
Hari sudah sore, Tari mondar-mandir di depan teras rumah menunggu sang suami pulang. Mama Widi yang kebetulan lewat itu menghampiri menantunya.
"Tari ngapai mondar-mandir kayak setrikaan." Mama Widi menepuk pelan bahu Tari yang tidak sadar akan keharan Mama mertuanya.
"Eh ada Mama, Tari rindu sama Pak Tama. Kok lama banget ya pulangnya," ucap Tari dengan mata yang mulai berkaca.
Wanita paruh baya itu menatap menantunya dengan wajah keheranan. "Sayang, suami kamu pasti bentar lagi pulang," ujar Mama Widi.
"Beneran, Ma?" tanya Tari dengan wajah kembali ceria.
"E-e iya sayang," jawab Mama Widi kikuk. Ia merasa menantunya sungguh aneh hari ini.
Tari masih menunggu suaminya pulang, sedangkan Mama Widi kembali ke dalam— bermain bersama cucunya yang sedang menonton televisi.
Wanita bertubuh mungil itu duduk di kursi berbahan kayu jati yang ada di teras rumah. Ia menyangga dagunya dengan tangan.
Tiba-tiba terdengar suara deru mobil Tama yang memasuki halaman rumah. Tari buru-buru berdiri, wanita itu menghampiri Tama yang baru keluar dari pintu mobil dengan antusias.
"Huaa ... Pak Tama pulang!" pekik Tari kegirangan, ia memeluk suaminya dengan erat.
"Eh!" Tama terkejut sekaligus merasa geli, sebab sang istri mengendus-ngendus ketiaknya.
"Tari, itu jorok. Bau keringat," ujar Tama, berusaha menghentikan keanehan istrinya.
"Wangi tau!" ketus Tari.
Tama menggaruk tengkuknya yang tak gatal, pria itu merasa akhir-akhir ini istrinya selalu saja bertingkah aneh.
"Jangan di sini, kita ke kamar saja ya." Pria bertubuh tegak itu menarik tubuh sang istri dengan lembut.
"Umm!" Wanita bertubuh mungil itu mengangguk cepat.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah bersama-sama dengan Tari yang tetap menempel pada suaminya.
"Ma, Una Mana?" tanya Tama pada Mama Widi yang sedang menonton televisi.
"Ini, ketutupan sofa." Mama Widi membalik tubuhnya, ia menunjuk Una yang fokus dengan tayangan kartun berbentuk larva merah dan kuning.
"Tama naik ke atas dulu, Ma." Pamit pria itu pada sang Mamanya dengan mata penuh tanya.
Tama mengendikkan bahunya. Mama Widi menatap ke arah putra dan menantunya yang menaiki tangga. Wanita paruh baya itu mulai memikirkan kemungkinan yang menyebabkan Tari menjadi berbeda dari yang biasanya.
Tari langsung berdiri di hadapan suaminya begitu mereka sampai di dalam kamar. Wanita itu menggerak-gerakkan tumit kakinya di atas lantai, ia menunduk dengan tersipu malu.
Tama yang melihat itu tau betul apa yang diinginkan istrinya, sebab Tari pernah melakukan hal yang sama dua hari yang lalu.
"Ini masih sore, nanti malam saja ya."
"Ya udah kalau gak mau! Aduh gerah banget sore ini. Tari mau tiduran bentar deh." Wanita betubuh mungil itu meninggalkan suaminya dan berjalan menuju ranjang.
Glek!
__ADS_1
Tama menelan salivanya dengan susah payah. Dengan santainya sang istri melepaskan semua pakainnya dan hanya menyisakan penutup bukit kembar serta kain berbentuk segitiga.
Tangan Tari terbentang di atas ranjang, wanita itu merebahkan tubuhnya yang hampir polos.
Kaki Tama melangkah maju, menghampiri sang istri yang berhasil menggodanya.
"Ehem!" Tama berdeham, menyadarkan wanita mungil yang memejamkan mata sambil menggerak-gerakkan tangannya di atas seprai yang lembut.
Tari mengintip dengan satu matanya, ia berteriak girang dalam hati.
"Mau di sini atau seperti semalam?" tanya Tama, pria itu mendudukkan diri di tepian ranjang.
Mendengar ucapan sang suami, Tari langsung duduk dengan semangat. Wanita itu membentangkan tangannya dengan lebar.
"Em seperi semalam ya," gumam Tama.
