
Fio merasa sangat malu karena diam-diam Nesya memperhatikan dirinya. Terlebih Sakya berusaha acuh seperti sedang tidak terjadi sesuatu.
"Ayah sama Aunty kenapa kalian tidak ingin bangun? Apakah ayah ingin terus memeluk Aunty?" tanya Nesya kesal karena kedua orang dewasa itu masih terdiam di atas ranjang. Namun, saat Fio hendak bangkit, Sakya segera mencegahnya.
"Mau kemana? Istirahatlah, biar aku yang mengurus Ines."
"Tapi, Pak ...."
"Ines, dengerin ayah. Aunty sedang tidak enak badan, dia demam. Jadi hari ini Ines gak boleh nakal dan nurut sama ayah, ya!"
Nesya merasa sangat terkejut saat mendengar jika Fio sedang tidak enak badan. "Aunty sakit?" tanya bocah itu.
"Aunty sudah sembuh."
Dengan cepat telapak tangan Nesya segera menempel pada kening Fio. "Iya. Kening Aunty panas," ujarnya.
Sakya segera membawa anaknya keluar dari kamar. Pagi ini sebelum memandikan Nesya, Sakya mengajak Nesya untuk memasak terlebih dahulu.
"Ayah ... mengapa kita liburan mendadak dan tidak memberi tahu kepada nenek? Pasti dia akan bingung mencari kita," kata Nesya dengan polos.
Sakya pun akhirnya menoleh kearah Nesya. Bocah polos yang belum akan paham dengan keadaan. "Karena nenek menginginkan ayah untuk menikah dengan Tante Luna. Apakah Ines setuju jika Ines memiliki ibu baru seperti tante Luna?" tanya Sakya dengan jujur.
Nesya segera menggeleng. "Tidak mau, Ayah! Kalau bisa memilih, Ines ingin Aunty yang menjadi ibu untuk Ines. Semua mamanya teman-teman Ines bilang kalau Aunty lebih cocok untuk menjadi ibu Fio. Ayah tampan dan Aunty juga cantik dan baik hati. Kalau ayah mau, ayah boleh pilih aunty sebagai ibu Ines dari pada tante Luna. Bagaimana, Yah?"
Sakya tertegun dengan ucapan anaknya. Sakya juga tidak memungkiri jika Fio sangat pandai untuk mengambil hati Nesya. Namun, hatinya masih tersimpan untuk Sarah
"Memang Ines mau punya ibu baru?"
__ADS_1
"Mau dong. Apalagi yang jadi ibu Fio adalah aunty Fio. Temen-temen Ines di sekolah gak ada yang berani nakalin Ines karena Aunty selalu ngomel-ngomel kalau ada yang nakalin Ines, Yah," jelas Nesya begitu saja. "Ines mau punya keluarga yang lengkap ada ayah dan ibunya, Yah. Seperti yang lainnya," lanjut Nesya lagi.
Hati Sakya seperti sedang tersayat sembilu. Dia sadar, kasih dan sayang yang dia curahan tidak akan bisa menggantikan peran seorang ibu. Apalagi mengingat pekerjaan yang harus menguras waktu hingga tak ada waktu untuk bersama dengan anaknya.
"Ayah maukan jadiin Aunty sebagai ibunya Ines?"
Sakya terdiam untuk beberapa waktu. Terlihat dia sedang memikirkan sesuatu sebelum memberikan jawaban kepada anaknya.
"Tapi Ines janji bantuin ayah buat nyuruh nenek pulang dan menentang keinginan nenek yang menginginkan tante Luna untuk menjadi ibu Ines?"
"Siap ayah. Ines juga gak suka sama tante Luna."
*****
Acara liburan yang tak sesuai dengan keinginan Sakya. Niatnya ingin mengosongkan beban pikirannya, tetapi kini malah harus merawat Fio yang malah sakit.
Fio sangat terkejut saat mendapatkan pelukan dari Nesya. "Ada apa?" tanya Fio bingung.
"Aunty mau kan jadi ibu Fio?"
Tubuh Fio membeku. Dengan susah payahnya dia menelan kasar ludahnya. Hatinya bagaikan tersambar petir. "Kamu ngomong apa, Nes?" gagap Fio.
"Tuh kan ... aunty pura-pura gak tahu," kesal Nesya dengan melepaskan pelukannya.
"Tapi Aunty memang gak tahu."
Nesya sudah mengerucutkan bibirnya dengan kedua tangan yang melipat di depan dada. "Aunty gak seru!"
__ADS_1
Fio bukan wanita bodoh yang tidak tahu maksud ucapan Nesya yang sebenarnya. Namun, Fio hanya sedang berpura-pura saja. Degup jantungnya bergerumuh hebat apalagi saat derap langkah Sakya mulai menggema ditelinganya.
"Ines, bisa ayah bicara sebentar dengan Aunty? Ines keluar sebentar ya sama mang Udin main ayunan!"
Nesya mendongak melihat mata ayahnya yang memberi isyarat agar Nesya keluar. "Iya ayah."
Setelah kepergian Nesya, suasana menjadi canggung. Jantung Fio malah semakin bergerumuh dan aroma maskulin yang menembus hidungnya, membuat darah Fio berdesir.
"Aku hanya seorang pengacara, bukan hakim. Kamu gak usah gugup!"
Fio menelan kasar salivanya. "Memangnya aku narapidana?"
Sakya tertawa pelan sebelum dia mengutarakan maksudnya. Sakya sudah memikirkan dengan matang meskipun sulit. Semua ini dia lakukan untuk kebaikan Nesya dan juga untuk mengusir mertuanya dari rumah. Karena semenjak kedatangannya, suasana rumah terasa panas, apalagi bekas mertuanya selalu mencari masalah.
Dengan napas berat Sakya menatap intens kearah Fio. "Maukah kamu menjadi ibu untuk Ines?" tanya Sakya datar.
Fio masih tidak berekspresi. Tubuhnya terasa kaku, bahkan bola matanya nyaris keluar karena rasa terkejut luar biasa. "Ma-maksud pak Sakya ...." Fio tidak bisa melanjutkan ucapannya karena saking gugupnya.
"Iya. Tapi ...." Begitu juga dengan Sakya yang menggantung ucapannya, membuat Fio merasa sangat penasaran.
"Tapi apa sih, Pak? Yang jelas dong! Jangan di gantung!" rutuk Fio dalam hati.
"Tapi, hanya untuk sebatas status saja."
Fio tersenyum kecut, setelah diangkat tinggi ternyata dia harus terhempaskan begitu saja. Wanita mana yang tidak akan merasa bahagia saat ingin dijadikan seorang istri, tetapi hati mana yang tidak akan sakit jika ternyata hanya ingin di jadikan sebuah status saja.
"Sebelum aku minta maaf, tapi demi Nesya aku minta tolong. Apalagi saat ini ibunya Sarah terus memaksaku untuk menikahi Luna. Aku tidak bisa kembali kepada orang yang sudah menghancurkan impian terbesar kedua orang tuanku. Ku mohon Fi, bantu aku."
__ADS_1