
Terlihat dari jauh beberapa orang berkerumun di pinggir jalan. Seraya berlari kecil, Nadine menghampiri kerumunan tersebut. Dadanya naik turun dengan mata yang melebar. Tubuhnya bergemetar hebat saat melihat siapa sosok yang menjadi bahan kerumunan. Bocah kecil yang beberapa menit berdebat dengan dirinya kini bersimpuh darah di pinggir jalan.
"Nesya!" jerit Nadine membuat orang-orang di sekitar memberi celah untuk Nadine menghampiri Nesya yang sudah tak sadarkan diri.
"Pak ... Bu ... tolong! Tolong ini cucu saya!" teriak Nadine dengan memeluk Nesya.
Dengan cepat salah seorang berbaik hati untuk segera mengantarkan Nesya ke rumah sakit terdekat. "Nesy, bertahanlah." Nadine merasa sangat panik kerena darah yang keluar semakin banyak.
"Maafkan nenek," isak Nadine penuh rasa bersalah.
Mobil yang ditumpangi Nadine telah sampai di rumah sakit terdekat. Dengan segera Nesya dibawa masuk ke dalam untuk segera mendapatkan penanganan medis. Namun, sebelum itu Nadine harus mengisi formulir dan terlebih dahulu. "Tapi saya ingin menemani cucu saya, Sus."
"Tapi jika anda tidak mengisi formulir pendaftaran, anda cucu anda tidak bisa segera mendapatkan penanganan," kata salah seorang suster yang sudah menyodorkan kertas putih kepada Nadine.
"Dalam keadaan darurat seperti ini masih mempermasalahkan pendaftaran!" sinis Nadine dengan kesal. Namun, demi Nesya akhirnya Nadine memilih mengalah.
Nadine tidak tahu apa yang akan dia katakan kepada Sakya nanti. Semua ini diluar dugaannya. Nadine benar-benar merasa sangat gelisah. Apalagi saat salah seorang suster mengatakan jika pasien sedang membuatkan beberapa kantong darah akibat pendarahan tadi.
__ADS_1
"Ya Tuhan ... kenapa jadi seperti ini." Nadine merutuki sikapnya yang egois kepada Nesya.
"Sus, ambil saja darah saya. Kebetulan darah kami sama," ujar Nadine.
***
Dengan langka terburu, Sakya segera menghampiri bekas ibu mertua yang merasa gelisah. "Dimana Ines, Bu?" Nadine mendongak kemudian melirik kearah ruang operasi, seakan itu adalah jawaban.
Mata Sakya mengikuti arah mata Nadine yang mengarah ke sebuah ruangan. Terlihat lampu merah diatas pintu, itu artinya sedang ada pasien di dalamnya. "Jelaskan ada apa dengan Ines, Bu?" tekan Sakya dengan dada naik turun.
Isak tangis Nadine pecah seketika. "Maaf ibu ... semua salah ibu ...."
"Nesya ditabrak lari."
Jantung Sakya seakan berhenti detik itu juga. Tubuh luruh ke lantai dengan lemas. Tak akan terbayangkan lagi bagaimana sakitnya Nesya saat kejadian itu. Air mata Sakya menetes begitu saja. "Maafkan Ibu, Sakya." Nadine mencoba untuk menguatkan Sakya.
Hampir dua jam Nadine dan Sakya menunggu operasi selesai. Sakya yang tidak sabar menunggu hasilnya, hanya bisa mondar-mandir di depan pintu ruang operasi, berharap sang dokter cepat membawa kabar baik.
__ADS_1
"Ines ... bertahan, Nak. Ayah tahu Ines anak yang kuat."
Tak lama lampu telah mati dan pintu pun mulai terbuka. Salah seorang dokter keluar, tetapi belum sempat bisa bernapas, Sakya telah menodongnya dengan berbagai pertanyaan.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya? Dia baik-baik saja 'kan?"
"Syukurlah, anak anda segera dibawa ke rumah sakit. Jika terlambat sedikit, mungkin kami sudah tidak bisa menyelamatkan nyawa anak anda," kata sang dokter. "Alhamdulillah, syukurlah," potong Sakya.
"Tapi ... " jeda dokter sesaat. Sakya menatap dokter dengan tatapan tajam. "Tapi apa, Dok!" tekan Sakya.
"Anak anda mengalami patah tulang kaki. Untuk sementara anak anda tidak harus mengunakan kursi roda."
Detik itu juga hati Sakya seperti sedang tersambar petir, tubuhnya luruh kelantai dengan dada yang terasa sangat sesak.
"Tidak! Tidak mungkin."
Saat ini Nesya sudah dibawa ke ruang rawat, hanya ada Sakya yang berada disini Nesya. Sejak Nesya dipindahkan ke ruang rawat, batang hidung Nadine tak terlihat di depan Sakya. Air matanya terus mengalir saat mendapatkan Kenyataan jika sang anak tidak bisa berjalan dan kecil kemungkinan bisa sembuh kembali. Hati orang tua mana yang tidak akan sakit dan hancur jika mendengar sang anak tidak bisa berjalan lagi, apalagi diusianya yang masih kecil.
__ADS_1
"Maafin ayah, Nak. Ayah terlalu sibuk bekerja dan tidak bisa menjaga kamu dengan baik."
Saat itu juga Sakya langsung mengingat Fio. Dengan cepat, Sakya mengetik sebuah pesan untuk dikirimkan kepada Fio.