
Tari tiba di kampus. Begitu mengantar Una ke depan kelasnya, ia langsung kembali masuk ke dalam mobil dan menyeru Pak Jaka untuk mengantarnya ke kampus.
Wanita itu menatap jam di pergelangan tanganya. Mata bulatnya mendelik lebar, ia sudah terlambat. Tari mempercepat langkah pendeknya dengan berlari.
Ia menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya, bulir asin membasahi wajahnya yang berlari dengan sekuat tenaga. Hingga akhirnya Tari tiba di depan kelas.
"Kalian harus disiplin! Jangan sibuk dan kecentilan dengan lawan jenis," ucap Buk Cindy, menyindir Tari yang baru tiba dan berdiri di ambang pintu masuk.
Tari mengetuk pintu dengan perasaan takut, jantung wanita itu berdetak kala Buk Cindy meliriknya dengan tatapan yang tajam. Ia pikir ini pasti karena dirinya yang sudah terlambat 15 menit lamanya.
"Kamu baru datang? Sudah jam berapa ini?" tanya Buk Cindy, berpura-pura tidak mengetahui jika Tari sudah berdiri di situ sejak dirinya menyindir mahasiswanya itu.
"Maaf, Buk. Saya terlambat," ucap Tari menundukkan kepalanya.
Kedua sahabat Tari hanya bisa menatap wanita bertubuh mungil itu dengan tatapan kasihan.
"Saya tidak suka dengan orang yang tidak disiplin, terlambat lebih dari 5 menit tidak saya izinkan untuk mengikuti perkuliahan pada mata kuliah saya hari ini!" tegas Buk Cindy.
Tari menundukkan kepalanya. Ia membalik badan dan pergi dari tempat itu, wanita bertubuh mungil itu melangkahkan kakinya dengan gontai ke kantin fakultas tata boga.
Ia duduk seorang diri di kantin, teh manis dingin menemaninya yang sedang bad mood. Jarinya tak berhenti mengaduk minuman dengan sedotan.
Cting ....
Sebuah notif pesan masuk ke ponsel genggam wanita itu. Ia membuka aplikasi berlogo hijau yang menampilkan pesan di grupnya.
Mata Tari menyipit, foto-fotonya ketika bersama Pak Tama tersebar ke grup chat kelas mereka.
Sebuah pesan masuk lagi, kali ini dari grupnya dengan Raihan dan Nadia.
✉ "Tari, lo jangan khawatir. Gue sama Nadia keluar sekarang." Sebuah pesan dari Raihan membuat hati Tari terenyuh.
Cting ....
✉ "Sekarang lo ada di mana? Kita ke sana sekarang. Ingat, lo jangan ke mana-mana. Tunggu kita di sana!" Mata Tari mulai berkaca-kaca. Melihat pesan dari Nadia.
Ia mulai mengetikkan balasan pesan ke pada kedua sahabatnya.
✉ "Gue gak apa bestie. Udah kalian dengerin aja Buk Cindy menjelaskan. Gue lagi di kantin, nikmati teh manis terenak di dunia. Pasti sekarang kalian iri kan, ha-ha-ha😂😋 dah ah, gue mau nikmati batagor yang baru sampai nih."
Di kelas, Raihan dan Nadia saling bertukar pandang. Mereka berbicara tanpa suara, mereka tau persis seperti apa Tari yang tidak suka menunjukkan kesedihannya.
"Hei yang di ujung! Mau menyusul teman kalian keluar?!" tegur Buk Cindy.
Raihan dan Nadia berdiri dari duduknya, mereka menyandangkan tas ke pundak masing-masing.
"Ibuk tau aja," sahut Raihan dengan tatapan mengejek.
__ADS_1
"Silahkan keluar! Lihat nilai kalian di akhir nanti," geram Buk Cindy.
Raihan dan Tari tak gentar akan ancaman dari dosen fusion food mereka. Kedua sahabat Tari itu tetap melangkahkan kaki keluar.
"Gue harus kerja lebih keras nih, jaga-jaga kalau nambah semester," ucap Nadia, mereka berjalan menuju kantin.
"Kayak sahabat lo yang ganteng ini kere aja. Lo tenang aja, ada babang Raihan di sini." Raihan merangkul bahu sahabatnya.
Bibir Nadia tersenyum simpul mendengar jawaban sahabatnya.
"Enak ya nikmati batagor exra air mata? Hum." Sindir Raihan dan Nadia yang berdiri di belakang Tari.
Tubuh Tari tersentak kaget, ia buru-buru mengusap air matanya yang sedari tadi mengalir ke dalam piring batagor yang ia makan.
