
Tama yang sebenarnya hanya memejamkan mata, merasa kaget ketika ada yang menarik pinggang celananya. Namun, pria itu tetap diam dan berpura-pura tidur.
'Astaga! Apa yang sedang dilakukannya?' tanya Tama dalam hati.
Tama dapat mendengar cebikan Tari, ia jadi menyadari satu hal. Bahwa, Tari sengaja memilihkan segi tiga memalukan itu. Dirinya hanya bisa mendengus dalam hati, baru saja mereka ingin memulai semuanya dari awal. Tapi, Tari lebih dulu mencuri start dengan mengerjainya.
Pria yang awalnya hanya sekedar memejamkan mata, lama kelamaan merasakan kantuk yang teramat berat, hingga Tama benar-benar terlelap dalam tidurnya.
Sedangkan Tari masih dalam keadaan sadar, ia masih memikirkan apa yang akan terjadi dengan hubungannya dan Tama kedepannya.
'Tuhan ... izin kan Tari memiliki Pak Tama. Kadang Tari capek ngejer Pak Tama terus. Tuhan ... tolong sampaikan ke mbak Manda, Tari gak akan membuat Pak Tama melupakannya. Tari akan selalu menjaga Aruna dengan sepenuh hati,' ucap Tari dalam hati.
Gadis itu memejamkan matanya, ia mencoba untuk masuk ke dalam dunia mimpi. Hingga Tari benar-benar terbawa oleh gelombang alam bawah sadar, ia terlelap dalam damai.
***
Matahari yang masih malu-malu menampakkan dirinya, menyambut pasangan suami-istri yang terlihat canggung.
Keduanya saling melirik satu sama lain lalu membuang muka. Aneh sekali, entah kenapa Tari bisa seperti ini. Padahal, biasanya gadis itu bar-bar, dan pemalu bukanlah jati dirinya sama sekali.
Tama menyugar surai hitamnya ke belakang untuk menutupi kegugupannya. Sedangkan Tari menarik napasnya dengan dalam, untuk mengumpulkan keberaniannya.
Dan di saat yang bersamaan mereka saling menoleh, terjadilah adegan saling menatap. Tari yang sudah kembali menjadi gadis yang periang,mencoba untuk memulai percakapan.
"Selamat pagi, Pak Tama," ucap Tari dengan cengiran khas kuda.
"P-pagi ... ," sahut Tama.
Tari belum menemukan panggilan yang cocok untuk suaminya. Kalau manggil sayang, Tama belum sayang padanya. Kalau panggil cinta, apa lagi. Jadi lah ia tetap memanggil Sang Suami dengan sebutan Pak Tama.
"Hari ini kita mulai dari mana, Pak?" tanya Tari pada suaminya.
Sebenarnya Tama bingung harus menjawab apa. Tapi, begitu ia melirik ke tengah, tempat di mana Una masih tertidur. Ia langsung mendapatkan ide.
"Mengurus Una bersama. Bagaimana?"
Tari mengangguk setuju, gadis itu ikut menoleh pada Una yang masih terlelap. Tangan mereka berdua serentak terangkat untuk mengusap pipi gembil Sang Anak.
Tama mengusap sisi kiri, sedangkan Tari mengusap pipi sebelah kanan.
"Euhmm ...." Una menggeliat.
Rupanya usapan lembut dari mereka membangunkan Una. Terdengar suara gumaman dari bocah itu.
"Mama, Papa," panggil Una.
__ADS_1
"Ya, sayang," sahut Tari.
"Una lapel ... ," keluh bocah itu.
Tari tersenyum mendengar ucapan Sang Putri. Baru bangun tidur, pikiran bocah gembil itu langsung tertuju pada makanan.
"Una mandi dulu ya, Nak. Baru kita sarapan di bawah," ujar Tari.
Bocah gembil langsung setuju dengan menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah, Tama sampai terheran. Kenapa anaknya begitu penurut pada Tari, pikirnya.
Tari pun mengajak Una untuk mandi, sedangkan Tama masih berada di atas ranjang dengan kepala bersandar pada headboard.
Beberapa menit kemudian, Tari dan Una keluar dari kamar mandi. Terlihat bocah gembil yang keluar dengan handuk putih yang menutupi tubuhnya.
Tama yang melihat itu, segera bangkit dari atas ranjang. "Mau ke mana?" tanya Tama.
"Ke kamar Una. Kan bajunya ada di sana," sahut Tari.
"Oh, ya sudah ... kita ke kamar Una."
Mereka berjalan bersama ke kamar Una. Begitu tiba di dalam, Tari mengambil minyak telon serta bedak baby. Tama pun ikut serta membantu istrinya mengambil pakaian Sang Anak.
"Pa, balik badan gih! Una mau pakai baju," seru Tari.
