
Wajah gadis itu merah padam, ia merasa malu dengan Mama mertua yang menatapnya dengan tatapan menggoda.
Tangan Tari buru-buru mengaitkan kancingnya yang terbuka akibat ulah suaminya.
"Haduh, sepertinya Mama ganggu. Sarapan dulu biar ada tenaga," ucap Mama Widi dengan menaik turunkan alisnya.
"Ini Ma, baju tidurnya udah lama, jadi kancingnya suka kebuka sendiri," kilah gadis itu dengan cengengesan.
"Uhm, rusak ya? Mama kira habis ritualan." Mama mengangguk-anggukkan kepalanya seraya mengusap dagu.
Wanita paruh baya itu berlagak seperti orang yang percaya akan alasan Tari, ia paham betul, jika menantunya sedang malu.
"I-iya, Ma. Rusak ... ," sahut Tari.
"Ya sudah, kamu panggil Tama untuk turun ke bawah. Kita sarapan bersama."
"Siap, Ma!" Tangan Tari membentuk hormat.
Mama Widi berbalik meninggalkan Tari, tapi belum jauh wanita paruh baya itu melangkah. "Tari, nanti bilang sama Mbak untuk bersihkan kamar kamu. Sepertinya banyak semut ya, sampai bibir kamu bengkak begitu," ucap Mama Widi yang sudah menuruni tangga.
Tari memegang kedua pipinya yang terasa panas, gadis itu melipat bibirnya ke dalam.
"Pak Tama, kenapa sih kancing baju Tari pakai di buka segala!" protes Tari begitu dirinya masuk kembali ke dalam kamar.
Tama tergagu, ia tak mampu menjawab pertanyaan istrinya, karena dirinya sendiri pun tidak tahu kenapa sampai bisa melakukan itu.
"Huu! Kok diem, Pak? Kan Tari jadi malu sama Mama," dengus Tari.
"Lebih baik kita turun ke bawah sekarang," jawab Tama, melenggang pergi meninggalkan Tari.
Tari yang melihat Sang Suami pergi begitu saja, langsung mengeluarkan jurus seribu umpatannya dalam hati. 'Memang suami minus akhlak! Tari sumpahi CIMAT sama Tari!'
Gadis itu akhirnya ikut menyusul Tama, yang sudah lebih dulu turun. Tari berjalan menuruni tangga, hingga langkah pendeknya membawa ia ke ruang makan.
"Nah, ini dia menantu kesayangan Mama udah dateng, ayo sekarang kita makan."
Keluarga Batara pun menikmati sarapannya bersama-sama. Sesekali Papa serta Mama mertuanya menggoda ia serta Sang Suami.
***
Siang ini Tama serta Tari memutuskan untuk pergi bersama ke restoran milik keluarga Batara.
Kini kedua insan itu sedang dalan perjalanan. Tari mencibir suaminya dalam hati. Entalah, kalau dihitung-hitung sudah berapa banyak dosa yang ia buat karna sering mengumpati Tama.
'Katanya mau memulai dari awal. Hadeh ... semobil gini aja diam-diam bae. Ajak ngobrol kek, apa kek! Lumayan kaku juga ni Pak Tama.'
Dari pada senyap begini tanpa ada suara, gadis itu mencoba membuka obrolan dengan suaminya.
"Pak Tama ... Pak Tama," panggil Tari.
"Hmm," sahut Tama.
"Tipe cewek yang Pak Tama suka itu gimana sih? Kayak Tari gini gak?" tanya Tari menoleh pada Sang Suami yang fokus menyetir.
"Tidak."
Tari mencebikkan bibir sambil bersedekap dada. Memang suami durjana Pak Tama ini, batin Tari menjerit.
__ADS_1
"Hadeh, jadi tipe cewek yang Pak Tama suka itu yang bagaimana?" Tari bertanya kembali, walau pun dirinya sedang kesal.
"Lemah lembut, tidak banyak bicara, bersikap dewasa dan penurut," jawab Tama.
Tari manggut-manggut mendengar jawaban suaminya. "Emmm ... Itu ciri-cirinya Mbak Manda ya, Pak?"
Raut wajah Tama langsung berubah tegang, tangan pria itu mencengkran stir mobik dengan kuat.
"Eh ... sorry-sorry hehehe, jangan marah ya, Pak," ucap Tari dengan cengengesan.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan bangunan yang besar. Parkiran siang ini tampak penuh dengan mobil para pengunjung, yang artinya restoran Batara sedang jam ramai. Karena ini sudah masuk jam siang.
Mereka berdua turun dari mobil secara bersamaan, Tari mengikuti langkah kaki suaminya. Tangan gadis itu menggapai tangan Sang Suami, Tama mencoba melepaskannya karena tidak nyaman dengan tatapan para pekerja serta pengujung.
Namun, jari-jari Tari sudah saling mengait dengan jari suaminya dan ia kunci dengan genggaman.
Gadis itu tidak bermaksud pamer atau apa pun, ia hanya tidak ingin tertinggal di belakang karena langkah kaki suaminya yang lebar.
Tama membawanya ke sebuah ruangan yang berisi para koki. Mata Tari berbinar melihatnya, ini adalah impian gadis itu, bisa berkerja di restoran besar.
