Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Bertemu Kembali


__ADS_3

Pria itu berjalan mendekati Tari, ia mengusak surai hitam Tari dengan gemas. Dirinya tau jika Tari sedang menangis, begitu kentara dari suaranya yang serak serta bahu yang bergetar.


"Katanya kalau ibu hamil sering menangis anaknya jadi cengeng loh," ucap Fajar.


Fajar ikut duduk di sebelah Tari, ia memperhatikan wajah wanita yang masih setia menjajah hatinya.


"Masa sih Kak?" Tari menoleh ke arah Fajar.


Wanita itu menyeka sisa air mata dengan lengannya. Tari mengusap perutnya yang masih rata dengan lembut dan perlahan, Fajar yang melihat itu tersenyum kecil.


"Kuharap dia mirip sepertimu," ucap Fajar.


Tari menganggukkan kepalannya. "Tari hanya ingin dia sehat tanpa kekurangan apapun." Tangan Tari tak berhenti mengusap perut itu.


Hati Tari jadi kembali merasa nyeri, mengingat jika anaknya tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ayah. Tiba-tiba air mata wanita itu kembali menetes.


"Kenapa menangis?" tanya Fajar.


Pria itu tidak berani memegang Tari, ia tau jika wanita di sampingnya masih menjadi istri orang.


"Enggak apa, Tari cuma terharu aja bentar lagi jadi Mama."


Fajar tersenyum mendengar jawaban Tari, bagaimana bisa wanita betubuh mungil ini menjelma menjadi seorang ibu. Fajar yang membayangkannya jadi merasa lucu sendiri.


"Tari adalah calon mama terimut yang pernah Kakak lihat," ucap pria itu.


Wanita itu hanya membalas ucapan Fajar dengan senyum kecil. Tari jadi teringat ketika ia bertemu Fajar dan berakhir di tempat ini.


-Flashback on-


Tari yang berada di dalam taxi menangis tanpa suara. Ia harus meninggalkan cinta sekaligus lukanya. Dalam hati, wanita itu terus mengatakan maaf untuk Una yang ia tinggalkan.


Wanita itu menyandarkan kepalanya di kaca jendela taxi. Wajah Tama terus terbayang dikepalanya, ia begitu mencintai pria itu, tapi pria yang ia cintai masih mencintai cinta lamanya.


Ia merasakan sesak jika teringat akan suara rekaman Tama. Tari menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.


Ada banyak yang ia tinggalkan, termasuk kedua sahabat terbaiknya. Andaikan saja Tama benar-benar tulus mencoba untuk mencintainya, pasti ia bisa menahan sakit soal fakta ruang rahasia penuh memori itu.


Tapi kenyataan pahit yang menimpanya mendorong ia melakukan ini. Lagi pula Tama tak meginginkan janin yang sedang tumbuh di rahimnya.


"Ayah, apa rekaman itu yang membuat ayah pergi?" lirih Tari.


Tari terisak pilu, ia tak tau harus apa dan kemana. Dirinya luntang-lantung. Taxi yang ia naiki berhenti di bandara yang berada di Medan.

__ADS_1


"Hiks, aku hanya punya simpanan sedikit. Apa pergi ke luar kota jalan terbaik?" gumam Tari tak tau harus apa.


Di tengah kebingungan wanita itu, tiba-tiba sebuah suara yang familiar memanggil namanya.


"Tari?!"


Tari membalik badan dan ia menemukan Fajar yang baru turun dari mobil mewahnya bersama orang seorang pria, yakni orang kepercayaan Fajar.


"Kak Fajar?" panggil Tari tak percaya.


"Kamu kok ada di sini? Mau pergi kemana? Di mana suamimu?" Pertanyaan beruntun itu keluar dari mulut pria yang saat ini memandang Tari dengan mata menyipit.


"M-mau, emm holiday," ucap Tari tergagap.


Fajar yang melihat wajah sembab Tari serta hidung dan mata yang memerah, tak percaya akan jawaban yang wanita itu berikan.


"Ayo masuk ke dalam mobil Kakak!" seru pria itu.


"T-tapi ... itu ...." Tari menggaruk ujung pelipisnya.


