
Setelah menghabiskan waktu satu jam setengah, akhirnya semua makanan sudah siap disajikan di atas meja makan.
Bik Atik memanggil kedua orang tua Tama karena waktu sudah masuk jam makan malam.
"Tari, panggil suami mu untuk makan malam," ucap Mama Widi yang baru saja tiba.
Wanita yang sedang menuangkan mushroom soup ke dalam mangkuk itu menoleh ke arah Mama Widi.
"Ma, Tari izin makan bersama suami Tari di kamar ya," ucap Tari dengan sungkan.
"Kenapa tidak makan bersama di sini, sayang?" Mama Widi menatap Tari heran.
Tari yang masih sibuk memindahkan beberapa hidangan lain ke piring yang lebih kecil itu pun menjawab pertanyaan mama mertuanya. Wanita bertubuh mungil itu mengatakan jika Tama sedang tidak enak badan. Ia juga menjelaskan kondisi bumper sang suami yang penuh dengan tanda cinta dari hewam berleher panjang.
"Astaga, anak itu. Disosor angsa bisa sampai demam begitu." Papa Adam menggeleng tidak percaya.
"His! Si Papa. Disosor angsa itu sakit, apa lagi yang nyosor bram." Mama Widi menyikut pinggang suaminya.
Mama Widi melihat wajah bingung orang-orang yang berada di ruang makan. Wanita paruh baya itu menarik napasnya.
"Brame-rame. Ah kurang gaul nih padaan." Mama Widi berkacak pinggang.
"Mama, Una ikut!" teriak Una begitu melihat Tari yang mengangkat nampan berisi makanan.
"Una mau ikut makan di kamar? Nanti siapa dong yang nemeni Oma sama Opa makan," ucap Tari.
"Bibik sama Mbak." Bocah gembil itu turun dari tempat duduknya, ia mendekati sang mama yang bersiap naik ke atas.
"Aduh anak mama, sini kita naik ke atas bareng sayang. Mbak Ijah, tolong pegangin Una naik tangga ya. Tari lagi megang nampan, takutnya tumpah."
"Siap, Tari." Mbak Ijah dengan telaten menuntun bocah berumur lima tahun itu untuk menaiki tangga.
Tidak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di depan pintu kamar. Tari mengucapkan terima kasih ke pada pengasuh Una sebelum Mbak Ijah turun kembali ke ruang makan.
"Papa!" teriak Una begitu melihat Tama yang sedang duduk bersender.
Rupanya pria itu sudah terbangun dari tidurnya. Tari menghampiri Tama lalu meletakkan nampan berisi makanan mereka ke atas meja kecil.
"Kita makan dulu ya," ucap Tari.
"Papa sakit?"
"Tidak sayang, sini duduk di dekat Papa." Tama menepuk sisi ranjanganya.
Tari ikut bergabung di antara anak dan suaminya. Wanita itu mengambil dua mangkuk sup jamur dan sepiring garlic bread.
__ADS_1
"Ini untuk Papa. Dan ini untuk Una." Tari memberikan semangkuk sup ke tangan suaminya. Sementara mangkuk yang satu lagi masih ia pegang.
"Punya Mama mana?" tanya Una.
"Ini, kita makan satu mangkuk berdua ya sayang," ujar Tari.
Ctar!
Terdengar suara gemuruh dari langit yang memang sudah mendung sejak tadi sore. Kini hujan mengalir dengan deras.
Suara kilat menyambar masih terus terdengar. Untungnya Una tidak takut akan suara petir karena anak berusia lima tahun itu merasa aman di antara kedua orang tuanya.
"Cara makan mu berantakan sekali," ucap Tama.
Pria itu menatap risih ke arah sudut bibir sang istri yang terkena sup jamur.
"Hi-hi-hi, Mama lucu." Una terkikik geli melihat wajah Tari.
Wanita bertubuh mungil itu mengerjapkan matanya, Tama yang melihat itu segera mengulurkan tangan. Ibu Jari Tama menyapu lembut sudut bibir istrinya.
Wanita itu dapat merasakan sentuhan kulit sang suami yang terasa hangat.
Tari tersenyum senang diperlakukan dengan seperti itu. Ini adalah adegan yang sering ia baca di novel romantis miliknya.
