
"Yah ... ke kiri sedikit, ehm ke kanan. Ouch! Jangan kuat-kuat!"
"Begini?" tanya Tari memastikan. Sebab suaminya ini sangat banyak permintaan ini dan itu.
"Tenaga mu kurang berasa, seperti belum makan saja."
Tari semakin kesal dengan sang suami yang membuatnya serba salah. Pakai tenaga dibilang jangan kuat-kuat. Dilembutin malah komplin kurang berasa.
"Hais!!! Udah ah, Tari mau duduk di sebelah aja! Bahaya tau, nyetir sambil dipijitin begini." Tari mencebikkan bibirnya, wajah wanita itu tertekuk ke dalam.
Ia merasa kesal dengan sang suami, Tama menyuruhnya untuk memijat bahu pria itu sepanjang perjalanan.
"Aku tetap fokus menyetir. Jadi apa bahayanya?" ucap Tama dengan santai.
Tari membuang napasnya kasar, percuma saja bicara dengan singa keras kepala ini. Ia memilih untuk mengalah dan kembali memijit bahu yang keras milik sang suami dengan tangannya yang mungil.
Tatapan Tari fokus pada bahu sang suami. Di samping itu, Tama menampilkan seringainya. Ia berhasil mengerjai istrinya. Entahlah, pria itu tertular kejahilan Tari. Benar apa yang pernah dikatakan oleh istrinya, jika mengatai seseorang yang buruk itu cepat menular.
Akhirnya mobil mereka tiba di halaman rumah. Tari menatap jari-jarinya yang terasa keriting.
Wanita itu membuang muka dari suaminya, ia sedang dalam mode merajuk. Buru-buru Tari turun dari pangkuan suaminya.
"Hei mau ke mana?" Tama menahan lengan istrinya.
"Mau masuklah," sahut Tari dengan ketus, wanita itu membuang muka ke samping untuk menghindari suaminya.
"Tunggu dulu!" Tama melihat mobil yang tak asing baginya.
Pria itu menghela napasnya berat. Tama menggenggam tangan sang istri dengan erat. Tari mencoba melepaskan genggaman itu, tapi jari Tama mengunci pergerakkan sang istri.
"Ada Mami di dalam, kita hadapi bersama oke?" Tama menunduk, menatap Tari yang mendengak menatap wajahnya.
Tangan Tari berubah dingin, namun ia berusaha untuk berani. Kini ada sang suami di sampingnya.
"Pak Tama pasti akan membela Mami Sun kan," cicit Tari dengan kepala tertunduk.
"Kali ini tidak lagi, trust me." Tama semakin mengetatkan pegangan tangannya dengan sang istri.
Pria itu berusaha meyakinkan Tari, bahwa dirinya akan berada di pihak wanita bertubuh mungil itu.
"Baiklah, ayo kita hadapi bersama." Tari mengangguk mantap.
Mereka melangkahkan kaki ke dalam rumah. Begitu masuk, mereka sudah di sambut dengan wajah tak bersahabat Mami Sun.
Mama Widi menatap ke arah menantu serta putranya dengan khawatir. Una yang berada di pangkuan Mami Sun berlari ke arah Tari
__ADS_1
"Mama ...." Bocah gembil itu memeluk Tari dengan erat.
"Anak Mama sudah wangi dan syantik." Tari membalas pelukan putrinya.
"Begini jadi ibu sambung? Cih, kelayapan saja taunya! Bilang saja mau sama ayahnya, tapi anaknya ditelantarkan," sindir Mami Sun.
"Mbak Ijah, tolong ajak Una ke kamar," ucap Tama.
Mbak Ijah menganggukkan kepalanya. "Ayo Una, kita ke atas ya."
Bocah gembil itu menolak, ia masih mau bersama dengan Mama nya. Tari menyamkan tingginya dengan sang anak, wanita itu memberi pengertian ke pada anak berusia lima tahun itu dengan lembut.
"Nanti Mama menyusul ke atas, Una ikut sama Mbak Ijah ya sayang." Tangan Tari mengusap pipi gembil sang anak.
"Umm!" Una mengangguk patuh.
Mama Widi tersenyum melihat itu, ia melirik ke arah Mami Sun yang berdecih tak suka.
Mbak Ijah membawa Una ke kamar atas. Tinggallah Mami Sun, Mama Widi serta sepasang pasutri yang kembali bergandengan tangan.
