Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Hanya Sekadar Ibu Sambung dan Pelampiasan


__ADS_3

Tama melirik ke arah ponsel yang baru saja menyala. "Yah ... lowbatt," keluh Tari.


"Charger saja ketika sudah sampai di rumah," ucap Tama.


Kepala Tari mengangguk, ia memegang ponsel dan album foto sepanjang perjalanan menuju rumah.


Setelah menempuh waktu beberapa menit, akhirnya mereka tiba di kediaman Batara. Tama menggandeng tangan sang istri dengan mesra.


Begitu masuk ke dalam rumah, Tari sudah disambut dengan kehangatan Mama Widi. Wanita paruh baya itu mengajak Tari untuk duduk di meja makan. Namun, dengan sopan Tari menolak ajakan mama mertuanya.


"Tari menyusul saja ya, Ma." Wanita itu berucap dengan bibir pucatnya.


"Sayang, kamu sakit?" tanya Mama Widi khawatir.


Kepala Tari menggeleng, ia mendongakkan kepala untuk menatap wajah sang suami. "Tari ke atas dulu, bersih-bersih sebentar," ucap Tari.


"Mau kuantar?"


Lagi dan lagi kepala wanita itu menggeleng. Tama pun membiarkan istrinya naik ke atas untuk membersihkan diri. Tari menapakkan kakinya di atas anak tangga satu persatu hingga tibalah dirinya di depan pintu kamarnya.


Wanita itu membuka pintu dengan perlahan. Saat ia masuk, dirinya langsung mengisi daya ponsel yang diberikan oleh Ardi tadi.


Setelahnya, Tari berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia menanggalkan pakainnya satu persatu hingga tubuhnya tidak tertutup oleh apapun kecuali busa dari sabun yang ia pakai.


Tari mengguyur kepalanya di bawah shower yang menyala. Pikiran wanita itu benar-benar kacau saat ini, tapi ia harus mencoba ikhlas. Bukankah semua yang manusia miliki di dunia ini adalah titipan? Termasuk ayahnya yang merupakan sosok pria berpunggung kuat.


Handuk putih membelit tubuh mungil Tari yang sudah bersih dan wangi. Wanita itu masuk ke dalam walk in closet, ia mengambil pakaian yang nyaman digunakan untuk tidur.


Saat sudah selesai, Tari jadi teringat akan album yang ia bawa dari rumah ayahnya. "Aku letakkan di sini saja, tempat itu sepertinya jarang dibuka." Tari melihat ke sudut tempat yang jarang dan hampir tak pernah ia lihat Tama menyentuhnya.


Tari membuka lemari yang hanya diisi dengan tumpukkan buku. Wanita itu mengeluarkan beberapa buku yang ada di lemari itu agar album miliknya berada di rak bagian tengah.


Mata Tari menyipit, di balik buku itu terdapat sebuah tombol yang Tari tak tau apa fungsinya. Karena penasaran, jari telunjuk wanita itu menekan tombol berwarna merah yang ada di lemari.


Cit ....


Mata Tari terbelalak lebar, ada ruang rahasia di balik lemari kayu ini. Kaki Tari melangkah masuk, tiba-tiba tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga.

__ADS_1


Ia berpegangan pada single sofa berwarna coklat yang tak jauh dari dirinya. Tari menatap nanar ke arah seluruh dinding yang ada di dalam ruang rahasia ini.


Tangan Tari memegang dadanya yang terasa seperti teriris dengan pisau tajam. Mata wanita itu mulai berkaca.


Tempat ini seperti wisata masa lalunya Tama. Penciuman Tari yang belakangan ini cukup sensitif dapat mencium aroma parfum yang baru dibeli suaminya 2 minggu yang lalu.


Itu artinya Tama masih sering masuk ke tempat ini. Tari menyentuh sebuah foto yang di dalamnya terdapat gambar wajah suaminya dengan Manda saat SMA.


Tari berpindah ke bingkai foto selanjutnya, dapat ia lihat senyum bahagia Tama bersama Manda yang perutnya terlihat buncit di foto itu.


Tiba-tiba tanpa sadar Tari mengelus perutnya sendiri. Ia tersenyum miris, di foto itu suaminya terlihat sedang memegangi perut buncit Manda.


"Tari tau sekarang, dulu saat pertama aku tinggal di sini Pak Tama muncul tiba-tiba. Berarti Pak Tama baru dari tempat ini."


Tari tak lagi sanggup berada lama-lama di tempat yang dindingnya penuh dengan wajah Manda dan Tama.


