
Keluarga Batara tengah berkumpul di ruang makan untuk melakukan rutinitas mereka, yaitu makan malam bersama.
Tari dengan telaten menyiapkan makanan suami serta anaknya. Ia beberapa kali menayakan lauk apa yang diinginkan oleh ayah dan anak itu.
"Loh kening kamu kenapa, Tar?" tanya Papa Adam pada menantunya.
Tari yang baru duduk, meraba keningnya yang membiru karena terhantuk dinding.
"Mama baru sadar kening kamu biru begitu," sambung Mama Widi.
"Gak apa kok Ma, Pa. Ini cuma kepentok aja di kampus."
"Bener? Kalau ada yang jahatin kamu bilang aja sama Mama dan Papa," ucap Mama seraya melirik tajam ke arah putranya.
Tama yang ditatap demikian oleh ibu kandungnya memilih diam dan menikmati makanannya. Sedangkan Tari terkikik geli, ia merasa kasihan sekaligus lucu melihat suaminya yang mendapat tatapan menuduh dari Mama Widi.
"Oh iya, Pa. Tadi Mami Sun datang ke sini, buat rusuh pula. Memang wanita—"
"Ma, di sini ada Una," ucap Tama mengingatkan Mamanya.
Papa Adam yang masih menunggu kelanjutan cerita istrinya pun tersadar jika di sini ada cucunya yang tidak boleh mendengar pembicaraan mereka.
"Hehehe, Mama terlalu semangat mau berbagi cerita kejadian tadi sama Papa. Nanti aja, Pa. Mama ceritain pas udah di kamar ya."
Papa Adam mengangguk saja. Mereka semua melanjutkan makan malamnya dalam diam, kecuali Una yang terus bertanya pada Tari.
Selesai sudah acara makan malam keluarga hangat itu. Semua kembali ke kamar masing-masing.
"Mau langsung tidur?" tanya Tari yang melihat suaminya menarik selimut.
"Ya, hari ini cukup melelahkan," jawab pria yang tengah merebahkan tubuhnya. "Mau ke mana?" tanya Tama saat melihat Tari yang membalik badannya.
"Mau ganti baju," sahut Tari tanpa menoleh.
Di dalam walk in closet, Tari menatap pantulan dirinya di depan cermin dengan bergidik ngeri. Ia memutar tubuhnya.
Baju yang ia pakai sama sekali tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Pakaian yang dirinya kenakan saat ini sangat menerawang.
"Baju model kelambu begini siapa yang ngasih sih? Tapi kata Mbah gugel suami suka istrinya pakai ling ... linge, ah baju kelambuan!"
Tadinya Tari ingin merangkai kata yang tepat untuk mengajak sang suami. Namun setelah dipikir-pikir ia tidak mampu untuk menyuarakannya. Jadilah Tari bertanya pada benda pipih serba tau.
Dan salah satu tips yang ia dapat dari Mbah gugel adalah mengenakan pakaian yang mirip seperti kelambu. Wanita itu mengingat jika ia pernah mendapatkan kado yang tak tau dari siapa yang isinya mirip seperti yang disarankan oleh Mbah gugel.
__ADS_1
"Apa gak masuk angin kalau makai ini tiap hari?" Tari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Wanita itu menarik napasnya sebelum keluar dari walk in closet. Ia jalan dengan perlahan menuju ranjang.
Sesampainya di tepian ranjang, Tari memanggil Tama yang sudah memejamkan mata.
"Hmm, tidurlah ini sudah malam." Tama menjawab tanpa membuka matanya.
"Pak Tama ...." Wanita itu kembali memanggil nama suaminya.
Tama yang sudah mengantuk merasa terganggu dengan Tari yang terus memanggilnya. "Ap—" ucapan Tama terpotong begitu ia membuka matanya.
Glek!
Pria itu menelan salivanya degan susah payah, ia langsung mendudukkan dirinya. Tama mengusap kedua matanya untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi.
"K-kau kenapa pakai ini?" tanya Tama tergagap.
"Pak Tama suka?" Tari malah balik bertanya pada suaminya.