"Eh kalian hehehe. Kok ada di sini? Bukannya masih ada 2 jam lagi ya." Tari memasang senyum palsunya.
"Gak usah senyum begitu deh, jijik gue lihatnya!" Tangan Raihan mentoyor kepala Tari, sahabatnya.
Kedua sahabat Tari mengambil tempat duduk masing-masing. Nadia memilih duduk di sebelah Tari, sementara Raihan duduk di depan Tari.
"Sakit tau!" protes Tari, mengusap keningnya yang terdorong ke belakang.
"Kita sahabat lo Tari, kenapa sih masang topeng bahagia? Jangan coba bohongin kita." Nadia memiringkan tubuh Tari agar melihat ke arahnya.
Kepala Tari tertunduk. "Gue gak mau nyusahin kalian," lirih Tari.
"Hiks, kenapa mereka nuduh gue kayak gitu? Gue bukan jalaΠg, huhh." Tangis Tari tumpah di pundak Nadia.
Tangan Nadia naik turun mengusap punggung Tari. Raihan ikut menenangkan Tari dengan mengusap punggung tangan sahabatnya.
Untung saja kantin masih sepi, hanya ada mereka di sana. Tari meluapkan segala kesedihannya. Ia teringat akan foto dirinya yang dilingkari tanda merah dan bertuliskan umpatan serta hinaan dari teman-temannya. Parahnya lagi, foto-foto itu tersebar ke seluruh grup kelas di kampusnya.
Hanya fotonya yang terpampang jelas, sedangkan wajah Pak Tama ditutup menggunakan stiker.
"Nadia, hiks. Hati gue rasanya sesak, kenapa sih gue jadi cengeng begini." Tari melepas pelukannya. Ia mengusap air mata yang tidak mau berhenti mengalir.
"Nih, elap ingus lo. Gue geli lihatnya." Raihan menyodorkan sapu tangannya ke pada Tari.
Wanita itu menerima uluran sapu tangan dari sahabatnya.
Srot ... srot ....
"Nanti gue balikin ya," ucap Tari dengan sesenggukkan.
Mata Raihan menatap geli ke arah sapu tangannya yang sudah ternodai oleh es teler ala Tari. "Untuk lo aja, di rumah gue masih banyak. Dipakai setahun juga gak akan habis."
Nadia memutar bola matanya malas. Lagi-lagi sifat angkuh sahabat prianya itu keluar.
__ADS_1
"Thanks," ucap Tari.
***
Tama menatap layar ponselnya dengan mata berkilat marah. Ia melihat pesan yang berisikan fotonya serta Tari. Wajahnya tidak terlihat. Tapi, wajah istrinya begitu terpampang jelas.
Ia segera meninggalkan resto, dan segera pergi ke kampus. Ia takut sang istri mengalami hal buruk.
Sementara di kampus. Tari dan kedua sahabatnya hendak pergi ke kelas, sebab mata kuliah kedua akan segera di mulai.
Ketiganya berjalan beriringan. Tari berada di tengah-tengah sahabatnya.
"Aw!" pekik Tari kesakitan.
Tiba-tiba seseorang menarik tubuhnya dari belakang hingga ia jatuh terduduk.
"Tari!" teriak Raihan dan Tari.
"Apa-apaan kalian?!" Berang Raihan, menatap nyalang ke arah dua wanita yang menarik Tari.
"Wanita murahan sepertinya memang pantas diperlakukan seperti itu, perusak nama kampus." Kedua wanita songong itu bersedekap dada tanpa rasa bersalah.
"Jaga mulut lo!" Nadia mendorong salah satu wanita yang bicara seenak jidatnya.
Wanita itu merasa tidak senang dengan perlakuan Nadia, ia balas mendorong balik. Sementara teman wanita yang satunya juga ikut-ikutan mendorong.
Raihan merasa marah melihat Nadia diperlakukan seperti itu. Ia memasang badan, dengan menarik Nadia ke belakang tubuhnya.
Semua orang mulai berkumpul, menjadikan pertengkaran sebagai tontonan gratis. Tari perlahan berdiri, ia berusaha melerai.
"He wanita jalaΠg!" Wanita itu mendorong Tari dengan sekuat tenaga hingga Tari terpental dan kepalanya terhantuk dinding.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN!" Suara Tama menggelegar bagai petir yang siap menyambar siapa saja.
`
`
`
Bersambung ....
Minal 'Aidin wal-Faizin readers yang othor kodok sayangi🙏
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menunaikan💕
Maaf keun othor yang rajin bolong up ini😭🙏 jangan bosan baca kisah Tari dalam mengejar cinta suaminya ya❤
__ADS_1
❤Lope sekebon untuk kalian semua❤