Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Menjadi Wanita


__ADS_3

Matahari sudah menyembul keluar, menggantikan peran bulan dan bintang yang selalu berjaga malam.


Nyamannya ranjang membuat sepasang suami istri yang sedang bergelung di bawah selimut enggan terjaga. Mungkin tak hanya karena ranjangnya. Namun, aktvitas melepas dahaga lah yang membuat Tari dan Tama menjadi begitu malas untuk membuka mata.


Tubuh mereka masih saling menempel bak prangko. Yang mana Tari menjadikan dad4 Tama sebagai bantalan kepalanya.


Mata pria itu mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya asing yang masuk. Tama merasa tubuhnya terasa berat dan sedikit basah, ia melirik ke bawah—tempat di mana Tari menumpahkan ilernya.


Muncul rasa geli pada diri pria itu. 'Bocah sableng! Jorok sekali dirimu!' batin Tama mengeluh.


Mata pria itu mulai menelisik ke seluruh wajah lucu istrinya. Tiba-tiba, kejadian tadi malam kembali menghiasi isi kepala Tama.


Betapa mengg4irahkan wajah istri yang selalu ia panggil bocah ketika mendapatkan apa yang mereka cari dalam aktivitas ranjang itu.


Setiap kali suara-suara parau milik Tari keluar, pada saat itu pula kepunyaan Tama bangkit dengan gagah.


"Sshiit!!!" umpat Tama.


Hanya membayangkan aktivitas tadi malam saja sudah membuat miliknya kembali aktif dan siap untuk bertempur kembali.


Tari menggeliat, merasakan sesuatu menyentuh kulit pahanya. "Hoamm .... Apa ini?"


Tangan gadis itu meraba-raba sesuatu yang mengganjal dengan mata tertutup. Begitu menemukan benda itu, tangan Tari sedikit menekan dengan kepal tangannya.


"Sttt, Bocah sableng! Kau yang membangunkan milikku, maka kau juga yang harus menidurkannya kembali!"


Sedetik kemudian, Tari sudah berada di bawah kungkungan suaminya. Mata gadis yang berubah status menjadi wanita itu langsung terbuka lebar.


Tama kembali menyentuh tubuh mungil Sang Istri dengan penuh rasa membara. Pria itu tidak menghiraukan keluhan Tari, ketika tangan kokohnya membuka lebar akses untuk ia masuk.


"Auh, hisss ... perih tau!" Tari memundurkan tubuhnya demi menghindari suami yang tampaknya mulai ketagihan dengan aset serba mini malis yang ia miliki.


Tama menahan tubuh Tari dengan kedua tangannya. Pria itu melepaskan sarung bantal dan mengikatkannya pada pergelangan tangan Tari.


"Diam dan nikmati!" serunya, seringai nakal Tama terbit, membuat tubuh wanita itu bergidik ngeri.


Dan kejadian tadi malam pun terulang kembali. Tama kembali menggagahi istrinya dengan ganas, sedangkan Tari hanya bisa menjerit nikmat merasakan setiap sentuhan dan tekanan yang suaminya berikan.


"I want more," ucap Tama ketika sudah mendapatkan pelepasannya.


Dan pria itu kembali melakukannya lagi sampai waktu menunjukkan jam makan siang.

__ADS_1


"Aku akan mengambilkan makan siang ke kamar. Tunggulah di sini," ujar Tama sebelum bangkit dari posisi berbaringnya.


"Ikut," sahut Tari dengan suara yang lemah.


Baru saja ingin mendudukkan dirinya, namun rasa mengganjal dan sakit menghalangi pergerakkan wanita itu.


"Aduh ... duh, s-sakit. Hiks, Pak Tama sih kebanyakan. Hiks ... ininya Tari jadi perihkan, huaaa." wanita itu mengadu dengan lelehan air mata yang membanjiri wajahnya.


"Ini juga, tangan Tari diiket segala! Kayak kambing jadinya. Lepasin, hiks ...."


Mendengar wanita yang sudah ia gagahi menangis, Pria itu membuka ikatan pada pergelangan tangan Sang Istri.


Begitu kain yang mengikat pergelangan Tari terlepas. Tama segera menyelipkan tangannya di antara kaki dan ceruk leher istrinya.


Tari langsung memekik spontan. "Lepas!!!"


