Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Duka Tari 2


__ADS_3

"Tari!" Tama menepuk pelan pipi sang istri yang berada dalam rangkulannya.


Kepala wanita itu berdenyut nyeri, ia mencoba menegakkan tubuhnya kembali. Tari membiarkan air matanya mengalir dengan deras tanpa menghapusnya, terasa percuma ketika ia menyeka bulir bening itu karena benteng pertahannya telah runtuh untuk menahan air mata yang terus berdesakan keluar.


"Ayah ... kenapa ayah ninggalin Tari sendirian? Hiks, t-tolong buka mata ayah. T-tolong panggil nama Tari." Tangan wanita mungil itu menggenggam lengan ayahnya yang dingin.


Tama merangkul tubuh sang istri. "Kamu tidak sendiri, ada saya, Una, Mama dan Papa."


Tangis Tari semakin tak terkontrol, Tama dengan sigap memeluk erat tubuh istrinya. Membiarkan kemeja yang ia kenakan basah oleh air mata sang istri.


Pria itu membawa Tari keluar dan membiarkan petugas medis membantu mengurus kepulangan Pak Wahyu untuk dibawa ke rumah duka.


Ardi turut merasakan kesedihan yang mendalam, ia kehilangan sosok berarti dalam hidupnya. Pria itu menyeka air mata yang keluar dengan tidak tahu malu.


Di atas kepedihan dan kehilangan yang dirasakan Tari, ada Mami Sun yang malah merayakan keberhasilannya dalam menghilangkan nyawa seseorang. Tangan Wanita paruh baya itu mengangkat segelas teh hitamnya, dengan memejamkan mata ia menikmati rasa sekaligus aroma teh yang rasanya luar biasa.


Sesekali bibir wanita paruh baya itu tersungging ke kiri, jarinya bergerak mengetuk tangan kursi yang menjadi sanggahan lengannya.


"Aku tinggal menunggu bom utama meledak, dan duar! Perempuan miskin itu akan menghilang HA-HA-HA-HA ...." Mami Sun tertawa lebar, sungguh hatinya berbunga-bunga hari ini.


Sedangkan di rumah sakit, ayah Tari siap untuk di antar ke rumah duka. Tama menyempatkan diri untuk menghubungi kedua orang tuanya, ia memberi tau soal kabar duka yang tengah merundung keluarga mereka.


Mama Widi dan Papa Adam sungguh terpukul atas apa yang mereka dengar. Kedua orang tua Tama menutup mulutnya tak percaya. Mereka saling bertatap mata, Mama Widi memikirkan perasaan menantunya yang ditinggalkan oleh orang tercinta.


Papa Adam dan istrinya segara meluncur ke rumah duka. Sedangkan Una tidak dibawa, bocah gembil itu dititipkan ke pada Mbak ijah dan Bik Atik.


***


"Haaa, huhh ayah ...." Tari menangis tersedu-sedu, mata wanita itu sampai membengkak karena terlalu lama menangis.


Air matanya semakin deras mengalir kala peti sang ayah dimasukkan ke dalam tanah yang sudah digali menjadi kuburan. Tama memegangi bahu istrinya, pria itu berusaha menguatkan sang istri dengan terus berada di samping Tari.


Prosesi pemakaman telah selesai. Keluarga Batara membawa Tari ke kediaman mereka. Sepanjang perjalan Tari hanya diam terisak, sesekali ia mengelus perutnya yang datar.

__ADS_1


Seharian dia belum memakan apapun, tak ada rasa lapar yang menghampiri dirinya dan juga mulutnya terasa sangat pahit.


Sesampainya di rumah, Tari langsung berjalan menaiki tangga dengan tatapan hampa. Untung saja Aruna sedang bersama Mbak Ijah di dalam kamar, jika tidak ... tentu bocah dengan rasa keingin tahuan yang tinggi itu akan bertanya kenapa dan mengapa Mamanya menangis.


"Ma, Pa. Tama menyusul Tari dulu." Tama langsung melangkah cepat menyusul sang istri yang baru menginjak satu anak tangga.


"Aku bantu," ucap Tama menahan tubuh Tari yang hampir terjerungup ke depan.


Wanita itu diam tanpa kata, ia membiarkan Tama mengangkat tubuhnya. Telinga Tari sayup-sayup mendengar suara sang ayah yang memanggil dirinya.


