Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Penawaran


__ADS_3

Begitu kuda besi mewah milik Fajar pergi, Tama langsung tersadar dari keterkejutannya. Dan langsung menghadang Tari yang hendak menaiki angkutan umum. Namun, sebuah teriakkan menghentikan pergerakkan kakinya.


"Tari!"


Kepala gadis yang dipanggil namannya itu menoleh, ia melihat Sang Suami yang menyusulnya dengan sedikit berlari.


"Dek, jadi gak ini?" tanya Si Sopir.


"M-maaf, Wak." Tari tidak jadi menaiki angkutan umum itu.


Gadis itu tidak mau membuat Tama semakin merebut perhatian orang-orang yang masih berada di sekitaran halte kampus, dan berakhir membuat orang-orang tau bahwa ia sudah menikah dengan dosen mata kuliah umum itu. Bisa-bisa ia yang disalahkan oleh suaminya.


"Ayo ikut denganku!" Tama menarik tangan istrinya tanpa aba-aba.


"Pak Tama, bisa gak sih ngajaknya yang bener. Tari bukan kambing tau!" protes Tari dengan tubuh yang hampir terhuyung ke depan.


Tama membalik badannya, ia menatap sorot mata yang sedang kesal itu. "Kita kerpakiran sekarang!" titah Tama.


"Eeeh ...," pekik Tari.


Tari berusaha menahan badannya agar tidak bergerak dari tempat ia berdiri, gadis itu menarik lengannya agar Tama tidak bisa menariknya seperti kambing.


"Pak, ini masih di area kampus! Jangan sampai Pak Tama marah-marah sama Tari karena seantero kampus tau kalau kita ini suami-istri," ucap Tari, berusaha menyadarkan Pria itu.


Rupanya ucapan panjang kali lebar Tari tidak dihiraukan oleh Tama. Tangan kekar itu kembali meraih lengan istrinya.


Banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka. Bahkan, suara-suara tak mengenakkan mulai terdengar di telinga Tari.


Lihat tuh! Itu kan anak jurusan boga!


Pasti dia sengaja ngerayu dosen dari fakultas lain.


Cuih! Pasti dirinya ayam kampus!


Dan masih banyak lagi, suara-suara sumbang yang merasuki telinga Tari. Hingga mereka tiba di parkiran khusus dosen di area fakultas ekonomi.


"Eh, Pak Tama. Pulang bareng keponakannya ya hari ini," sapa salah satu dosen yang juga berada di parkiran.


Dahi Tama mengernyit heran, dirinya berusaha mengingat kapan ia mengakui Tari sebagai salah satu kerabatnya.


"Iya, Pak. Ini saya mau nebeng pulang sama PAMAN saya." Bukan Tama yang menyahuti sapaan dosen itu, melainkan Tari yang melakukannya.


Gadis itu menekan kata 'paman' pada kalimatnya. Tari menganggukkan kepala sopan ketika dosen itu masuk ke dalam mobil, dan melenggang pergi.


"Kenapa temanku bisa bicara seperti itu?" tanya Tama sebelum mereka masuk ke dalam kuda besi miliknya.


"Waktu itu, pas mau izin sama Pak Tama," jawab Tari santai.

__ADS_1


***


Kedua insan itu turun dari mobil, begitu tiba di depan rumah. Kepulangan mereka disambut dengan lengkingan suara bocah gembil yang sedari tadi sudah menunggu kedua orang tuanya.


"Mama, Papa!!!" Una berteriak. Membuat Tari khawatir, mengingat luka di sekitar leher anaknya.


"Sayang, jangan teriak-teriak," ucap Tari.


"Solly, Ma," jawab bocah gembil itu dengan cengengesan, sehingga terlihatlah deretan gigi putih milik Aruna.


"Sini, Papa mau gendong kamu ... ," ucap Tama, merentangkan tangannya sambil berjongkok untuk memancing Sang Anak agar mendekat padanya.


Una dengan girangnya masuk ke dalam gendong Papa nya. Tari mengulas senyum bahagia, karena dapat melihat kebahagiaan dua orang yang ia sayangi.


Keluarga kecil itu masuk ke dalam kamar mereka. Una bertepuk tangan riang. Sedangkan Mama Widi dan Papa Adam yang memperhatikan itu, memohon doa agar rumah tangga anaknya bahagia selalu.


"Semoga Tama bisa menerima Tari seutuhnya ya, Pa."


"Aamiin, mereka berhak mendapatkan kebahagiaan," sahut Papa Adam.


Setibanya di kamar, Tama menurunkan putrinya di atas ranjang mereka. "Aku yang mandi duluan? Atau—" ucapan Tama langsung dipotong oleh istrinya.


"Pak Tama aja duluan."


