
"My lion, udah selesai nih," panggil Tari, menyadarkan Tama yang tampak sedang melamun.
"O-oke, sekarang waktunya kita makan." Pria itu meletakkan nampan berisi makanan di atas ranjang.
Mereka berdua mulai menyantap makanannya di atas tempat tidur. Sesekali mata Tari mencuri pandang ke arah suaminya yang duduk di pinggiran ranjang.
"Tari, kau sudah menjadi istriku seutuhnya. Jadi, jangan biarkan laki-laki songong itu mendekati mu. Apa lagi sampai kau meminta cerai seperti kemarin," ucap Tama, begitu menyelesaikan acara makan sarapan yang kesiangan.
Tari menatap mata suaminya, ia merasa bahagia akan ucapan Tama yang seolah-olah sedang cemburu.
Mata wanita itu menelisik ke dalam mata Sang Suami. Entah kenapa, ia tidak melihat rasa apa pun lewat mata suaminya. Tatapan Tama begitu datar saat mengutarakan hal itu.
"Kita benar-benar memulainya dari awal kan?" tanya Tari secara spontan.
"Ya, apa kau meragukanku?" Tama menaikkan satu alisnya.
Kepala Tari menggeleng kuat, menepis pertanyaan suaminya. "Tari percaya sama My Lion Tama, tolong jangan kecewakan Tari ya," ucap Tari memohon dengan ulasan senyum yang tulus.
Tama menyahuti permohonan istrinya dengan deheman. Pria itu kembali mengingat pembicaraannya dengan dokter yang merupakan sahabat semasa SMA.
"Sore ini kita ke rumah sakit, apakah bisa? Sudah tidak sakit lagi kan?" Tama mengungkit kembali soal ajakannya saat di kamar mandi tadi.
Tari yang ditanya seperti itu, jadi tersipu malu. Ia berpikir Tama begitu mengkhawatirkannya.
"U-udah gak sakit kok," jawab Tari.
"Baiklah, kalau begitu kita bisa pergi nanti sore."
Drtt ...
Suara getaran dari ponsel genggam Tama memecah interaksi suami istri itu. Tama merogoh sakunya, dan melihat siapa yang menelfon.
"Aku angkat telfon dulu," ucap Tama pada Tari.
Gadis itu mengangguk, ia melihat suaminya yang melenggang pergi ke balkon hanya untuk mengangkat telfon.
"Halo, Mi."
"Cih, kamu mau melanggar janjimu ya! Hebat, sekarang kau mulai dekat dengan bocah miskin itu!" hardik Mami Sun.
"Ini semua demi Una, dia ingin meminta cerai. Tentu Una akan merasa kehilangan sosok ibunya," ucap Tama.
"KAU INGIN MENGGANTIKAN PERAN MANDA ANAKKU DENGAN SI MISKIN ITU?!" teriak Mami Sun dengan berang.
"Bukan seperti itu, Mi. Tama melakukan semua ini demi menahannya untuk tetap berada di sini."
"Mami akan terus mengintaimu, Tama. Jadi jangan macam-macam!" Ancam Mami Sun.
__ADS_1
Pria itu menghela napasnya denga berat sebelum menjawab ancaman dari Ibunya Manda. "Iya, Mi."
Tama memasukkan ponsel genggamnya ke dalam saku, ia kembali menghampiri Tari yang sedang bersandar di headboard sambil memainkan ponselnya.
Wanita itu tampak senyam-senyum saat memainkan ponsel. Sesekali Tari menepuk jidatnya kala membaca pesan dari kedua sahabatnya.
"Hari ini kamu tidak ada kelas kan?" tanya Tama tiba-tiba yang membuat Tari kaget.
"E-eh kodok!" Tari spontan mengucapkan kata yang sedang ia ketik di layar canggih miliknya karena terkejut.
Pria itu memperhatikan istrinya dengan dahi mengkerut. "Kodok?" tanya Tama.
"Hehehe, ini Tari lagi rekomendasiin Si Keroppi ke bestie," jawab Tari cengengesan.
Tama yang tidak mengerti tentang perkodokan pun hanya menjawabnya dengan anggukkan kepala.
"Ya sudah,aku mau keluar dulu untuk menemui Una di bawah. Kamu beristirahatlah," ujar Tama.
"T-tapi ini kan udah siang, Tari sungkan sama Ma—"
"Mama yang menyuruh kamu untuk istirahat saja di kamar," potong Tama.