Ketiga insan berbeda usia itu sangat menikmati makan malamnya. Hingga beberapa menit kemudian, mereka sudah menyelesaikan acara santap menyantap sup lezat buatan Tari.
"Letak saja di sudut sana! Nanti kau kelelahan dari tadi belum ada istirahat," ucap Tama, menghentikan langkah kaki Tari yang bersiap keluar dari kamar.
Wanita itu membalik badannya, ia mengulas senyum yang begitu tulus.
Kakinya melangkah ke tempat yang Tama intruksikan. Ia meletakkan nampan berisi piring kotor itu ke sudut rak yang kosong.
"Putri Papa sudah mengantuk hum?" Tama mengusap kepala anaknya.
"Hoamm, iya Papa. Una boleh tidul di sini tidak?" Bocah itu menguap, Una mengucek matanya yang sudah terasa berat.
Tari mendudukkan dirinya di atas ranjang. Ia ikut bergabung dengan keluarga kecilnya. Wanita itu mentoel pipi Una yang sedang mengucek mata.
"Sayang, jangan mengucek mata begitu, nanti iritasi. Hiii nanti gak syantik lagi."
"Una ngantuk, tapi matanya nggak mau melem," ucap Una dengan cemberut.
"Uluh-uluh anak Mama, sini peluk." Tari membentang kedua tangannya. Ia menyambut Una dengan senang hati.
Tama mengulas senyum, menyaksikan kedekatan sang istri dengan putri kecilnya. Hati pria itu merasa sedikit terketuk, semakin lama berada di dekat Tari, ia jadi tau bahwa semua yang dilakukan wanita itu bukanlah kepura-puraan.
__ADS_1
"Ayo kita berbaring!" Ajak Tama.
Una yang berada di antara Tari dan Tama membaringkan tubuhnya dengan asal.
"Sayang, hati-hati. Nanti kesenggol Papa," ujar Tari menasehati anaknya. Wanita itu takut Tama tertimpa Una yang bisa menimbulkan rasa sakit pada bumper sang suami.
Mereka bertiga berbaring dan berbalut dengan selimut yang sama. Tama mengusap kepala anaknya dengan sayang. Tari pun ikut serta mempuk-puk punggung Una.
Tiba-tiba Tari merasakan usapan lembut di kepalanya. Ternyata, Tama juga melakukan hal yang sama seperti yang pria itu lakukan ke Una.
Tari memejamkan matanya sejenak, ia menikmati setiap kali gerakan itu menyapu. Perlahan mata bulat Tari terbuka, kedua pandangan insan itu saling bertabrakan. Tari memberikan senyum lebar ke pada suaminya.
"Mama, kapan kita belajal ulal melingkal?" tanya Una, memecahkan suasana yang tadinya mendadak romantis.
"Eh, ulal? Oh ... ular melingkar. Ayo sayang! Sambil menunggu mimpi menjemput, kita sekalian belajar agar kamu lancar mengucapkan huruf 'R'." Tari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ikutin Mama ya. Ular ...." Tari menggerakkan mulutnya perlahan.
"Ulal," ucap bocah gembil itu mengikuti apa yang Tari ucapkan.
"Melingkar," lanjut Tari.
"Melingkal, hoamm." Una menguap, matanya sampai mengeluarkan bulir bening. Pertanda bocah itu benar-benar sudah mengantuk.
"Sudah, lanjut besok aja ya. Una kan harus bangun pagi, biar gak terlambat ke sekolah," ucap Tari menaikkan selimut hingga ke d4da Una.
Tak butuh waktu lama, bocah berusia lima tahun itu sudah masuk ke dunia mimpinya.
"Una sama seperti mama nya," ucap Tama tiba-tiba.
Tari memiringkan badannya, ia tidak mengeluarkan suara sama sekali. Wanita itu menunggu Tama melanjutkan ucapnnya.
"Manda juga sulit mengucapkan huruf 'R' dengan jelas," ungkap pria itu.
Telinga Tari dengan setia mendengar apa yang diucapkan suaminya. Ia baru tau jika mendiang istri sang suami sama seperti Una yang kesulitan menyebutkan huruf itu.
`
`
`
Tak terasa sudah dekat-dekat bab tamat.
Terus pantengi cerita ini ya readers(●´з`)♡
__ADS_1
ojo lali jempole yo rek, yang mau komen ... boleh banget hehehe.