
Tari berdiri dari duduknya begitu melihat Tama yang keluar dari ruang inap ayahnya. Wanita itu menghampiri Sang Suami yang tampak diam.
"Ayah ngomong apa? Kok muka My Lion kaku begini?"
"Hanya obrolan biasa. Ayah bilang kita pulang saja ke rumah," ucap Tama.
"Pulang? Terus, yang jaga ayah siapa?" tanya Tari dengan nada tak rela.
"Aku akan menjemput Ardi, jadi ayah tidak akan sendirian. Bukannya besok kau ada praktek?" Tama mengangkat satu alisnya.
"E-eh iya, ada praktek ya ...." Wanita itu menganggukkan kepala sembari menarik kedua sudut bibirnya yang membuat deretan gigi putih itu terlihat.
"Kau tungg—"
"Eits! Pookie. Manggil istri kok 'kau, kau, kau'," ujar Tari memotong ucapan Sang Suami. Wanita itu menepuk jidatnya.
"Ehem, baiklah. Poocky tunggulah di sini, aku menjemput Ardi sebentar."
Tari mengangguk sebagai jawaban. Ia tersenyum lebar, tampak binar bahagia terpancar dari mata wanita mungil itu kala mendengar panggilan manis dari suaminya. Tanpa Tari sadari, panggilan itu adalah panggilan yang sama dengan wanita masa lalu yang masih menempati hati Tama.
Setelah 20 menit berlalu, Tama datang bersama Ardi ke rumah sakit.
"Bang Ardi, Tari titip ayah ya," ucap Tari, begitu melihat Ardi.
"Siap Dek Tari. Abang akan menjaga Pak Wahyu dengan sepenuh jiwa, hehehe." Ardi dengan senang hati menerima amanah dari Tari, yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri.
Pria itu amat sangat menghormati Pak Wahyu, ayah Tari adalah sosok baik yang pernah menolongnya disaat ia terpuruk ketika mengetahui istrinya selingkuh.
Saat itu ia berniat mengakhiri hidupnya dengan menabrakkan diri ke mobil yang sedang melintas. Namun, Pak Wahyu yang baru keluar dari pasar pekan melihat Ardi yang sedang putus asa mengambil ancang-ancang untuk maju ketika ada motor besar yang sedang melaju.
Buru-buru Pak Wahyu menarik tubuh Ardi hingga gagal lah aksi Ardi dalam mengakhiri hidupnya. Dengan besar hati Ayah Tari memberikan nasihat dan pekerjaan. Pria itu tersadar akan perbuatannya yang sia-sia. Sungguh, Kebaikan Pak Wahyu adalah hal yang tak bisa dilupakannya.
Tama mengeluarkan dompet dari sakunya. Ia mengambil beberapa lembar uang berwarna merah muda dan memberikanya pada Ardi.
"Apa ini Pak?" tanya Ardi.
Tari pun turut melihat apa yang sedang dilakukan oleh suaminya.
"Uang untuk kamu karena sudah mau menjaga Pak Wahyu," jawab Tama.
Ardi mengulas senyumnya. Pria itu mendorong uang yang diberikan Tama dengan sopan. "Saya ikhlas kok, Pak. Pak Wahyu sudah saya anggap seperti keluarga sendiri."
Tari yang menyaksikan itu merasa terharu, ia melangkahkan kakiknya untuk memeluk Ardi. Namun, belum sempat tangan yang membentang itu memeluk Ardi. Tama lebih dulu menahan kerah baju belakang Tari.
Ardi tertawa melihat Tari yang sangat lucu ketika diperlakukan demikian oleh suaminya. Badan Tari sedikit tertarik ke atas, dan mundur ke belakang.
__ADS_1
"Dek Tari, suami kamu cemburu tuh!" ujar Ardi dengan sisa-sisa tawanya.
"Tidak!" sahut Tama menyangga dengan cepat. Ia melepaskan genggamnya dari kerah baju Tari.
Pria yang bernama Ardi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menahan suara tawanya. Kentara sekali dari wajah Tama yang memerah karena menahan malu.
Tari hanya bisa mencebikkan mulutnya. Dirinya sudah seperti bocil saja yang ditarik seperti itu.
"Ayo kita pamitan sama ayah," ajak Tama yang sudah tidak sabar untuk pulang.
Wanita itu menggangguk, mereka bertiga masuk ke ruang rawat inap ayah Tari untuk berpamitan. Begitu selesai, sepasang suami-istri itu pergi meninggalkan rumah sakit.
Tari memperhatikan wajah suaminya yang sedang fokus menyetir. Tanpa sadar tangan wanita itu tergerak menyentuh rahang tegas suaminya.
