
Sakya sengaja tidak pulang rumahnya karena sedari tadi ibu mertuanya terus saja menelepon dan mengirim pesan jika saat ini Luna sedang menunggunya di rumah. Tujuannya saat ini membawa Fio dan Nesya ke puncak. Namun, sebelum itu Sakya mencari keperluan Fio dan Nesya disebuah toko.
"Kenapa kita gak pulang aja Yah buat ambil perlengkapan?" tanya Nesya saat Sakya memasuki sebuah toko pakaian.
"Ayah lagi buru-buru. Nanti kalau kita pulang pasti nenek akan ikut dan pasti dia akan mengajak tante Luna. Emangnya kamu mau kalau tante Luna ikut?" Sakya kembali bertanya
"Gak sih," timpal Nesya cepat.
Fio tidak berani untuk bertanya karena dia sudah tahu jika Sakya sedang ingin menghindari mertuanya. Fio sendiri njuga tidak tahu sampai kapan perempuan tua itu akan tetap tinggal di rumah Sakya. Namun, dari penglihatannya Fio yakin jika bekas mertuanya Sakya sedang memainkan sebuah drama.
"Fi, kamu cari apa saja kebutuhan yang diperlukan saat di puncak nanti! Gak usah takut, uangku tidak akan habis hanya untuk membayar belanjaanmu." Sakya berkata dengan kesombongannya.
"Iya Pak."
Fio dan Nesya sibuk memilih pakaian yang akan dikenakan di Puncak. Karena cuaca yang dingin, Fio memilih beberapa switer dan beberapa kaos.
"Kesempatan itu tidak akan datang dua kali. Belanja lebih pun juga gak kena marah."
Fio tertawa dalam hati sambil. Kesempatan belanja sepuasnya yang tak akan dia lewatkan. Fio dengan semangat memasukkan barang-barang keperluan.
__ADS_1
Mata Sakya mendelik saat kerang belanjaan telah menggunung penuh dengan pakaian milik Fio. "Kamu mau jualan?" tanya Sakya heran.
Fio menggeleng sambil menahan tawanya. "Tidak Pak. Kan pak Sakya sendiri yang bilang kalau gak boleh takut jika uang pak Sakya habis hanya untuk membayar belanjaanku. Yah, itung-itung aji mumpung." Fio tertawa pelan membuat Sakya hanya bisa mendengus pelan. "Kamu, memang pintar cari kesempatan ya!" cibir Sakya.
Setelah selesai belanja perlengkapan mereka untuk di puncak, Sakya segera menjalankan mobilnya kembali. Nesya yang baru pertama kalinya diajak liburan merasa sangat bahagia.
"Pak, apa sebaiknya kita liburan dekat-dekat sini aja. Jauh lho Pak, puncak Bogor itu. Kita gak mungkin cuma nginep satu malam terus paginya pulang. Kan capek di jalan aja," kata Fio sambil melirik kearah Sakya.
"Jadi kamu ingin kita nginep berapa malam?" Sakya melemparkan pertanyaannya.
"Bukan gitu, Pak. Emangnya pak Sakya gak kerja?"
"Kerja atau tidak apa urusannya denganmu?"
"Udah diam aja. Lihat itu Ines udah tidur."
***
Disebuah ruangan, Nadine merasa sangat murka saat panggilannya terabaikan oleh Sakya. Bisa-bisanya Sakya mengabaikan dirinya. Bahkan hari juga hampir sore, tetapi Fio dan Nesya juga belum pulang. Nadine sudah menduga jika saat ini Sakya bersama dengan perempuan kampungan itu.
__ADS_1
"Gimana?" tanya Nadine kepada Luna yang baru saja menghubungi Sakya.
"Gak bisa, Bu. Nomernya diluar jangkauan," kata Luna dengan layar ponsel yang masih mencoba untuk menelepon Sakya.
"Coba telepon Fio!"
"Luna gak punya nomernya Fio, Bu."
Nadine semakin gelisah. Kali ini tebakannya tudak salah lagi. Sakya pasti sedang membawa Fio ran Nesya untuk menghindari dirinya. "Telepon lagi!" desak Nadine.
Luna hanya bisa membuang berat napas sesaknya. Entah apa yang sedang direncanakan oleh mantan mertua Sakya sehingga dia ngotot menginginkan Sakya untuk segera menikahinya.
"Tetap gak bisa, Tan. Lagian kenapa ibu ngotot menginginkan Mas Sakya menikahi ku, Bu?"
Nadine terkejut saat mendengar pertanyaan Luna. Tidak mungkin jika Nadine akan mengatakan jika dia membutuhkan harta milik Sakya?
Tidak! Aku harus tetep berpura-pura. Luna tidak boleh mencurugaiku jika aku sedang memanfaatkan dirinya.
Luna memang menginginkan Sakya, tetapi tidak dengan cara pemaksaan seperti ini. Luna tahu jika Sakya tidak menyukai pemaksaan, mungkin itu sebabnya jika saat ini Sakya pergi tanpa kata dan memutuskan tali persaudaraan.
__ADS_1
"Karena udah sore, Luna pulang ya, Tan." Akhirnya Luna menyerah dan memilih untuk pulang.
"Awas kamu Sakya! Berani sekali kamu menghindariku. Cepat atau lambat, kamu pasti akan segera menikah dengan Luna." Nadine mengepalkan genggaman tangan sambil menggeretakkan giginya