Wanita itu segera keluar dengan hatinya yang semakin terluka. Tari menuntup tempat gudang masa lalu suaminya yang masih tersimpan rapi.


Ia berusaha mengotrol wajahnya agar terlihat baik-baik saja, dirinya akan mencoba bertanya dengan Tama nanti setelah acara makan malam selesai. Ia mencoba percaya kepada suaminya itu.


Baru saja tangan Tari hampir menekan handle pintu, namun begitu teringat akan ponsel yang ia duga milik ayahnya ... Tari segera berbalik dan menghidupkan ponsel yang masih dalam mode mengisi daya.


Jari Tari bergerak mengusap layar ponsel itu ke kanan. Dan entah kenapa Tari menekan ikon daftar rekaman suara. Dan muncul lah satu folder yang berjudulkan 'penting'.


Tari membuka folder itu, dan yang ia temukan hanya satu file rekaman suara. Tanpa berlama-lama, Tari segera meng-klick tombol play.


Dan sebuah suara yang sangat ia kenali mulai terdengar. Itu adalah suara Mami Sun dan suaminya. Air mata Tari mulai mengalir begitu sebuah kalimat yang amat menyakitkan terdengar dari rekaman tersebut.


"Bukan seperti itu, Mi. Tama melakukan semua ini demi menahannya untuk tetap berada di sini."


Air mata Tari mengalir dengan deras. Keberadaanya di sini hanya sebagai ibu sambung Una serta pelampiasan nafsu suaminya. Tidak lebih. Itulah yang ada di otak Tarin sekarang.


"Jadi ini alasan kenapa aku harus meminum pil-pil sialan itu huahuhu ...."


"Kamu tidak menginginkan anak ini, aku hanya dimanfaatkan. Ayahhhh ... apa yang harus Tari lakukan?" Kepala wanita itu menengadah ke atas langit-langit kamar.


Ia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Cobaan macam apa ini? Kenapa skenario yang ia jalani begitu rumit.

__ADS_1


Tari mematikan ponsel itu kembali, sudah cukup hatinya dilukai. Ia tak ingin lagi merasakan perih, tak ingin lagi dimanfaatkan.


"Tari kamu tidak sendiri, ada dia ... jangan bersedih hiks," ucap Tari dengan terisak.


Ia menepuk pipinya berulang kali untuk menyadarkan diri bahwa ia tidak sendiri. Ada sesuatu yang sedang berkembang di dalam rahimnya.


"Mama janji tidak akan melepaskan kamu nak. Kita pasti bisa melalui ini semua." Tari mengusap perutnya.


Cklek!


Tiba-tiba pintu terbuka, rupanya Tama yang datang. Pria itu mendekat ke arah istrinya yang sedang duduk di pinggiran ranjang.


"Ikhlaskan ayah, Tari. Kamu bisa sakit jika terus-terusan menangis," ucap Tama.


Tangan pria itu mengusap air yang mengalir deras dari susut mata istrinya. Namun, saat ibu jari Tama ingin kembali mengusap sisi yang lainnya, Tari menepisnya dengan segera.


"Mengikhlaskan tak semudah itu. Mungkin mulut bisa berkata ikhlas, namun isi hatinya siapa yang tau? Ada yang ditinggalkan namun masih setia memiliki semua kenangan— ah sudahlah."


Tama mengernyit bingung ke mana arah ucapan istrinya. Namun, pria itu memakluminya. Mengingat sang istri baru ditinggalkan oleh Pak Wahyu.


"Ayo kita makan malam," ajak Tama dengan lembut.


"Duluan aja," sahut Tari ketus ditambah dengan suaranya yang serak.


"Apa mau kuambilkan saja makanannya ke sini?" tanya Tama.


"Gak usah!" tolak Tari mentah-mentah.


"Huh, baiklah. Kamu istrihat dulu saja, aku harus turun ke bawah. Una mencari Mamanya yang sekarang sedang menangis."


Tari tak menghiraukan ucapan suaminya. Ketika Tama ingin berdiri, pria itu mencondongkan tubuhnya untuk mengecup kening sang istri. Namun, belum sempat terealiasikan ... Tari lebih dulu menghindar dengan membuang muka ke samping.


Tama menghembuskan napasnya. Mungkin sang istri sedang butuh waktu untuk sendiri, pikir pria itu. Dan akhirnya, pria itu keluar untuk menemui putrinya yang sedang menantikan kehadiran Tari di meja makan.


`


`

__ADS_1


`


Bersambung ....


__ADS_2