
Semakin hari Sakya malah merasa tidak nyaman dengan kehadiran sang ibu mertua yang dianggap terlalu ikut campur dalam kehidupannya saat ini. Sakya sangat tidak suka saat ibu mertuanya itu malah menyuruh Sakya untuk mencari ibu pengganti untuk Nesya dengan alasan Nesya masih sangat membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu. Apalagi saat ibu mertuanya menggadang-gadangkan Luna sebagai calon ibu untuk Nesya. Bagi Sakya, Luna hanyalah teman biasa, tidak lebih. Meskipun hubungan keduanya cukup baik.
"Tolong pikiran dengan baik. Semua ini demi kebaikan Nesya."
Sakya mendengus pelan. "Tolong jangan paksa Sakya, Bu."
"Tapi ini demi kebaikan Nesya!"
"Sudahlah, Bu. Percuma saja jika ibu terus memaksa ku untuk mencari pengganti Sarah, karena aku masih setia dengan cinta kami."
"Sadar Sakya! Sarah udah meninggal. Kamu dan Nesya harus melanjutkan hidup kalian!" teriak Nadine.
Sakya tak memperdulikan lagi apa yang dikatakan oleh ibu mertuamu. Baginya saat ini hidup bersama dengan Nesya sudah cukup baginya. Banyak yang Sakya pikiran, terlebih dia adalah seorang duda beranak satu. Apalagi untuk mencari wanita yang benar-benar tulus menerima anaknya tidaklah mudah. Banyak kenyataan yang membuatnya belum siap untuk mencari ibu untuk Nesya. Wanita zaman sekarang hanya akan manis dibibir saja.
"Pak Sakya tunggu!" teriak Fio yang setengah berlari untuk mengejar Sakya.
"Ada apa?" Sakya menoleh.
__ADS_1
"Aku sama Fio ikut pak Sakya ya ke sekolahnya."
Tanpa kata, Sakya segera membuka pintu mobilnya. "Cepat masuk!"
Fio dan Nesya tidak menyia-nyiakan kesempatan dan segera masuk ke mobil. Sepasang mata yang melihat kedekatan Fio bersama dengan Nesya dan Sakya membuat hatinya seperti sedang disiram air panas.
"Bagaimanapun caranya, Sakya harus menikahi Luna. Kurang apalagi coba Luna? Udah kaya, mendiri lagi. Gak sebanding dengan perempuan itu." Nadine menghentakkan kakinya kemudian kembali ke kamarnya.
Sudah hampir satu minggu Nadine berada di rumah Sakya, tetapi hingga saat ini dia belum bisa meyakinkan Sakya untuk menikahi Luna. Semua itu karena Fio. Sakya selalu mengatakan jika saat ini dia mempercayakan Nesya sepenuhnya kepada Fio.
"Awas saja kalian. Lihat saja aku tidak akan menyerahkan begitu saja."
"Ayah mau kemana?" tanya Nesya saat melihat ayahnya sudah berjalan lebih awal.
"Ayah hanya ingin melihat bagaimana kamu belajar. Jangan-jangan laporan aunty Fio itu bohong," kata Sakya.
"Nesya anak yang pandai dan rajin. Tidak mungkin laporan aunty salah. Iya 'kan Aunty?" Nesya meminta pembelaan kepada Fio.
__ADS_1
"Jelas tidak dong. Kan bohong itu dosa," timpal Fio yang membuat Nesya merasa puas.
"Baguslah kalau anak ayah memang serius belajarnya. Tapi hari ini ayah ingin melihat bagaimana anak ayah belajarnya."
Bukan hanya Nesya saja yang terkejut dengan pengakuan Sakya, tetapi Fio juga sangat terkejut dan langsung bertanya. "Pak Sakya gak kerja?"
Sakya tak langsung menjawab pertanyaan Fio. Lelaki itu malah menggandeng tangan Nesya untuk masuk kedalam kelas dan membiarkan Fio mematung tanpa kata.
"Yeee ... ayah mau nungguin Ines," seru Nesya dengan penuh bahagia. Padahal sebelumnya Nesya tak pernah mendapatkan perhatian lebih dari ayahnya. Biasanya dia hanya akan menggunakan Fio.
"Aunty, ayo!" teriak Nesya yang melihat Fio masih membantu.
Fio segera tersadar dan langsung mengikuti langkah Sakya yang sedang mengantarkan Nesya ke dalam kelas.
Banyak pasang mata yang melihat Sakya tanpa kedip, terlebih para ibu-ibu yang sedang berada di dalam kelas. Selama ini Nesya menyembunyikan ayahnya, begitulah komentar salah seorang ibu-ibu.
"Wah ... ayah Ines masih seger ya?"
__ADS_1
"Kenapa gak pernah dibawa ke sekolah sih, Nesy, Kalau seperti ini namanya gak adil."
"Lha ... itu kan ayah Ines. Suka -Suka Ines dong!"