"Sepertinya kau sudah termakan dengan tipuan perempuan miskin ini, Tama!" Mata Mami Sun menatap sinis ke pada Tari.
"Kenapa kamu yang sewot!" ketus Mama Widi.
"Kalian terlalu mudah melupakan anakku! Sadar Tama! Kau penyebab perginya Manda, anakku!" teriak Mami Sun.
"Semua itu sudah menjadi takdir!" Mama Widi tak terima anaknya di salahkan.
"Coba saja kau sebagai suami tidak membiarkannya pergi sendiri! Pasti sekarang anakku masih HIDUP!" telunjuk Mami Sun mengarah ke wajah Tama.
"Dan kau perempuan miskin ... kau masuk ke kehidupan suami anakku! Dasar perebut suami orang!" Mami Sun maju berniat mendorong tubuh Tari.
Untung saja dengan sigap Tama menarik tubuh Tari, dan menyembunyikan sang istri di balik punggungnya.
"Kau benar-benar lupa dengan janjimu Tama!" hardik Mami Sun dengan suara yang menggelegar.
"Maaf, Mi. Tapi saya sedang berusaha mempertahankan keluarga kecil kami," ucap Tama dengan lugas.
"Kau ... kau tega menggantikan Manda! Jika dia tidak mengantarkan berkasmu ke sana, pasti dia masih ada di sini. Merawat Una!" teriak Mami Sun dengan lelehan air mata yang membasahi wajahnya.
Tari merasa iba melihat Mami Sun, ia tau seperti apa rasanya kehilangan orang yang kita sayangi.
"Ya, ini salah Tama. Tapi, Tama mohon jangan ganggu Tari. Dia tidak salah. Biarkan kami memulai semuanya kembali." Pria itu membuka suaranya.
"Kau ingkar Tama! Tidak akan kubiarkan kalian bahagia di atas kepergian anakku!" Mami Sun melangkahkan kakinya keluar. Saat ia melewati Tari, mata wanita paruh baya itu melirik dengan sinis seperti pisau tajam.
__ADS_1
Mama Widi menghampiri Tari dan putranya. "Maafkan Mama ya, Nak."
"Untuk apa Mama minta maaf, gak ada yang salah di sini," ucap Tari.
"Lebih baik kita ke atas saja, pasti Una sudah menunggu." Tama merangkul bahu sang istri.
Mama Widi tersenyum menyaksikan hal itu, tampak perubahan sikap putranya ke Tari. "Mama di sini aja, nunggu papa pulang dari resto."
Sepasang suami istri itu pergi menaiki tangga menuju kamar Una. Sesampainya di depan kamar anak mereka. Tama menekan handle pintu lalu mendorongya dengan perlahan.
Mbak Ijah yang melihat Tuannya datang lekas berdiri, dan meninggalkan keluarga kecil itu.
"Una sayang," panggil Tari.
"Mama! Papa!" pekik Una kegirangan.
Tama dan Tari duduk di tepian ranjang anaknya. Mereka menemani Una yang memainkan boneka karakter maruko.
"Anak Mama sudah makan belum?" tanya Tari membelai pipi gembil putrinya.
"Udah, Ma. Una tambah 2 kali sampai pelutnya besal." Una menepuk perutnya yang terlihat lebih buncit dari biasanya.
"Wah pasti bentar lagi anak Mama cepat besar. Ya kan, Pa?" Tari menyenggol pinggang Tama.
"Tentu saja, putri Papa sebentar lagi tumbuh besar menjadi gadis yang cantik." Pria itu tersenyum kecil sembari menatap istrinya.
"Ya, kata Andle juga begitu. Una cantik." Dengan polosnya Una menjawab ucapan Papanya.
Tama melirik Tari untuk meminta jawaban. Pria itu tidak tau siapa Andre. Ia khawatir dengan putri kecilnya.
"Teman Una di sekolah," tutur Tari melunturkan rasa was-was Tama yang tiba-tiba muncul.
Pria itu menarik napasnya lega. "Una di sini dulu ya, Nak. Papa ada urusan sama Mama."
Una yang sedang asyik dengan mainannya pun mengangguk saja. Tama memberi kode lewat matanya, pria itu mengajak Tari keluar dari kamar Una.
`
`
`
Bersambung ....
Urusan apa itu Pak Tama? Bagi tau othor kodok dong🐸
__ADS_1
Hadeh si sundel bolong, anak mu wis meningsoy. Ikhlaskan, membenci hanya membuat hati mu semakin terluka🐸