"Kau mau menggodaku ya? " sentak Tama, namun pandangannya masih fokus ke depan.
"E-enggak, ada nyamuk ... ya ada nyamuk tadi," jawab Tari dengan gelagapan. Wanita itu menarik tangannya dengan spontan.
Tama tersenyum miring, pria itu semakin menambah laju mobilnya agar segera tiba di rumah.
Tari yang melihat senyum suaminya yang lebih mirip dengan seringaian merasa ngeri. Ia tak lagi membuka suara. Keduanya diam. Hingga tibalah mereka di kediaman Batara.
Baru saja pasangan suami istri itu tiba. Papa Adam serta Mama Widi sudah memburunya dengan berbagai pertanyaan.
"Pa, kalau nanya itu jangan buru-buru. Lihat tuh putra sama mantu kita jadi pusing," ucap Mama Widi dengan gaya bijak.
Papa Adam yang melihat itu memutar bola matanya malas. Sedangkan Tari dan Tama hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sama aja Si Mama, lihat tuh mantu kita sampai geleng-geleng kepala." Papa Adam balik membalas istrinya.
Mama Widi yang dikatai oleh suaminya langsung membuang muka dari Papa Adam.
Tari terkikik geli melihat kelakukan Mama mertuanya. "Ayah udah baik-baik saja kok Ma, Pa. Tadi napasnya sesak, terus pingsan," ujar Tari.
Wanita itu tidak memberi tahu apa penyebab ayahnya masuk rumah sakit dengan detail, ia tidak ingin kerusuhan Mami Sun terdengar ditelinga kedua orang tua suaminya. Yang ditakutkan Tari akan merembet ke mana-mana.
"Syukurlah, Wahyu tidak apa-apa," jawab Papa Adam menarik napas lega.
Tama menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Dirinya berpikir Sang Istri akan menceritakan jika ibunya Manda yang menjadi dalang di balik kejadian hari ini. Ternyata ia salah.
"Ma, Una udah tidur ya?" tanya Tari.
"Iya, dari tadi nanyain kamu kapan pulang. Eh lama-lama ketiduran. Kalian udah makan? Biar Mama bilang sama Bik Atik untuk memanaskan makanannya."
"Enggak usah, Ma. Lagian ini udah larut, pasti Bik Atik udah tidur. Tari sama T-tama udah makan kok."
__ADS_1
"Ehem, udah tidak manggil Pak Lagi nih?" goda Mama Widi.
Tari menunduk malu, wanita itu menggaruk ujung pelipisnya.
"Hais Si Mama kebiasaan. Udah sana Tam, ajak Tari ke kamar."
Tama yang memang sedari tadi ingin cepat-cepat ke kamar pun langsung menarik lengan istrinya tanpa berpamitan.
"Ih!!! Kok Tari ditarik kayak kambing!" protes gadis itu begitu tiba dikamarnya.
"Cepat minum pil itu!" perintah Tama.
"Ha?" Tari heran dengan suaminya yang tanpa basa-basi menyuruhnya untuk kembali meminum pil penunda kehamilan.
"Aku mandi dulu, ingat! Diminum!"
Tari menaik turunkan kepalanya dengan malas, wanita itu menghampiri nakas, dan membuka laci yang di dalamnya berisi pil. Sementara itu, Tama sudah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Mata Tari mengerjap beberapa kali, ia menatap pil yang ada di atas telapak tangannya, lalu tangan itu mengepal kuat.
Tari melangkah menuju balkon, dan menggerakkan tangannya keluar. Wanita itu berpegangan pada pembatas balkon, sesekali matanya menatap langit yang gelap tanpa taburan bintang.
Ia menarik napas dalam, lalu kembali masuk ke dalam kamar, tak terasa sudah 15 menit waktu yang dihabiskannya hanya untuk menatap langit.
"Sudah selesai? Kok cepat banget mandinya?" tanya Tari begitu melihat Sang Suami yang baru keluar dari kamar mandi.
"Ya, untuk apa lama-lama ini sudah larut malam," jawab pria yang hanya menggunakan handuk untuk menutupi asetnya.
"Iya juga ya, yaudah Tari ambilin baju dulu," ucap wanita itu dan membalik badannya.
Brug!!!
Tubuh Tari bertubrukan dengan dada kokoh milik Tama. Sebab tangan pria itu yang menarik Tari agar tidak melanjutkan langkahnya.
"Aku tidak butuh baju malam ini!" ucap Tama berbisik ditelinga istrinya.
`
`
`
Bersambung ....
Duh! Mau ngapai lo Pak Tama? Mau atraksi lagi ya?
__ADS_1
Othor siap sedia melipir ke pojokan. Waktunya ngintip ....