Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Mengejar Cinta Pak Duda 36


__ADS_3

Pernikahan yang diadakan secara dadakan membuat keluarga Karina merasa sangat curiga, terlebih saat ini sang anak yang masih duduk di bangku sekolah.


Saat keluarga Daniel datang untuk menyampaikan niatnya, keluarga Karina tidak terima jika anaknya menikah diusia dini.


"Mereka masih muda dan masih panjang karirnya. Untuk apa kalian meminta mereka untuk segera menikah, terlebih besok pagi acara pernikahannya. Menikahi itu butuh proses dan persiapan. Atau ... jangan-jangan mereka sudah menanam sebelum waktunya?" tebak ibu Karina.


"Ibu ngomong apa sih?" tegur suaminya.


"Coba Ayah pikirkan baik-baik. Jangan-jangan Karina hamil, Yah."


Disaat itu juga kedua orang tua Fio terkejut dengan kata yang tersebutkan. Apakah benar jika Karina telah hamil.


"Tidak mungkin, Bu. Anak saya gak mungkin melakukan pembobolan sebelum waktunya," sanggah ibu Fio.


"Kalian pikir anakku nakal yang berkeliaran dengan pria lain. Hanya Daniel yang sering datang ke rumah ini. Jikalau benar Karina hamil, itu jelas anak Daniel," kata ibu Karina dengan keras.

__ADS_1


"Ada baiknya kita buktikan saja apakah Karina memang sudah hamil. Bapak sendiri tidak yakin jika ini murni keinginan Fio tanpa ada sebabnya," celoteh pak Mail.


"Jadi kalau memang benar bagaimana?" sahut ibu Karina.


"Ya Daniel harus bertanggung jawab, Bu," timpal suaminya.


Ternyata kedatangan orang tau sang kekasih malah membongkar rahasia yang sedang ditutupi. Orang tua mana yang tidak akan merasa curiga jika sang anak akan menikah diusia dini, terlebih masih sama-sama duduk di bangku sekolah. Karina yang berada kamarnya, terus memantau apa yang sedang dibicarakan oleh para orang tua dengan cara menyelipkan ponsel di bawah meja.


Tak terlewatkan sedikitpun percakapan mereka yang akan membuktikan tentang kebenarannya. Saat ini Karina dilanda kegundahannya. Dia terus memikirkan bagaimana cara untuk tetap untuk menyembunyikan kebenarannya. "Mbak Fio," gumam Karina yang langsung mengambil ponselnya. Satu-satunya harapan Karina adalah Fio.


"Ada apa?" tanya Sakya saat melihat Fio membeku setelah membaca pesan dari Karina.


"Karin ingin menukar tes kehamilan yang akan dilakukan oleh orang tuanya, Pak."


"Ya sudah tinggal tes aja apa susahnya," balas Sakya tanpa ekspresi. Memang sudah tanggung jawab Fio, karena Fio sudah sanggup untuk membantu atas hubungan Daniel dan Karina.

__ADS_1


"Lagian pak Sakya mau nikah kayak mau BAB, disitu terasa disitu keluar. Kasih waktu napa, Pak? Ini pernikahan seumur hidup lho. Gak ingin dibuat lebih berkesan gitu?" protes Fio.


"Lha ... kita kan nikahnya disini. Yang mau nikah kan aku, ya suka-suka aku lah."


"Tapi gak harus dadakan dong, Pak. Setidaknya kasih waktu gitu?"


"Bukankah kamu sendiri yang bilang kapanpun dan dimanapun, asalkan menikah denganku itu tidak masalah?" Sakya membalikkan ucapan Fio.


"Iya, Pak. Tapi ... ah, sudahlah! Berdebat dengan pak Sakya tidak akan ada habisnya, karena pak Sakya banyak jawabannya," kesal Fio dengan bibir yang sudah mengerucut.


Disampingnya, Sakya hanya menaikkan garis bibirnya. "Kamu sendiri yang minta dinikahi, udah mau dinikahi malah protes. Ya sudah kalau tidak mau juga tidak apa-apa. Aku cari yang lain saja."


Fio segera mendelik dan berteriak. "Jangan Pak! Iya aku nurut mau dinikahin kapan aja, asal pak Sakya yang nikahi aku."


Tanpa sengaja, mata Sakya melihat sebuah gerakan jari Nesya, dengan segera Sakya berlari menghampirinya. "Ines," katanya sambil memengagi tangan anaknya.

__ADS_1


Fio yang terkejut juga ikut berlari. "Ines," gumam Fio. Tanpa pikir panjang lagi, Fio segera memanggil dokter untuk segera memeriksa keadaan Nesya.


__ADS_2