"Tari ... Tari ...."


Dan detik itu pula suara tangis Tari semakin pecah. Ia tidak tahu apakah suara yang ia dengar nyata atau hanya halusinasi saja.


Tama makin kalang kabut, ia mempercepat langkahnya agar segera tiba di dalam kamar. Pria itu meletakkan tubuh istrinya ke atas ranjang dengan perlahan.


"Aku ambilkan makan ya, kamu belum ada makan sama sekali," ucap Tama


Pria itu membelai kepala istrinya. Tari ingin sekali menggelengkan kepala untuk menolak. Namun, ia harus memikirkan buah hati yang sedang ada di kandungannya.


"Bik, sudah masakkan?" tanya Tama pada Bik Atik yang juga sedang berada di dapur.


"Sudah, Nak Tama. Mari Bibik bantu siapkan," tawar Bik Atik.


"Biar saya saja, Bik." Pria itu kekeh menyiapkan makanan untuk istrinya sendiri.


Ia meletakkan beberapa lauk ke atas piring yang berisikan nasi. Tama juga menuangkan sop ke dalam mangkuk kecil yang telah ia ambil dalam lemari.


Begitu semua sudah beres, Tama segera mengangkat nampan berisi makanan itu. Ia membuka pintu kamarnya dengan hati-hati, dan hal yang pertama ia lihat adalah Tari yang meringkuk di atas tempat tidur sambil terisak.


"Tari ... , ayo makan," ajak Tama.


Pria itu duduk di tepian ranjang. Ia meletakkan nampan yang ia bawa ke atas nakas yang jaraknya sangat dekat dengan ranjang mereka.

__ADS_1


Tangan Tama menangkup wajah sang istri. Pria itu mengecup pelipis Tari yang basah. "Aku suapi ya, sekarang kamu duduk dulu."


Tari tak menjawab dan tak juga menolak. Tama mengambil piring berisi makanan dan menyulangkan sesendok nasi ke dalam mulut Tari.


Belum saja terkunyah, perut Tari rasanya seperti diputar-putar. Wanita bertubuh mungil itu menyibakkan selimut tebalnya da langsung berlari ke dalam kamar mandi.


Huek! Huek!


Tama yang mengikuti istrinya ke dalam kamar mandi membantu mengusap tengkuk sang istri. Tangan Tari berpegangan pada pinggiran wastafel, wanita itu merasakan mual lagi dan berikutnya ia kembali muntah.


"Kita ke rumah sakit saja ya!" ajak Tama yang kasihan melihat sang istri tidak berhenti muntah-muntah sejak sesuap nasi masuk ke mulut Tari.


Kepala Tari menggeleng. Tama mengehela napasnya, pria itu memapah tubuh sang istri untuk kembali ke tempat tidur.


"Apa mau aku masakkan yang lain?" tanya Tama, takut-takut jika Tari kembali muntah karena makanan yang tadi.


Lagi-lagi Tari menggelengkan kepalanya. "Sop itu saja," ucap Tari dengan suaranya yang serak.


Tama mengambil semangkuk sop yang belum ia sentuh, pria itu membawa sendok berisi sop ke hadapan Tari. Dengan perasaan cemas Tama menunggu reaksi Tari ketika wanita itu mengunyah sepotong kentang dengan perlahan.


Helaan napas lega milik Tama terdengar, hal yang dikhawatirkan tidak terjadi. "Sepertinya kamu masuk angin, ayo makan lagi." Pria itu kembali menyulangi istrinya dengan sabar.


Mungkin jika saat ini tidak dalam keadaan berduka pasti hati Tari terasa bagai dihinggapi ribuan kupu-kupu. Namun, kepergian ayahnya membuat wanita itu tak bisa merasakan apapun selain rasa sakit karena kehilangan.


Tama meletakkan mangkuk yang sudah kosong itu atas nakas. Ia mengelap sudut bibir Tari yang terkena kuah sop, lalu memberikan segelas air putih.


Tari kembali membaringkan tubuhnya, mata milik wanita itu rasanya sulit sekali untuk terbuka.


Tama dengan setia menunggui sang isri, ia memeluk tubuh Tari yang tidur dengan posisi menyamping. Dapat pria itu rasakan bahu sang istri yang bergetar.


`


`

__ADS_1


`


Bersambung ....


__ADS_2