Wanita bertubuh mungil itu akhirnya mengikuti Fajar yang masuk ke dalam mobil bersama dengan orang kepercayaannya.


Tari duduk di kursi tengah bersama Fajar, sedangkan orang kepercayaan dan supir duduk di kursi depan.


"Tuan, bukannya sebentar lagi waktu penerb—"


"Ke cafe X yang jauh dari sini," potong Fajar yang tidak ingin dibantah.


Pria itu dapat merasakan jika Tari sedanga da masalah, ia sengaja memilih tempat yang jauh dari rumah dan kampus wanita itu.


Kuda besi membawa mereka ke cafe yang dituju. Fajar bersama Tari turun dan masuk ke dalam cafe, sementara 2 orang yang lainnya tetap stay di dalam mobil.


Pria tampan berusia 28 tahun itu memanggil pelayan cafe untuk memesan. Setelahnya ia kembali fokus menatap Tari.


"Maaf Kakak tidak hadir ke acara pemakaman Ayah kamu," ucap pria itu.


Tari mengangguk. "Gak apa Kak, Kakak kemana aja? Dan kenapa Kakak ada di bandara? Kak Fajar mau pergi ya?" tanya Tari beruntun.


Fajar tersenyum, hanya karena Tari dia bisa menarik sudut bibirnya. Hidup Fajar terlalu monoton, hanya pekerjaan dan setumpuk berkas yang menemaninya.


"Ha-ha-ha kamu ini, harusnya Kakak yang bertanya."


Tari yang sedang dalam mode galau tak bisa ikut tertawa menanggapi pria di depannya.

__ADS_1


"Oke, oke. Kakak akan jawab pertanyaan kamu, Kakak harusnya hari ini pergi ke negara A. Yah ... habisnya wanita cantik dan imut di sini udah ada yang punya," ucap Fajar.


Wajah Fajar berubah serius sebelum akhirnya ia mengeluarkan pertanyaan kepada Tari.


"Sekarang giliran kamu, kenapa ada di bandara sendiri? Dan wajah kamu sembab begitu." Pria itu menatap intens ke arah Tari yang kebingungan.


"Tari gak tau kenapa Tari ke bandara hiks, Tari gak tau mau kemana huaaa ...." Air mata Tari kembali banjir.


Semenjak hamil Tari jadi lebih perasa, ditambah dengan masalah yang menimpahnya. Jadilah wanita sering menangis.


Tari menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganya. Untung saja cafe yang di datangi mereka sepi.


"Tari gak bisa cerita sama Kakak. Tari, Tari huaaa ...."


Fajar benci melihat air mata Tari yang dengan lancangnya terus mengalir deras, ia tidak suka melihat wanita pujaan hatinya bersedih.


"Ayo minum dulu, suara kamu sudah serak begitu." Fajar mengulurkan segelas jus guava kepada Tari.


Wanita itu menerima jus guava yang diberikan Fajar. Baru saja ia meminumnya sedikit, perut Tari rasanya seperti diaduk-aduk. Ia langsung berlari ke toilet untuk mengeluarkan sesuatibyang membuat mulutnya terasa pahit.


Fajar yang panik mengikuti Tari dan menunggu wanita itu di depan pintu masuk toilet.


Huek! Huek!


Tari berpegangan pada pinggiran wastafel. Fajar yang menunggu di luar semakin khawatir, merasa tak sabar menunggu Tari keluar ... akhirnya pria itu masuk menyusul Tari.


"Kamu sakit? Kita ke rumah sakit sekarang!"


Kepala Tari menggeleng, ia membersihkan bibirnya dengan tisu yang berada di sebelah kaca wastafel.


"Tari baik-baik aja." Wanita itu keluar dari toilet, ia tak ingin ada kesalahpahaman apapun.


"Kamu muntah-muntah, ayo kita ke rumah sakit." Pria itu takut wanita pujaan hatinya kenapa-kenapa.


"Tari cuma hamil—eh!" Tari menutup mulutnya.


Fajar terkejut mendengar kalimat 'hamil' dari mulut Tari, pria itu terdiam sesaat.


`


`


`

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2