Kepala Tama dengan refleks mengangguk. "****! Maksudku tidak, astaga bukan. Maksudku kenapa pakai ligerie? Kau dapat dari mana? Bukannya baju mu semuanya model anak-anak."
"Dapat dari mana tidak penting, Tari mau Pak Tama ...." Wanita itu inisiatif duduk di atas pangkuan sang suami dan mengalukkan tangannya di leher Tama.
Mendapat perlakuan berbeda dari sang istri membuat tubuh Tama mengejang seketika. Rasa kantuk yang tadi melanda kini entah minggat ke mana.
"Punggung mu masih sakit." Tama mencoba untuk waras. Meski otaknya sudah berpikiran liar ke mana-mana.
Tangan Tari mengamit satu tangan Tama, wanita itu meletakkannya di atas salah satu aset miliknya.
"Pak Tama ...." Panggil Tari dengan suara yang lirih.
Entah kenapa, hari ini Tari begitu menginginkan suaminya. Aroma tubuh Tama membuat Tari ingin terus menempel dengan pria itu.
"Kau yakin? Aku tidak bisa berh—"
"Umm!" Tari mengangukkan kepalanya yakin.
Dan detik berikutnya bibir Tama sudah meraup bibir semerah chery milik Tari. Pria itu merengkuh tubuh istrinya, lalu membawa tubuh itu berbaring dengan posisi Tari yang berada di atas.
Ia masih memikirkan punggung Tari yang membiru, meski rasa ingin menguasai tubuh sang istri begitu besar.
Tangan Tama mulai merambat ke tempat favoritnya, dan disaat yang bersamaan lenguhan milik Tari menguar hingga ke telinganya.
__ADS_1
Pria itu dapat melihat wajah mempesona istrinya dari bawah. Terlihat begitu menggoda dan luar biasa.
Benda tak bertulang milik Tama menyusuri kulit putih Tari. Sapuan lidah kasar sang suami membuat tubuh Tari semakin menyala.
Tama yang sudah tidak sabaran merobek pakaian tembus pandang itu dengan sekali hentakkan. Tiada lagi penghalang untuk melanjutkan aksi keduanya.
Wanita yang sudah dimabuk kepayang akibat ulah suaminya itu tidak memperdulikan lingerie yang dirobek dan dicampakkan oleh Tama dengan sembarang.
"Ikuti arahanku," ucap Tama diselah-selah aktivitasnya.
Tari mengikuti arahan suaminya dengan baik, dan detik berikutnya hanya terdengar derit ranjang serta suara-suara yang mampu membuat siapa saja yang mendengarnya gigit jari.
***
Seminggu telah berlalu setelah aktivitas panas yang berbeda dari biasanya. Hubungan Tama dan Tari semakin dekat.
Bahkan kegiatan malam mereka tidak pernah terlewat walau sehari.
Tari juga semakin bergantung dengan Tama. Wanita itu tidak ingin jauh-jauh dari suaminya. Setiap kali berjauhan dengan sang suami, ia merasa seperti ada yang kurang dan mengganjal.
Seperti siang ini, Tari yang sedang tidak ada kelas merasa ingin segera menyusul suaminya yang sedang berada di Resto Batara.
Namun, ia berusaha menahan diri. Wanita itu mengambil ponsel pintarnya dan mulai mengetikkan pesan.
✉ "My Lion udah makan?"
Tari mengirimkan pesan singkat itu ke pada sang suami. Ia menatap benda pipih yang ada di tangannya, hingga terdengar sebuah notif masuk. Dengan sigap ia membaca balasan pesan dari Tama.
✉ "Sudah, Kan kita baru aja siap makan bersama tadi siang. Ini baru sampai di restoran."
Tari merasa sudah lama ditinggal oleh suaminya, padahal mereka baru saja makan bersama. Wanita itu benar-benar aneh belakangan ini.
✉ "Ah iya, Tari lupa hehehe. Ya udah gih lanjut kerja lagi, love you❤."
✉ "Love you too."
Tari mengerjapkan matanya berulang kali, ini pertama kali ia mendapatkan balasan seperti ini dari suaminya.
Wanita itu memeluk ponselnya dengan hati yang berbunga-bunga. Ia berguling di atas tempat tidurnya.
`
`
__ADS_1
`
Bersambung ....