Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Mengejar Cinta Pak Duda 43


__ADS_3

Sakya merasa sangat kecewa dengan sikap yang sangat lancang kepada. Minta apa jadinya jika Sakya benar-benar sampai minum air yang diberikan oleh Luna. Mungkin saat setelah itu Luna akan meminta pertanggungjawabannya.


"Mas Sakya, aku minta maaf."


Meskipun berulang kali Luna memohon meminta maaf kepada Sakya, tetapi duda itu masih tak bergeming. Hatinya benar-benar kecewa.


"Keluar!"


"Tapi Mas ... "


"Aku bilang keluar, keluar!" seru Sakya.


Dengan rasa malu bercampur dengan rasa kecewa, Luna keluar dari kamar Sakya. Luna tidak tahu mengapa obat yang telah diberikan kepada Sakya tidak menimbulkan reaksi apa-apa. Seharusnya saat ini Sakya sudah tak sadarkan diri, tetapi apa kenyataannya. Sakya hanya pura-pura tidur saja. "Sial! mengapa obat itu tidak bereaksi? Apakah aku telah tertipu dengan penjualnya? Tidak mungkin!"


Luna kembali ke kamarnya. Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan besok saat bertemu Sakya. Sungguh sangat malu.


Didalam kamar Nesya, Fio tidak bisa memejamkan matanya. Pikiran masih memikirkan obat apa yang dimasukkan ke dalam minuman Sakya. Apakah kedatangan Luna ke rumah ini ada tujuan lain? Jika itu benar, maka Fio harus lebih berhati-hati.


***


Nesya mengerjap melihat Fio yang ada disamping. Dengan heran Nesya membangunkan Fio.


"Aunty, bangun! Kenapa Aunty tidur disini?"


Fio mengerjap pelan. Cahaya keemasan sudah menembus kaca, itu artinya hari sudah pagi. Fio pun menguap sebelum dia melihat jarum jam yang ada di dinding.

__ADS_1


"Ines udah bangun?"


"Nanti ditanya malah ganti nanya!"


Fio hanya nyengir, sebelum akhirnya dia turun dari ranjang untuk memandikan Nesya.


"Aunty belum jawab pertanyaan dari Ines! kenapa Aldi bisa tidur di kamar Ines?"


"Tadi malam Aunty takut. Jadi aunty ke kamar Ines. Mau ke kamar ayahnya Ines takut khilaf," ujar Fio.


Nesya yang sedang memakai seragam sekolah hanya ber o ria.


Di lantai bawah, terlihat indah sedang menyiapkan sarapan pagi. Namun, belum ada tanda-tanda Sakya berada di meja makan. biasanya duda itu akan lebih dahulu turun ketimbang Fio dan Nesya.


"Apakah aku sudah melupakan sesuatu? Mengapa pak Sakya belum juga turun?" batin Fio.


"Nesya mau kan Tante antar ke sekolah?"


Nesya tak menjawab. Matanya Malah menatap Fio yang baru saja membuat sereal untuk sarapan.


"Ines gak mau! Ines maunya diantar sama aunty aja." Kini giliran mata Luna menatap perempuan yang sudah menjadi penghalangnya. Seharusnya Luna menyingkirkan Fio. Semakin lama Fio berada dalam keluarga Sakya maka akan semakin sulit baginya untuk menaklukkan hati Sakya.


"Biarkan hari ini Aunty Fio beristirahat. Tante bisa kok nungguin kamu di sekolahan," bujuk Luna lembut.


"Aunty gak apa-apa kok, Nes. Gara-gara tadi malam gak bisa tidur aunty ngantuk berat. Kamu gak papa kan diantarin Tante Luna?"

__ADS_1


Bocah itu mengangguk pelan, membuat hati Luna semakin bahagia. Setidaknya saat ini dia bisa mengambil hati anaknya Sakya terlebih dahulu, sebelum mengambil hati ayahnya.


"Ya udah kita berangkat ya." Luna sudah siap untuk berangkat. Namun, Nesya yang sudah biasa dipakaikan sedapatnya kini masih terdiam di teras rumahnya.


" Lho kok disini?" tanya Luna.


Mata Nesya segera memberikan isyarat jika sepatu belum terpasang. "Aduh, kok lama sih?" gerutu Luna yang sambil membungkuk untuk memasangkan sepatutnya Nesya.


Sepeninggal Luna dan Nesya, mata Fio melihat Sakya yang menuruni anak tangga dengan malas. Sepertinya Sakya sedang tidak baik-baik saja.


"Pak Sakya kenapa?" tanya Fio.


"Kamu benar, Fi. Luna sedang merencanakan sesuatu," kata Sakya sambil menuangkan air minum. "Maaf aku tak mempercayaimu," lanjutnya lagi.


"Oh, syukurlah" datar Fio. "Pak Sakya gak ke kantor?" tanya Fio selanjutnya.


"Aku libur." Sakya melihat makanan telah tersaji diatas meja. "kamu yang masak?"


"Sejak kapan aku bisa masak? Ini semua Mbak Luna yang masak. Hebat dia kan, istri idaman sekali." Mata melirik kearah Sakya.


"Idaman apanya? Memangnya kalau bisa masak terus bisa jadi istri idaman gitu? ya sudah, kalau gitu kamu belajar masak sana biar bisa jadi istri idaman."


****


Halo-halo, teh ijo cuma mau bilang, jangan lupa mampir ke Novel baru teh ijo yang judulnya Menikahi Ketua Osis.

__ADS_1



__ADS_2