Akhirnya Tari memilih beristirahat di kamar sebelum dirinya dan Sang Suami pergi ke rumah sakit.
Mata Tari menatap punggung suaminya yang lama-lama semakin jauh dan hilang begitu pintu kamar mereka tertutup.
Wanita itu memiringkan tubuhnya. Mata bulat Tari menyipit, melihat benda berwarna coklat, yakni dompet Tama.
Tangan Tari berusaha menggapai dompet kulit yang tertinggal di atas nakas. Saat hampir mendapatkan benda persegi milik suaminya, jari wanita itu malah tidak sengaja menjatuhkan dompet Tama.
Dompet suminya terjatuh ke lantai dalam keadaan terbuka. Tari menggeser tubuhnya untuk mengambil benda yang terjatuh itu.
Begitu ia menunduk, matanya seakan sulit untuk berkedip. Sebuah foto tersimpan di dalam dompet Tama.
Wanita itu menggapai benda yang di dalamnya terpasang sesuatu yang ia ingin lihat sedari awal.
"Cantik banget," lirih Tari, ibu jarinya bergerak mengusap foto keluarga yang sedang tersenyum.
Bibir Tari menyunggingkan senyum manis kala menatap foto Una yang sedang berada dalam pelukan kedua orang tuanya. Tidak ada rasa iri dalam hati wanita itu.
"Una dari cilik udah gembil dan syantik ," ucap Tari terkekeh.
Mata bulat Tari berpindah ke wajah suaminya. Senyum yang tadinya manis, kini berubah menjadi miris.
"Pertama kalinya Tari bisa lihat Pak Tama senyum seperti ini. Kelihatan bahagia. Semoga Tari bisa mendapatkan senyum seperti ini dari My lion. Semoga."
Tari memotret foto yang ada di dompet Tama dengan ponselnya. Lalu ia meletakkan kembali benda itu ke tempat semula.
__ADS_1
Ia menarik napasnya dalam-dalam. Berusaha meyakini semuanya akan berubah dan baik-baik saja.
Tari kembali membaringkan tubuhnya, ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
"Ah iya, udah lama gak ketemu ayah. Besok ke rumah ayah ah, tiba-tiba kok rindu berat begini ya."
***
Sore pun tiba, seperti yang diucapkan Tama. Kini mereka sedang bersiap-siap menuju rumah sakit.
"Sudah siap?" tanya Tama yang melihat Tari sedang memoleskan lip tint.
"Udah," sahut Tari mengangkat kedua ibu jarinya seraya menampilkan deretan gigi putih nan rapih.
Tama merasakan ada masalah dengan jantungnya ketika melihat senyum lebar milik Tari. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa, My lion?" tanya Tari yang keheranan dengan suaminya.
"Tidak ada, ayo kita turun!" seru Tama.
Mereka berdua berjalan dengan beriringan saat menuruni anak tangga. Mama dan Papa nya Tama memperhatikan keduanya dengan tersenyum.
Orang tua Tama berpikir jika ini adalah sebuah kemajuan dalam rumah tangga anak mereka.
"Mau ke mana, Tam?" tanya Papa Adam, begitu pasutri Tama dan Tari berada di bawah.
"Ke rumah sakit, Pa." Bukan Tama yang menjawab, tetapi Tari.
Wanita itu menjawab dengan suara dan wajah cerianya.
"Wah, kelihatannya mantu Mama bahagia sekali hari ini, ada apa gerangan ni, hmm?" Mama Widi menaik turunkan alisnya.
"Ma ...." Tama memperingati Mamanya.
"Hehehe, Maaf. Mama jadi tidak sabar mau nambah cucu. Kalian ke rumah sakit mau cek kesuburan kan? Kalau begitu sana pergi." Terlihat Mama Widi yang begitu semangat.
"I-iya, Ma." Tari menyahuti ucapan Mamanya dengan tersipu malu.
'Ooo ... jadi Pak Tama ngajak ke rumah sakit untuk cek yang seperti Mama Widi katakan . Hihihi itu tandanya Pak Tama bener-bener menerima Tari,' batin Tari kegirangan.
Tama dan Tari berpamitan dengan kedua orang tuanya sebelum pergi. Terlihat Tari yang sedari tadi tidak berhenti tersenyum.
Bahkan, ketika sudah berada di dalam mobil pun, wanita itu masih memasang wajah cerianya.
`
`
__ADS_1
`
Bersambung ...