
Siapa yang menyangka jika pagi ini Fio akan kedatangan tamu spesial. Sosok yang membuatnya insecure. Wanita dengan segala kesempurnaannya tak sebanding dengan dirinya. Tampilnya sangat berkelas, bahkan namanya pun juga tersimpan dalam memori Nesya meskipun dalam keadaan hilang ingatan.
"Mbak Luna." Bibir Fio terasa kelu saat melihat sosok wanita yang dia kenal.
Dengan langkah yang tertatih dan luka lebam di wajahnya, Luna berusaha masuk untuk mencari keberadaan Sakya.
"Dimana mas Sakya?" tanya dengan sinis.
"Pak Sakya masih bersama Fio di kolam renang, Mbak."
Luna yang sempat menjadi tawanan dari mantan mertua Sakya berhasil meloloskan diri. Bagi Luna kabur dari tempat itu adalah hal yang mudah karena Luna yang memiliki tempat tersebut. Saat ini dia harus segera membuat Sakya merasa iba terhadapnya. Dengan bekas luka yang dia miliki, Sakya tak akan tega untuk membiarkannya sendiri.
"Mas Sakya," panggil Luna yang menyeret langkahnya.
"Luna."
"Tante Luna." Suara kecil itu mengikuti ucapan ayahnya.
"Kamu kenapa, Lun?" tanya Sakya yang merasa terkejut dengan keadaan Luna yang memprihatinkan.
"Mas, tolong aku Mas! Aku takut!"
__ADS_1
Sakya yang sedang menemani Nesya berenang segera mengangkat Nesya untuk naik keatas permukaan.
"Kami tenang dulu, baru cerita ada."
"Mas ... ada orang jahat yang ingin melukai ku, Mas. Mereka baru saja menyekap ku di gudang. Aku takut, Mas." Sebisa mungkin Luna membuat dirinya seolah memang sedang dilanda ketakutan.
"Ines ganti baju dulu dengan aunty Fio, ya!" titah Sakya pada Nesya. "Fi, bersihkan badan Nesya!" titahnya juga pada Fio.
Fio yang berdiri di samping Luna segera mengambil tubuh Nesya untuk dibawanya masuk. Meskipun hatinya tercabik-cabik saat melihat perlakuan Sakya yang sangat khawatir kepada Luna, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Tante Luna kenapa, Aunty?" tanya Nesya saat Fio sudah siap mendandaninya.
Tuh tante-tante ngapain sih pakai ngadu ke sini segala! Kan jadi rusak acara weekend ku! Dasar tante-tante sepi job," rutuk Fio dalam hati.
"Abis ini Ines main di kamar aja ya. Aunty kurang enak badan. Nanti malah disuruh melayani tante Luna, kan Aunty capek," bujuk Fio pada Nesya.
"Yah ... gak seru dong! Ines kan juga ingin bertemu dengan tante Luna. Ines kangen."
Fio mencoba terbatuk agar Nesya semakin percaya jika saat ini keadaan Fio sedang tidak enak badan.
Antara ingin pergi menemui Luna dan tatap berada di kamar untuk menemani Fio yang sakit, Nesya merasa bimbang. "Ya sudahlah, Ines disini aja. Tapi aunty jangan sakit. Besok gak ada yang nungguin Ines di sekolahan."
__ADS_1
Fio tersenyum puas. Meskipun hatinya sedang terbakar, setidaknya keadaan bisa di sterilkan. Berulang kali Fio membuang napas beratnya. Jujur, Fio merasa sangat iri saat dirinya tak bisa diingat oleh Nesya.
Sementara itu, Sakya sudah berhasil untuk menenangkan Luna. "Mas, untuk beberapa waktu ini boleh gak aku nginep di rumah kamu? Aku takut kalau mereka akan datang lagi." Luna mengiba, berharap Sakya mengizinkannya untuk tinggal di rumahnya. Namun, Sakya masih terdiam setelah ia mendengarkan permintaan Luna.
"Maaf Lun, bukan aku tidak peduli, tapi ...."
"Please Mas, untuk satu malam saja. Aku takut kalau mereka mengikuti ke rumah. Apakah kamu sama sekali tidak merasa iba?"
Sakya terdiam untuk beberapa saat. Benar, dia memang tidak tega saat melihat keadaan Luna, tetapi Sakya juga tidak ingin membuat Fio salah paham.
"Aku janji tidak akan membuat masalah dengan Fio."
"Oke. Tapi hanya satu malam saja. Setelah itu kamu pulang."
Luna tersenyum puas saat rencana berjalan dengan lancar. Hanya tinggal satu langkah lagi Luna akan mengubah statusnya. Kali ini bukan karena paksaan dari Nadine, tetapi dari relung hatinya yang telah mencoba untuk bertahan sampai hari ini.
"Mas, maafkan jika setelah ini kamu tidak akan memaafkan ku." batin Luna.
***
Jangan kaget kalau besok pagi udah nongol lebel End. Othor pengen pensiun.
__ADS_1