
Seluruh orang yang berada di sana menatap serentak ke arah Tama yang sedang berjalan mendekati Tari.
Pria itu menangkup kedua pipi sang istri. Ia melihat kening Tari yang memerah, Tama menggeram marah. Ia sendiri tidak tau kenapa hatinya terasa seperti terbakar.
Tama menyelipkan tangannya di leher dan kaki Tari. Ia menggendong sang istri ala bridal style di depan semua orang. Semua yang menyaksikan itu menatap tidak percaya akan perlakuan manis dosen tampan idola kampus.
"Kalian berdua! Saya akan menindak lanjutkan perbuatan kalian ke pihak yang berwajib jika tidak ada itikad baik. Jadi saya tunggu hingga besok!" ucap Tama dengan suara beratnya.
"Tapi dia itu perusak nama kampus, Pak. Dia itu jal—"
"DIA ISTRI SAYA! PUTRI MENTARI BATARA!" Potong Tama dengan penuh penekanan.
Kedua wanita itu tergagu di tempat karena Tama menatap mereka dengan tatapan tajam dan membunuh. Suara teriakan dosen berusia 35 tahun itu menyambar hingga ke telinga mereka, sampai-sampai kaki kedua wanita itu gemetaran.
Fokus Tama teralihkan ketika suara tangis Tari yang tertahan. Pria itu menunduk untuk melihat wajah istrinya.
"Awas jika kalian mengganggu istri saya lagi!" Tama membalik badannya, ia membawa Tari pergi dari tempat itu.
Kedua sahabat Tari tersenyum lega, akhirnya Tari dan Pak Tama tidak lagi menyembunyikan status pernikahannya. Jadi Tari tidak lagi difitnah sebagai wanita jalaΠg.
Tari mengetatkan tangan yang ia kalungkan di leher suaminya. Wanita bertubuh mungil itu terisak di dada sang suami.
Tama melangkah ke mobilnya, ia membuka pintu mobil dengan satu tangan. Pria itu mendudukkan diri di kursi pengemudi, ia membawa sang istri duduk di atas pangkuannya.
Tari mengangkat kepalanya perlahan. "Hiks, Tari duduk di sebelah aja," ucap wanita betubuh mungil itu dengan terisak.
Tangan Tama terangkat, ia mengusap bulir-bulir bening yang keluar dari mata istrinya. "Don't cry, maaf ini semau karena permintaanku—"
Kepala Tari menggeleng kuat. "Pak Tama gak salah, hiks." Tangis Tari semakin pecah, ia memeluk leher Tama.
Wanita itu menumpahkan semua air matanya di pelukan sang suami. Gumaman mulai keluar dari bibir Tari.
"Thanks. Pak Tama udah benar-benar menerima Tari ya?" tanya Tari yang masih berada di ceruk leher suaminya.
"Setelah semua yang kamu lakukan, saya tidak tau pasti. Tapi saya sangat marah melihat kamu diperlakukan seperti itu." Tama menarik pelan kepala Tari.
Pria itu menatap kedua bola mata istrinya dengan tatapan serius. "Kamu terlalu gigih, sedangkan saya buta untuk melihat semuanya."
Tama mengecup sekilas bibir Tari. "Di sini." Pria itu membawa telapak tangan sang istri ke dadanya. "Di sini, mulai merasakan getaran setiap kali berada di dekatmu."
Tari kembali merengkuh tubuh suaminya. Ia menangis, kali ini bukan tangis kepedihan. Air matanya berubah menjadi air mata kebahagiaan.
"Tari sayang dan cinta sama Pak Tama. Terima kasih mau menerima Tari." Wanita itu memeluk tubuh Tama dengan penuh perasaan cinta.
Tama tidak membalas ungakapan cinta sang istri. Ia belum bisa memastikan apakah ini benar-benar cinta atau masih sekedar rasa nyaman.
__ADS_1
"Kita mau ke mana? Tari masih ada kelas." Mata Tari menatap suaminya yang menyalakan mobil.
"Hari ini kau absen saja. Kita ke rumah sakit!"
"Untuk apa? Ini cuman merah, nanti juga sembuh. Please jangan ke rumah sakit." Tari memohon dengan mata bulatnya yang masih menyisahkan jejak air mata.
Tama mengehela napasnya. Pria itu menuruti permintaan sang istri. Namun, ia tetap tidak mengizinkan Tari untuk melanjutkan kuliahnya hari ini.
Pria itu menginjak pedal gasnya. Ia mengendarai mobil keluar dari area kampus. Dirinya sama sekali tidak kesusahan menyetir sambil memangku istrinya.
