
Hari demi hari berlalu, kehidupan rumah tangga Tari dan Tama semakin lebih baik. Hanya saja, Tama seakan menghidari istrinya ketika wanita bertubuh mungil itu mengingankan sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas malam mereka.
Tari yang entah kenapa begitu menginginkan sang suami setiap malam harus mengurung keinginannya, ada sesuatu yang harus dilindungi wanita itu.
Awalnya Tari ingin segera memberi tau kabar yang ia dapatkan. Namun, melihat sikap suaminya belakangan ini yang terlihat aneh setiap ia ajak untuk mengarungi indahnya surga dunia bersama. Jadilah wanita itu menyimpannya sendiri.
Dan hari ini ia berniat memberi tau kabar bahagia kepada sang ayah yang sudah kembali sehat.
"Mau kemana?" tanya Tama ketika melihat Tari yang sudah rapi dengan pakaiannya.
Kepala wanita bertubuh mungil itu menoleh ke arah suaminya, ia yang sedang mengambil tas selempang pun menghentikan gerakkannya sejenak.
"Mau ngampus. Oh iya! Tari izin ke rumah ayah, ya My Lion," ucap Tari meminta izin.
"Kalau begitu tunggu 10 menit, aku ganti baju dulu. Masuk jam 9 pagi kan kamu?" Tama kembali bertanya pada Tari yang sudah siap sedia untuk berangkat.
"Iya, ehm ... Tari diantar sama Pak Jaka aja." Tari menggaruk ujung pelipisnya.
"Kita satu tujuan, jadi biar aku antar. Tunggu 10 menit, ingat!" Tama segera masuk ke walk in closet untuk mengganti baju.
Wanita bertubuh mungil itu menyusul langkah suaminya. Ia menghentikan gerakan Tama yang memilih baju secara asal.
"His Pak Tama! Ngambil baju itu jangan asal lihat langsung ambil. Ini warnya jomplang tau! Yang ini nih, Kemeja biru donker sama celana hitam." Tari mengambil kemeja dan celana yang tergantung di dalam lemari, lalu meyodorkannya pada Tama.
Tangan pria itu menerima pakaian yang diberikan oleh istrinya. Ia mulai melepaskan baju santainya dan menggantinya dengan kemeja berwarna biru donker pilihan Tari.
"Buset! Kancingnya salah masuk, haduh sekarang suami Tari kok makai baju aja harus Tari ikut turun tangan." Wanita bertubuh mungil itu menepuk keningnya.
Tama menahan senyumnya, wajah Tari sungguh lucu ketika kesal.
"Membungkuk sedikit dong, Tari gak sampai tau!" Tari berkacak pinggang, sudah tau dirinya pendek. Tapi suaminya itu malah berdiri tegak ketika ia akan memperbaiki letak kancing kemejanya.
Tama membungkukkan tubuhnya, ia membiarkan sang istri mengambil alih peran mengancing kemejanya. Pria itu menatap wajah serius sang istri ketika sedang memasukkan kancing satu per satu ke dalam tempatnya.
"Selesai!" Tari bertepuk tangan seakan baru memenangkan sebuah perlombaan.
"Sekarang aku mau mengganti celana, yakin masih mau di sini?" Alis Tama naik turun dengan senyum miring yang menghiasi wajahnya.
"Memangnya kenapa kalau Tari tetap di sini?" tanya Tari keheranan.
"Takutnya kamu tiba-tiba minta jatah," sahut Tama sambil bersedekap dada.
"His! Siapa juga yang mau minta jatah, kemarin-kemarin aja minta gak dikasih," ucap Tari spontan. Wanita itu langsung menutup mulutnya yang kehelingan kendali untuk mengerem.
Dalam hati, Tari terus merutuki dirinya yang keceplosan. Sementara itu, Tama tertawa terbahak-bahak melihat wajah Tari yang memerah.
"Nyebelin banget!" Tari menghentakkan kakiknya dengan kesal.
__ADS_1
Namun, ia langsung tersadar dan memegang perut ratanya sebentar. Tama yang melihat itu langsung menghentikan tawanya.
"Kenapa? Kamu sakit?" tanya Tama dengan wajah yang berganti khawatir.
Kepala Tari menggeleng. "E-enggak kok, ini karena tiba-tiba Tari kebelet. Tapi sekarang kebeletnya udah hilang."
"Syukurlah kalau bukan sakit." Tama menarik napasnya lega.
"Tari ke bawah luan deh, jangan lama-lama ya. Nanti Tari telat."
Cup!
Secepat kilat Tari mengecup pipi suaminya dengan berjinjit, lalu wanita itu meninggalkan Tama yang akan mengganti celananya.
