Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Sebuah Rasa


__ADS_3

Mata Tari menatap suaminya dengan penuh binar. Ia melirik ke arah tangannya yang digenggam oleh Sang suami.


Mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit, hingga langkah keduanya berhenti di depan pintu yang menjadi tujuan Tama.


"Bro, waw ... istrimu cantik sekali," puji Jefry begitu Tama dan istrinya masuk ke dalam ruangan sahabatnya yang merupakan seorang dokter.


Tari melihat wajah kedua pria itu secara bergantian. Ia merasa jika Sang Suami dengan dokter berparas manis ini saling mengenal.


"Ha-ha-ha, tidak perlu bingung begitu. Ayo silahkan duduk," Jefry tertawa melihat ekspresi Tari yang kebingungan. Dan mempersilahkan pasangan suami-istri itu untuk duduk di depan meja kerjanya.


"Jadi bagaimana perihal yang aku tanyakan lewat telfon?" Tama langsung menembak sahabatnya dengan pertanyaan.


Pria yang mengenakan jas berwarna putih itu menghela napas panjang. Ia melirik ke arah Tari yang dari tadi memainkan jarinya di atas meja.


"Kenapa mengambil jalan ini? Apa masih belum bisa lepas sama yang lama?" tanya Jefry dengan wajah yang berubah datar.


"Bisa fokus saja ke pertanyaanku?" Tama enggan menjawab pertanyaan sahabatnya.


"Kau masih sama kerasnya seperti dulu, Tam," ujar Jefry.


Tari yang tadinya menunduk, kini mengangkat kepalanya. Ia meperhatikan wajah Sang Suami yang duduk tepat di sebelahnya, ia tidak mengerti arah bicara kedua pria yang tadi membahas soal 'mengambil jalan ini' dan 'lepas sama yang lama'.


Mata Tari memandang Tama dengan penuh tanya. "Kita ke sini sebenarnya ngapai sih?" Akhirnya sebuah pertanyaan meluncur dari mulut wanita itu.


"Membahas masa depan," jawab Tama.


Bibir Tari melengkung indah, hatinya seperti bunga yang disirami dengan pupuk dan air kala mendengar jawaban dari Sang Suami.


Sementara Jefry menatap sendu ke arah wanita malang yang tampak polos itu.


"Jadi bagaimana, Jef?" tanya Tama menyadarkan sahabatnya yang menatap Tari terlalu dalam.


"A-ah ya? Oh soal itu ... ada banyak pilihan, Tam. Seperti yang sudah aku jelaskan lewat telfon," ucap Jefry.


"Aku mau yang suntikan, sepertinya dari penjelasanmu itu lebih bagus. Untuk menghindari kalau-kalau lupa."


"Suntik? Siapa yang mau disuntik?" pekik Tari dengan panik.


Jefry menggelengkan kepala seraya terkekeh kecil melihat reaksi istri sahabatnya. Lucu dan menggemaskan.


"Tentu kamu lah," jawab Jefry menakut-nakuti Tari.


"Ih Tari gak mau disuntik!" Wanita itu bergidik ngeri sambil membayangkan jarum suntik menembus kulitnya.


Jefry menoleh ke arah Tama dengan mengangkat kedua alisnya. Pria yang berprofesi sebagai dokter itu menampilkan senyum miring. "See! Dia tidak mau disuntik," ucap Jefry.


"Kalau begitu aku pilih opsi kedua," sahut Tama.


Tari menatap kedua pria itu secara bergantian. "Sebenarnya ini ada apa sih?" tanya Tari yang tak kunjung mengerti arah pembicaraan mereka.


"Ja—"

__ADS_1


"Biar aku yang menjelaskan padanya ketika di rumah," ucap Tama buru-buru memotong perkataan sahabatnya. "Berikan saja pil-pil itu," lanjut pria itu.


"Hah, Tari ... kamu bisa mengkonsumsi ini sebelum melakukan hubungan intim dengan suamimu, jangan sampai lupa! Atau akan—"


"Sudah, itu sajakan? Kami pamit." Tama beranjak dari duduknya, pria itu mengamit lengan Tari dan mengajaknya pulang.


"Sahabat luknat!" umpat Jefry, melihat sahabatnya melenggang pergi begitu saja.


***


Dalam perjalanan pulang, Tari terus memperhatikan benda persegi yang berisikan pil.


"Inikan pil KB, kenapa harus minum ini?" tanya Tari berusaha tegar.


Tama yang sedang fokus menyetir, melirik istrinya sekilas. "Untuk menunda sementara, kamu terlalu muda untuk hamil."


"Terlalu muda? Tari kan udah 19 tahun."


"Aku hanya tidak ingin kamu kerepotan karena hamil, apa lagi kamu masih berkuliah," sahut Tama. "Jadi, jangan lupa untuk meminum pil itu," lanjut pria itu.