"Bagaimana dengan jumlah stok bahan? Saya belum menerima laporan."
Salah satu koki berseragam hitam maju mendekati Tama. Tari tahu jika yang berbaju chef jacket hitam itu adalah kepala kokinya.
"Untuk stok bahan masih aman, Pak. Ada beberapa bahan yang baru masuk dari negara C," ujar kepala koki itu.
"Baiklah, untuk perinciannya jangan lupa ingatkan bagian pengurus agar mengirimkannya malam ini ke email saya."
"Bak, Pak."
Tama dan Tari keluar dari ruangan yang penuh dengan aroma sedap itu.
"Mau makan siang di sini?" tanya Tama oada Tari.
Tari menggelengkan kepalanya. "Tari masih kenyang," jawab gadis itu.
"Hmm baiklah, kalau pergi ke mall mau tidak? Ada yang harus dibeli untuk Una."
Tari mengangguk dengan antusias, merekapun kemabali pergi dengan menggunakan kuda besi.
"Pak kita lagi kencan ya?"
"Ya anggap saja begitu."
***
Tari dan Tama berkeliling mall bersama, pasutri itu terlihat seperti keponakan dan paman. Selain wajah Tari yang imut, gadis itu juga mengenakan baju kodok dengan motif keroppi.
"Kenapa kau pakai baju ini?" tanya Tama mendengus.
"Karena cute dan bagus," sahut Tari.
Tama hanya mampu menghela napasnya dalam-dalam, ia mencoba mengabaikan tatapan orang-orang kepadanya. Tahu begitu ia mengenakan pakaian santai juga, batin pria itu.
Langkah mereka berhenti di sebuah toko mainan. Pasangan suami-istri gaje itu menghampiri etalase boneka lucu. Tak perlu waktu lama, Tama sudah tahu apa yang harus dibeli dan segera membawa barang itu ke meja kasir.
Tari tak banyak bertanya pada Tama, ia hanya melihat suaminya yang sedang mengeluarkan kartu dari dompet untuk transaksi.
__ADS_1
"Pak kita jangan pulang dulu ya, Tari mau beli sesuatu," ucap Tari begitu mereka keluar dari toko mainan.
"Bisa tidak, jangan memanggilku 'Pak' ketika di luar. Orang-orang akan mengira aku paman bahkan sugar daddymu," ujar Tama sedikit tidak suka.
Tari tampak berpikir keras, ia belum menemukan panggilan yang cocok untuk suaminya.
"Panggil Yank?" tanya Tari.
"Sangat menggelikan," tolak Tama.
Tari kembali berpikir kembali. gadis itu tersenyum ketika menemukan panggilan yang pas untuk suaminya.
"Okey, my lion. Sekarang kita pergi ke toko baju ya."
Tangan Tari menarik Tama ke tempat yang ia mau. "My lion?" Pria itu bertanya pada istrinya.
"Ya, karena Pak Tama— eh maksudnya my lion orangnya gagah, keren, dan tampan. Jadi panggilan itu cocok untuk my lion," jawab Tari masih dengan melangkah.
Dalam hati, gadis itu terkikik geli. Ia memanggil Sang Suami dengan sebutan my lion karena Tama yang galak dan suka marah padanya.
"Ngapai ke toko pakaian couple?" tanya Tama merasa risih.
"Ya mau belanja lah, my lion. Gitu aja masa gak tau, gimana sih. Ckckck." Tari menggelengkan kepalanya.
Akhirnya Tama hanya bisa pasrah mengikuti kemauan Tari. Pria itu mulai panik ketika tangan istrinya mengambil tiga baju berwarna biru muda. Bukan warna bajunya yang membuat ia panik. Tetapi, tulisan di baju itu.
"Nah yang ini cocok untuk Tari, Pak— my lion, dan Una. Bagus kan?" Tari menempelkan baju itu pada badannya.
"Bocah sableng! Jangan—"
"Katanya mau memulai dari awal, huuu gitu aja langsung mau marah ... ," potong Tari.
Tama menghela napas panjang, dan berakhir dengan kata "Baiklah."
Kedua insan itu mencoba baju yang Tari pilih ke fitting room. Tama menatap pantulan dirinya dicermin dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan.
Ia dengan enggan keluar dari ruang fitting room, karena mulut cerewet istrinya yang tak bisa diam.
Begitu Tama keluar, Tari langsung bertepuk tangan bahagia. "OMG!!! My lion keren pakai baju ini." Tari mengacungkan kedua ibu jarinya.
Tama melirik kanan dan kiri, orang-orang menatap mereka dengan wajah senyam-senyum.
"Milik Mama," ucap Tari mengeja tulisan yang ada di baju suaminya. "Milik Papa." Gadis itu menunjuk tulisan di bajunya.
"Nah ... yang ini punya Una." Tari mengangkat baju berukuran kecil dengan warna yang sama dengan mereka.
"Milik Mama-Papa." Tama tanpa sadar membaca tulisan itu dengan bersuara.
`
`
`
CIMAT itu singkatan dari cinta mati ya.
Hohoho, readers ada yang pernah pakai baju couplean kayak Tari dan Tama gak?
__ADS_1