Tari melenggang pergi untuk menyiapkan pakaian santai yang akan dikenakan suaminya. Gadis itu memilih kaos oblong berwarna biru dongker, serta celana pendek berwarna putih.


Gadis itu terkekeh sendiri mengingat kejadian yang membuat Tama malu, tangannya bergerak untuk mengambil benda keramat milik suaminya. Dan pilihan Tari, jatuh pada segi tiga berwarna kuning.


Ia keluar dari ruangan itu dan meletakkan kelengkapan pakaian suaminya di atas ranjang.


"Ma, Una boleh tidul lagi di sini? Soalnya kata Oma, Una gak boleh seling-seling tidul sama Mama Papa, supaya baby gill-nya segela datang."


Tari menggaruk tengkuknya yang tak gatal, mertuanya suka sekali meracuni pikiran Aruna dengan adik bayi.


"Nah itu Papa sudah siap mandi, Una tanya pada Papa aja ya, sayang. Mama mandi dulu," ucap Tari, melimpahkan pertanyaann Una pada Tama.


Pria yang baru keluar dari kamar mandi itu berjalan ke arah ranjang, matanya melihat pakaiannya yang sudah disiapkan oleh Tari. Sedangkan Tari langsung melenggang masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tama mengambil baju pilihan Tari, ia membawa pakaian itu ikut serta ke dalam ruang ganti. Begitu dirinya masuk ke dalam walk in closet, tangan Tama mulai menarik benda keramat yang di selipkan Tari di antara baju serta celananya.


Mata pria itu menatap tak suka pada segi tiga kuning yang ada di tangannya. Ia langsung mencampakkan benda keramat yang memiliki kenangan buruk itu dan menggantinya dengan kain segi tiga yang lain.


Begitu Tama sampai di ranjangnya, Sang Putri sudah membombardir pria itu dengan pertanyaan yang sama dengan yang ditanyakan bocah gembil itu pada Tari.


"Tentu sayang, Una boleh tidur di sini. Putri Papa menginginkan baby girl?" tanya Tama pada Anaknya.


Bocah gembil itu mengangguk antusias dalam menjawab pertanyaan Sang Papa.

__ADS_1


"Baiklah, besok akan Papa usahakan ya," jawab Tama dengan tangan yang mengelus puncak kepala anaknya.


Tari yang baru keluar dari kamar mandi penasaran dengan jawaban Sang Suami. Namun, ia berusaha menahan dirinya untuk tidak bertanya.


"Mama ... kata Papa, Una boleh tidul di sini," ujar anak itu memberi tahu.


Tama menoleh ke arah Tari, rupanya bocah sableng itu juga ditanya hal yang sama oleh putrinya, batin Tama bermonolog.


Keluarga kecil itu mulai bergabung di atas ranjang yang sama. Tak mebutuhkan waktu yang lama, Aruna sudah tertidur di tengah-tengah mereka.


Melihat putrinya yang sudah tertidur, Tama mulai menyuarakan pemikirannya yang terus berenang di kepalanya.


"Kita harus bicara," ucap Tama, memiringkan tubuhnya.


"Tentang?" tanya Tari.


"Rumah tangga kita!" sahut Tama. "Bagaimana jika kita mencoba memperbaiki hubungan ini?"


Jantung Tari berdetak kencang, perkataan suaminya yang terdengar seperti penawaran begitu mendebarkan.


"T-tapi bagaimana caranya?" tanya Tari tergagap.


"Aku akan berusaha membuka hati ini, dan belajar menerima takdir yang sudah tuhan siapkan."


Dengan sedikit ragu Tari menganggukkan kepalanya.


"B-baiklah, Pak Tama."


"Mungkin kau bisa mengganti panggillan itu dengan yang lain," ucap Tama.


"O-okey besok Tari pikirkan."


Mereka berdua kembali berbaring dengan menatap langit-langit kamar. Keduanya dipenuhi dengan pemikirannya yang berbeda.


Tari dengan ketidak percayaannya dengan apa yang terjadi barusan. Sedangkan Tama memikirkan janjinya dengan Mami Sun.


Hari semakin larut. Namun, mata Tari tidak kunjung mengantuk. Tari melirik suaminya yanh sudah tertidur, tiba-tiba ia teringat dengan segi tiga pilihannya.


Gadis itu bergerak dengan hati-hati, satu tangannya mulai beraksi. Tari memegang pinggang celana suaminya, dan menarik celana itu untuk mengintip.


"Sudah kuduga," cebik Tari.


`


`


`

__ADS_1


Pagi semuanya(づ ̄ ³ ̄)づ eh ... duh aduh, m-maaf, othor ketularan Pak Tama jadi soang.


__ADS_2