Pria itu langsung menuruti ucapan istrinya dan langsung berbalik badan. Tari membantu Una mengenakan bajunya, karena takut akan terkena luka di kening bocah itu jika Una mengenakannya sendiri.
Sekarang giliran Tama untuk mengurusi rambut panjang anaknya. Pria itu mulai menyisir rambut Una dengan hati-hati.
***
Selesai mengurusi Una, Tari menitipkan putri kecilnya ke pada Mbak Ijah. Sekarang giliran Tama untuk membersihkan diri. Hari ini pria itu tidak ada jam mengajar, ia memutuskan untuk mengecek restoran Batara.
Setelah menghabiskan waktu dua puluh menit untuk mandi, pria itu keluar dengan badan yang segar. Tari yang sudah sedia berdiri dengan perlengkapan Tama, langsung menyerahkannya pada Sang Suami.
"Eh, tunggu! Pak Tama ... ," panggil Tari menghentikan langkah kaki suaminya yang menuju walk in closet.
Tama berbalik, dan menaikkan kedua alisnya. "A-anu, itu. Kemejanya nanti biar Tari aja yang mengancingkan," ucap Tari dengan suara yang mirip cicitan tikus.
Tama dengan ragu menjawabnya dengan anggukkan kepala. Pria itu mengenakan dalaman serta celananya di walk in closet. Begitu siap ia keluar dengan keadaan kemeja yang belum dikancingkan.
Pria itu mendekati Tari yang lupa bagaimana caranya berkedip. "Ehem." Tama berdeham.
"E-eh Pak Tama." Gadis itu cengengesan tidak jelas, ia kepergok memandang suaminya begitu intens.
Lagi pula siapa yang tidak terpesona dengan tubuh kekar suaminya. Dada bidang, perut yang walau pun tidak memiliki roti sobek, tetapi tidak buncit seperti pria kebanyakan.
__ADS_1
Tama sudah berhadapan dengan Tari. Gadis itu mulai menggerakkan tangannya, mata Tari menatap tepat pada dada bidang suaminya ketika sedang memasukan kancing ke dalam lubangnya. Tinggi Tari yang tak seberapa membuatnya hanya setara dengan dada Sang Suami.
Tubuh Tama merinding ketika tangan Tari tidak sengaja menyentuh kulitnya. Sentuhan istrinya menciptakan gelenyar aneh pada tubuhnya. Pria itu menangkap tangan Tari.
"Kenapa?" tanya gadis itu dengan mendengakkan kepala.
Bukannya menjawab, Tama malah memegang kedua sisi wajah istrinya, dan menundukkan kepala.
Tari mengernyit heran, Tama tampak sedang memiringkan sedikit kepalanya. Dan tiba-tiba, benda kenyal milik suaminya menempel dengan bibir semerah cherry miliknya.
Tama mulai membuka akses untuk menjelajah di dalam sana. Benda tak bertulang pria itu bergerak dengan lihai.
Keduanya hanyut dalam pertemuan benda kenyal yang memabukkan. Tangan Tama menarik pinggang istrinya agar lebih memudahkannya menjelajah.
Pria itu semakin memperdalam aktivitasnya dengan menekan tengkuk Sang Istri. Suasana semakin panas. Tama tanpa sadar, mulai menggiring istrinya ke atas sofa yang berada tak jauh dari mereka.
Tari terjatuh di atas pangkuan Sang Suami. Tangan gadis itu mencengkram kedua bahu Tama.
Suara decapan terdengar di telinga keduanya. Tak ada di antara mereka yang berniat melepaskan perbelitan benda tak bertulang itu. Mereka berdua sudah larut dalam gelombang yang tak bisa dijelaskan dengan kata.
Tangan Tama yang tadinya berada di pinggang dan tengkuk Tari. Kini mulai merambat ke depan baju tidur istrinya.
Satu tangannya ia gunakan untuk membuka kancing baju Sang istri, baru dua kancing yang terbuka—
Tok ... tok ...
"Tama, Tari. Ayo sarapan. Kok kalian tidak turun-turun ke bawah dari tadi."
Tiba-tiba suara ketukan pintu yang diiringi dengan suara Mama Widi terdengar. Barulah Tama menyudahi acara pertemuan benda kenyal itu.
Ibu jari Tama terulur mengusap sisa saliva yang ada di sekitar bibir istrinya.
Tari buru-buru berdiri dengan napas yang ngos-ngosan. Gadis itu berlari untuk membuka pintu.
"Eh ... Mama, maaf Tari baru siap membantu Pak Tama," ucap Tari.
Pandangan mata Mama Widi jatuh pada kedua kancing Tari yang terbuka. Wanita paruh baya itu tersenyum menggoda.
Tari mengikuti gerakkan mata Mama mertuanya. "Waduh, ini kancing kok terbuka?!" pekik gadis itu.
`
`
`
__ADS_1
Tama soang(○゚ε゚○)