"Berendam dengan air hangat akan meredakan rasa perih dan nyeri pada—" Tama menunjuk area privasi Tari dengan gerakkan matanya.


"Ih, dasar singa mesum!" pekik Tari, menutupi asetnya dengan menggunakan tangan.


Tama menggendong Sang Istri ala bridal style. Ia menatap wajah Tari yang memerah seperti buah tomat. 'Bisa malu juga ternyata bocah ini,' ujar Pria itu dalam hati.


Mata Tari terkunci pada sesuatu yang menggantung di antara paha suaminya. Wanita itu membandingkan bentuk belalai gajah Sang Suami saat tadi dan sekarang. Lumayan berbeda, pikirnya.


"Aku akan datang lagi ke sini setelah mengambil makan siang. Sorenya kita ke rumah sakit," ucap Tama, buka suara.


"Ke rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Tari.


"Tidak ada yang sakit, tapi kita perlu melakukan sesuatu. Aku sudah menghubungi kenalanku di rumah sakit, dia akan memberikan pelayanan terbaik."


Jawaban dari Tama hanya membuat wanita itu semakin kebingungan. Tapi, ia tetap menganggukkan kepalanya seolah-olah mengerti.


Setelah mengucapkan hal itu, Tama keluar dari kamar mandi tanpa menggunakan sehelai benang pun. Sehingga Tari yang melihat benda suaminya yang bergerak hanya bisa menatap dengan mulut tercengang.


Tari menyenderkan tubuhnya, ia mengusap perut rata miliknya dengan tersenyum manis.


"Semoga kamu segera hadir ya," ucap Tari dengan membayangkan rumah tangga yang bahagia bersama anak-anak serta suaminya.


Sudah 20 menit Tari berendam di dalam bathtub. Benar yang dikatakan oleh suaminya, bahwa air hangat mampu menenangkat otot-otot tubuh yang terkejut.


"Sudah selesai?" tanya Tama yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Udah," sahut Tari.


Tama membantu Tari untuk keluar dari bathtub, dan memakaikan handuk kimono ke tubuh istrinya. Setelah selesai, barulah ia menggendong tubuh Sang Istri seperti tadi.


"My lion," panggil Tari yang memperhatikan wajah Tama saat menggendong dirinya.


"Hmmm?"


"Kalau Tari hamil bagaimana?"


Begitu pertanyaan meluncur dari mulut Tari, wajah Tama langsung berubah kaku.


"Aku akan mengambilkan pakaianmu, baru kita makan bersama di sini," ucap Tama begitu meletakkan Tari di atas ranjang, tanpa menjawab pertanyaan dari istrinya.


Dalam hati Tari bertanya-tanya kenapa suaminya tidak menjawab pertanyaan se-simple itu. Tapi ia langsung menepis pikiran buruk yang mulai merasuki otaknya.


"Tari, jangan berpikiran buruk ... okey! Lihat! Hari ini Pak Tama memperhatikan dan memperlakukan mu dengan baik," ucap Tari bermonolog.


Tak butuh waktu lama, Tama sudah kembali dengan pakaian Sang istri yang berada ditangannya. Pria itu menyodorkan beberapa helai kain ke pada Tari.


"Ini. Bisa pakai sendiri atau perlu bantuan?" tanya Tama dengan nada datar.


"B-bisa sendiri kok," jawab Tari tersipu malu.


Sambil menunggu Sang istri mengenakan pakaiannya, Tama mengambil nampan berisi makanan yang berada di atas nakas.


Pria itu jadi teringat akan ucapan mamanya, saat mengambil makan siang untuk dinikmati bersama istrinya di kamar.


-Flashback on-


"Wah ... anak Mama jam segini baru turun, Tari nya mana?" tanya Mama dengan wajah menggoda.


"Mama lebih tahu jawabannya," sahut Tama.


"Ingat, Nak. Terimalah Tari sebagai masa depan mu. Biarlah Manda menjadi bagian yang pernah mengisi hidup kamu, Tam. Jangan sampai kamu menyakiti hati istrimu yang sekarang," ucap Papa Adam ikut menimbrung.


"Betul itu, Pa. Jangan sampai penyesalan datang. Ingat, Tam! Kalau bukan karena keluarga Tari, mungkin Mama sudah berada di dalam tanah sekarang," ujar Mama Widi.


-Flashback off-


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2