***
Kuda besi yang dinaiki oleh Tama dan Tari melaju dengan keceapatan sedang. Sepanjang perjalanan Tari mengikuti alunan musik yang sangat ia sukai.
Menarilah dan terus tertawa
Walau dunia tak seindah surga
"Bersyukurlah pada yang kuasa, cinta kita di dunia ... , sambung Pak!"
"Selamanya." Suara nyanyian Tari dan Tama berpadu dengan sempurna.
Tama yang sedang mengendarai mobil hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sungguh, suara mereka berdua berpadu sempurna. Sempurna untuk membuat telinga siapa saja mengeluh.
Keduanya tidak punya bakat menyanyi. Tama yang tidak ingin sang istri mengeluarkan kecerewetannya, mau tak mau mengikuti perintah Tari ketika wanita itu mengeluarkan kalimat 'sambung pak!'.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka tiba di parkiran fakultas tempat Tari menimba ilmu. Tiada lagi tatapan tajam orang-orang di kampus semenjak kejadian waktu itu.
Karena seluruh penghuni kampus sudah mengetahui jika Tari adalah istri dari Tama Batara, dosen sekaligus kajur di faktas ekonomi.
Walau begitu, tetap masih ada yang menggunjing tentang hubungan Tari dan Pam Tama. Banyak yang menerka-nerka alasan Tari menikah dengan pria yang lebih tua dari wanita bertubuh mungil itu.
Tari tidak ambil pusing mengenai hal ini. Karena baginya selagi tidak mengusik keluarga serta melukai fisik, maka ia tidak akan mengeluarkan tanduknya.
"Kenapa di antar sampai ke depan kelas sih Pak! Tari kan udah besar," protes Tari pada suaminya dengan nada berbisik.
"Apanya yang besar? Semua milikmu kecil," sahut Tama dengan nada yang sama.
Tari menekuk wajahnya. "Huh dasar dosum!"
"Aku pergi ke ruanganku. Oh iya, nanti kalau mau pergi ke rumah ayah kabari. Biar kita berangkat ke sana bersama."
"Eh gak usah, Pak. Kan hari ini Pak Tama ada jadwal ngajar sore. Tari perginya naik ojol aja," ujar wanita itu menolak ajakan suaminya.
__ADS_1
"Baiklah, tapi pulang dari rumah ayah aku yang menjemput. Mengerti?"
Tari mengangguk patuh, yang terpenting suaminya tidak ada di sana ketika ia memberi sebuah kabar kepada ayahnya.
Wanita bertubuh mungil itu masuk ke dalam kelas yang masih berisi sedikit mahasiswa. Sedangkan Tama sudah berjalan menuju tempat mobilnya terparkir.
"Cie-cie ... yang diantar sampai ke depan kelas sama Pak dosen sekaligus suami," goda Raihan pada Tari yang baru duduk di sebelahnya.
"Apaan sih lo! Pagi-pagi jangan suka buat orang kesal!" cebik Tari.
"Belakangan ini kayaknya lo sensi amat sama gue, Tar. Kesambet apa lo?"
"Entah! Gue kesel setiap lihat muka lo, bawakannya mau ngamuk aja. Lo sih! Auranya negatif," ucap Tari tanpa merasa bersalah.
Raihan mentoyor kepala sahabatnya. "Enak aja lo!"
Tari mengusap kepalanya sambil mendelikkan mata ke arah Raihan. Pria yang mendapat tatapan tajam itu langsung mengeluarkan jurus andalannya.
"Tuan putri mau ditraktir makan apa?" tanya Raihan dengan lembut.
"Batagor, ayam geprek sama jus jeruk," jawab Tari dengan wajah berubah manis.
"Siap laksanakan Tuan Putri Mentari! Hamba yang kaya ini akan mentraktir dengan senang hati."
"Eh Nadia mana? Kok belum datang?" tanya Tari saat tiba-tiba menyadari jika sahabatnya yang satu lagi tidak ada di kelas.
"Mungkin kejebak macet, lagian kelas dimulai setengah jam lagi." Raihan menunjukkan jam tangan mewahnya ke hadapan Tari.
***
Begitu waktu pulang tiba, Tari langsung memesan ojek online untuk pergi ke rumah ayahnya yang sebenarnya sangat dekat dengan kampus.
Tapi, kalau jalan kalau jalan kaki disiang bolong begini cukup menguras keringat. Jadilah ia memilih opsi paling efisien.
Tari turun dari sepeda motor milik ojol saat sudah tiba di depan rumah ayahnya. Jantungnya berdegup kencang, ia penasaran seperti apa reaksi ayahnya ketika mendengar kabar ini.
`
`
`
Bersambung ....
Hai readers🐸💕
Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya pada pukul 19.00 WIB.
__ADS_1