"Um! Gendong ... ," rengek Tari seperti bocah lima tahun.
Tama dengan senang hati menggedong istrinya. Ia membawa Tari ke dalam kamar mandi, mereka kembali menikmati indahnya surga dunia disore hari.
"Kenapa kau semakin manja hum?" Tama bertanya dengan napas tersenggal-senggal. Ia menempelkan keningnya dengan kening sang istri.
"Gak suka ya?" tanya Tari dengan suara yang mulai gemetar.
"No, jangan nangis. Aku hanya bertanya." Tangan Tama mengusap pipi lembut milik istrinya.
Dalam hati, Tama merutuki dirinya sendiri. Hampir saja iya membuat wanita yang berada di atas tubuhnya menangis. Bisa-bisa ia pusing karena harus memikirkan cara agar istrinya berhenti menangis.
Tama menatap kedua netra Tari, pria itu baru mengingat soal pil penunda kehamilan. Ia benar-benar lupa.
"My—"
"Ayo kita membersihkan diri, nanti kamu masuk angin," potong Tama.
Tari yang berada di atas tubuh sang suami segera menyingkir, ia keluar dari bathub yang disusul oleh Tama.
"Mau ke mana?" Tama mencekal tangan istrinya ketika melihat Tari berjalan berlawanan dengan tempat di mana shower berada.
"Mau pakai baju," sahut Tari tanpa menatap wajah suaminya.
"Bersihkan diri dulu." Tanpa ba-bi-bu Tama langsung membopong tubuh sang istri.
Pria itu menurunkan sang istri di bawah shower, mereka membersihkan diri bersama-sama.
Dengan lihai Tama menggosok punggung mulus Tari, pria bertubuh tegap itu menuangkan sedikit shampo ke atas surai hitam sang istri.
"Pak Tama ...."
Tama yang sedang membantu Tari berkeramas langsung menunduk begitu mendengar sang istri memanggil namanya.
"Hemm?" Alis Tama menjungkit, ia memasang wajah tanya.
__ADS_1
"Soal tadi ... apa tidak masalah?" tanya Tari dengan hati-hati.
"Tidak apa," jawab Tama singkat.
Pria itu seolah enggan membahas tentang hal itu. Entahlah, Tama masih ragu dan ada rasa sedikit khawatir jika Tari lebih mencintai anak kandungnya. Dan mengabaikan Una.
Tari tidak lagi bertanya, wanita itu melilitkan handuk di tubuhnya. Kedua insan berbeda usia itu keluar daru kamar mandi bersamaan.
Keduanya mengenakan pakaian di dalam walk in closet. Tari memilihkan pakaian santai untuk suaminya, ia pun mengenakan pakaian santai yang warnanya selaras dengan baju sang suami.
"Ayo kita ke bawah, Una pasti sudah menunggu." Tangan Tama mengamit tangan istrinya.
Tari ikut tanpa membantah. Seperti masih ada yang mengganjal di hatinya, namun ia takut jika menyuarakan pertanyaan yang sama ke pada Tama.
***
Di lain tempat, terlihat Fajar yang sedang duduk di kursi kebesarannya sambil mendengarkan semua laporan tentang Tari dari orang kepercayaannya selama beberapa hari ini.
"Kau yakin dia terlihat bahagia?" tanya Fajar pada orang kepercayaannya.
"Saya yakin tuan, semua gambar ini bisa menjadi jawabannya." Orang kepercayaan Fajar menyodorkan map coklat berisi foto-foto Tari.
Fajar yang sudah beberapa hari ini tidak melihat wajah serta mendengar suara Tari dengan perlahan mengeluarkan semua hasil tangkapan gambar itu.
Jantungnya kembali berdebar kencang hanya karena melihat senyum wanita pujaan hatinya, ia dapat melihat ekspresi bahagia Tari.
"Kau bingkai foto ini, dan siapkan kepergianku untuk minggu depan, perusahaan di sini kembali kuserahkan padamu,"ujar Fajar dengan mantap.
Pria itu memilih salah satu foto Tari yang di dalam tidak terdapat Tama.
"Tapi tuan—"
"Aku tidak ingin dibantah!"
"Baik, Tuan."
`
`
`
Bersambung ....
Maafkan othor yang libur lama🙏
Siapkan hati untuk beberapa bab lagi😁
Seperti biasa, othor ucapkan terima kasih ke pada readers yang masih setia membaca cerita receh ini❤
Lope sekebon.
__ADS_1