Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Mengejar Cinta Pak Duda 39


__ADS_3

Kekecewaan itu tidak hanya dirasakan oleh Fio saja, tetapi juga kepada orang tua Fio yang memang sudah berharap hari ini adalah hari pernikahannya kedua anaknya. Harapan mereka sirna saat Fio mengatakan tak ada pernikahan sebelum Nesya sembuh total. Saat ini Nesya tidak bisa mengingat siapa Fio, tetapi dia masih bisa mengingat sosok Luna. Mungkin karena Fio adalah orang baru sehingga dia tidak bisa mengingatnya. Nesya mengalami kehilangan ingatan sebagian, dimana dia masih tetap merekam ingat lama dam melupakan ingatan barunya.


Pagi ini kedua orang tua Fio pun menjenguk Nesya di rumah baru Sakya. Untuk pertama kali mereka menginjak kaki di rumah sebagus itu.


"Bu, jangan malu-malui Fio!" bisik Fio saat sang ibu terus mengagumi rumah milik Sakya.


"Ibu memang seperti itu! Ndesit!" timpal bapaknya.


"Ibunya kagum saja, apa gak boleh?" protes ibunya.


Tak berapa lama, terlihat Sakya menuruni anak tangga dengan menggendong Nesya.

__ADS_1


"Wah ada kakek dan nenek," kata Sakya yang menunjuk kearah orang tua Fio.


Saat melihat dua orang yang telah duduk di sebuah sofa, tiba-tiba Nesya memegangi kepalanya dan mengaduh. Semua panik, tak terkecuali dengan Sakya sudah merasa sangat khawatir. Namun, detik kemudian Nesya sudah kembali tenang.


"Nenek." Satu kata yang mampu membungkam semua orang yang ada. Seakan mereka semua salah pendengaran. "Ines panggil apa tadi?" tanya Sakya yang merasa terharu, sebuah ibunya Fio adalah orang baru yang dikenalnya.


"Ini nenek yang rumahnya ada di depan rumah lama kan?"


Ibunya Fio tersenyum lebar. "Iya, Sayang. Ini nenek yang rumahnya ada di depan rumah Nesya yang lama. Sini dulu, nenek kangen."


Nesya menggeleng pelan. Dia tidak mengingat sosok yang ada di sampingnya ibu Fio. Meskipun kecewa, tetapi ibunya Fio mencoba untuk tetap tersenyum. "Ini kakek, Sayang," ucapannya.

__ADS_1


Cukup lama orang tua Fio berbincang-bincang dengan Sakya. Dalam kesempatan itupun Sakya meminta permohonan maaf karena dia belum bisa menepati ucapan dan harus menunda untuk waktu yang tidak bisa ditentukan terkait pernikahan dengan Fio.


"Sekali lagi, saya minta maaf Pak, Bu. Semua diluar keinginan saya. Saat ini saya ingin fokus untuk kesembuhan Nesya."


"Kami sebagai orang tua tidak pernah memaksa mu untuk menikahi Fio secepatnya. Tapi ... dengan harapan yang sudah tertata, pasti akan ada luka yang tergores dengan keputusanmu," jelas Pak Mail. "Kami tidak pernah merasa menyesal saat keajaiban itu datang, semoga ingatan Nesya bisa segera pulih," pungkas pak Mail.


Sakya mencerna setiap kata yang terucap dari bibir Pak Mail. Tidak dipungkiri ada setitik rasa penyesalan, tetapi Sakya juga tidak membuat Nesya semakin tertekan dengan pernikahan. Sakya ingin, Nesya bisa menerima Fio terlebih dahulu, tanpa ingin membebani pikirannya.


"Tidak perlu membahas pernikahan! Saat ini yang paling penting adalah kesembuhan Nesya. Fio tidak apa-apa. Jikapun tidak ada pernikahan diantara kami, itu tandanya kami memang tidak berjodoh." Fio mencairkan suasana yang semakin canggung.


"Tidak, Fi! Beri aku waktu. Aku pasti akan segera menikahi.Tapi, untuk saat ini bukan kita juga sudah sepakat untuk memprioritaskan kesembuhan Nesya?"

__ADS_1


Fio tersenyum tipis dengan kesungguhan Sakya. Namun, siapa yang akan tahu tentang takdir seseorang. Meskipun telah berusaha, tetapi saat sang pencipta tidak mengiyakan, hubungan itu tidak akan bertahan lama.


"Fio akan pegang kata-kata pak Sakya," lirih Fio.


__ADS_2