Tari mengangguk patuh, wanita itu memandang Sang Suami dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, hanya Tari yang tahu makna di baliknya.


"Thank you."


"Ha? Untuk apa?" tanya Tama kebingungan. Pria itu masih fokus menatap jalan raya.


"Nothing, cuma ingin bilang makasih aja," jawab Tari dengan cengengesan.


Mama Widi menyambut Sang Menantu dengan penuh semangat, beberapa pertanyaan meluncur dari mulut Mama Widi. Tari kebingungan dalam menjawabnya.


"Sudah, Ma. Jangan ditanya-tanya terus menantu kita, kalau tuhan sudah berkehendak pasti dikasih cepat." Papa Adam menghentikan pertanyaan beruntun istrinya.


"He-he, maaf ya, Nak. Mama terlalu semangat." Mama Widi meringis malu.


"Sudah, sana bersih-bersih dulu, bentar lagi kita makan malam. Bik Atik sudah masak makanan kesukaan Tari," ujar Papa Adam.


"Siap, Pa!" sahut Tari membentuk hormat.


"Ayo!" Tama menarik lengan istrinya.


Begitu tiba di dalam kamar, keduanya saling memandang. "Siapa yang mandi duluan?" ucap keduanya serentak.


Tari terkikik geli, dirinya merasa lucu ketika ia dan Sang Suami bertanya secara bersamaan. Seketika Tama terpaku akan wajah Tari yang tampak begitu lucu.


Pria itu membuang muka. "Duluan saja, aku harus membuat postest terlebih dahulu."


"Mmm oke, Tari duluan ya."


Cup!


Tari mengecup pipi suaminya secepat kilat, lalu lari begitu saja meninggalkan Tama yang terpaku di tempatnya berdiri.

__ADS_1


Pria itu memegangi pipinya yang sedikit basah. Jantung Tama kembali berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Manda, Manda, Manda," ucap Tama sambil memejamkan mata.


Tangan pria itu memegangi pelipisnya yang berdenyut. Ia berkali-kali menggelengkan kepala, dirasa tidak membaik, Tama memilih untuk melampiaskan emosinya pada pekerjaan kecil.


Ia memilih duduk di sofa single dengan membawa laptop ke atas pangkuannya. Jari-jari Tama menari di atas keyboard, beberapa kalimat mulai muncul di layar lebar nan pipih itu.


Hanya dalam waktu 15 menit, Tama sudah menyelesaikan pekerjaannya dalam membuat postest. Ia menutup kembali laptop miliknya dan meletakkan benda itu ke dalam lemari.


"Ehm, udah selesai?" Tari memperhatikan suaminya yang baru saja menutup lemari.


Tama membalik tubuhnya, ia menatap istrinya yang hanya terbalut dengan handuk putih.


"Kau sengaja menggodaku, hmm?" tanya Tama dengan alis menjungkit. Tatapan matanya jatuh tepat di belahan bukit Tari yang tidak tertutup sempurna.


"Hi dasar mesum!" pekik Tari. Wanita itu menutupi aset minimalisnya dengan menyilangkan kedua tangan.


"Ck, ingat jangan lupa minum pil yang tadi. Malam ini aku menginginkanmu kembali," bisik Tama di telinga Tari.


Wanita itu bergidik geli merasakan hembusan napas suaminya. Dirinya menahan diri untuk tidak tergoda dengan Tama. "Gak mau! Besok-besok aja. Lagian besok Kan hari senin, Tari ada praktek bakery."


"Ya sudah, besoknya lagi."


"Selasa juga ada ... ehm, p-praktek makanan kontinental," ucap Tari berdalih.


"Aku tau jadwalmu," sahut Tama.


"Ih, mandi dulu sana! My lion bau asyem." Tari menutup hidung dengan kedua jarinya. "Eh, ini jangan lupa dicuci yang bersih biar gak rabies," ucap Tari mentoel belalai gajah suaminya.


"Bocah sableng!!!"


Tari kabur menuju walk in closet sambil tergelak. Puas dirinya mengerjai Sang Suami yang selalu mempermainkan hatinya.


Bugh!


Wanita itu terjatuh, mengakibatkan lilitan handuknya terlepas. "Duh!" pekik Tari, buru-buru ia memperbaiki handuknya, dan kembali berlari.


"Hahaha!" Tawa Tama pecah, setelah sekian lama, semenjak kepergian Manda. Baru kali ini suara Tawa itu kembali lepas.


Tari yang sudah berada di dalam walk in closet merutuki dirinya sendiri sambil meringis kesakitan.


"Buset dah, baru ngerjai dikit udah dapat balasan."


`


`


`


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2