulang ke rumah? Dan dimana Fio?"
"Jika ibu hanya ingin membahas tentang ibu pengganti untuk Nesya, Ibu tenang saja karena Sakya sudah menemukan calonnya. Jadi, ibu tak perlu repot-repot untuk menjodohkan Sakya dengan Luna. Karena selama Sakya tidak akan pernah menikahi Luna!"
Rahang Nadine mengeras mendengarkan pernyataan dari Sakya yang diluar dugaannya. Sudah sejauh ini Nadine berusah tidak mungkin usahanya sia-sia.
"Maksudmu apa, Sakya? Kamu tidak boleh asal pilih wanita begitu saja! Belum tentu wanita pilihanmu itu bisa menerima Nesya dengan baik," ujar Nadine dengan menahan rasa kesalnya. "Luna adalah wanita yang bisa menerima kamu apa adanya," lanjutnya lagi.
"Sudahlah Bu, aku lelah. Oh iya, minggu depan aku akan menikah. Jadi aku harap ibu berhenti untuk membujukku untuk menikahi Luna." Sakya melenggang pergi menuju dapur karena perutnya terasa lapar. Namun, Sakya melupakan sesuatu. Karena tidak ada Fio di rumah ini, Sakya tidak membuat makanan. "Kenapa harus pikun segala sih?" gerutu Sakya yang kemudian memilih delivery makanan.
__ADS_1
Nadine masih tidak terima dengan kekalahannya. Siapa pun wanita yang akan mendampingi Sakya tidak akan dia lepaskan begitu saja. Jika misinya gagal, Nadine tidak akan tinggal diam. "Kamu pikir kamu sudah merdeka? Tidak semudah itu Sakya!" batin Nadine.