"Duduk diam dan jangan banyak bergerak, mengerti?!"
Tari mengangguk dengan patuh tanpa mengeluarkan suara. Ia duduk diam di atas paha sang suami. Entah ke mana Tama membawanya pergi.
Mata Tari terasa berat, perjalanan sudah memakan waktu 25 menit. Namun, mereka tak kunjung sampai.
Karena sudah tidak tahan, mata Tari terpejam rapat. Wanita bertubuh mungil itu tertidur dalam pangkuan suaminya.
Tama mengusap kepala Tari dengan satu tangannya. Sesekali ia mendaratkan kecupannya di puncak kepala sang istri.
***
Di lain tempat, Mami Sun mengumpat kesal. Orang suruhannya mengabarkan, jika dua mahasiswa yang ia bayar lewat orang suruhannya gagal mengintimidasi Tari.
Mami Sun menghubungi orsng suruhannya. "Kau pastikan dua wanita itu tidak membuka mulut!" perintahnya dengan angkuh.
"Siap bos, dia hanya tau saya pihak pertama. Bos tenang saja," sahut pria di sebrang sana.
"Bagus, aku akan menambah bayaranmu."
Mami Sun mematikan sambungan telfonnya. Wanita itu mulai memikirkan rencana untuk memisahkan Tama dan Tari.
Wanita paruh baya itu tersenyum miring, ia mendapatkan ide yang mampu membuat Tari pergi selama-lamanya.
"Tenang putriku, Mami akan membuat suamimu tetap setia."
Jarinya mengusap wallpaper hp yang terdapat foto Manda di dalamnya. Wanita paruh baya itu menangis kesepian, ia begitu merindukan putri serta anak satu-satunya.
"Mami yang akan merawat Una, dan akan Mami pastikan Tama tetap mencitaimu, Nak."
Ia menyeka air matanya, senyum devil Mami Sun kembali terbit. Ia mulai menyusun rencananya dengan matang agar semua berjalan dengan lancar dan mulus.
***
"Bangun, kita sudah sampai." Tama menepuk pelan punggung istrinya.
__ADS_1
Bukannya terbangun, Tari malah semakin merasa nyaman dan enggan bangun. Kedua sudut bibir Tama terangkat, ia membiarkan Tari untuk menikmati tidurnya sejenak.
Pria itu kembali mempuk-puk punggung istrinya. Rupanya tanpa sengaja tangan Tama menyentuh bagian punggung Tari yang terhantuk lantai.
"Euh ...." Tubuh Tari menggeliat, ia mengerjapkan matanya pelan.
Wanita itu terbangun karena rasa sakit yang ia rasakan. "S-sakit," lirih Tari.
Tama menyingkap baju belakang sang istri dengan segera untuk memeriksa. Ia melihat warna merah yang lebih parah dari kening Tari yang terhantuk dinding.
"Sudah kubilang kita ke rumah sak—"
"Jangan marah," lirih Tari.
"Hahh ...." Tama menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia menurunkan baju Tari kembali.
"Ini di mana? Bagus. Itu ada banyak bebek!" Pandangan Tari teralihkan ke danau buatan yang indah.
Wanita bertubuh mungil itu menatap pemandangan indah yang memanjakan mata lewat jendela mobil.
"Apa kau menyukainya hum?" tanya Tama, dengan tangan yang merapikan rambut Tari yang berantakan.
"Sangat," jawab Tari dengan antusias.
Tama tersenyum kecil, bahkan Tari tidak bisa melihat senyuman super irit itu.
"Baiklah, ayo kita turun." Tama membuka pintu mobil, ia menurunkan istrinya dengan perlahan.
"Kenapa tempat sebagus ini tidak ada orangnya?" tanya Tari menatap wajah suaminya yang fokus melihat bebek-bebek yang sedang bereng di atas permukaan air danau.
"Ini danau buatan milikku dan— untuk mu," jawab Tama yang sempat terhenti sebentar.
`
`
`
Bersambung ....
Halo Kakak, bunda, abang yang sudah setia membaca cerita ini👋
Othor kodok ucapkan terima kasih banyak❤ sudah mau membaca cerita receh ini. Othor juga ingin mengucapkan terima kasih untuk dukungannya. Semua komentar yang kalian berikan othor baca, huaaa lope sekebon untuk kalian semua.
Peluk onlen, semoga kita semua diberi kesehatan dan selalu dalam lindungan tuhan🙏
__ADS_1