
...!Rada anget, yang tidak suka boleh di-skip saja ya, hehehe!...
Di lain tempat, Fajar membaca laporan yang dikirim oleh Tio lewat email. Tangan pria itu mengepal kuat. Ia menjatuhkan semua barang yang ada di atas nakasnya.
Pyar!!!
Lampu tidur terjatuh begitu tangan pria itu menyapunya dengan emosional, pecahan kristal mengenai telapak kaki Fajar yang tidak mengenakan apa pun. Namun, pria itu seakan tidak peduli dengan kakinya yang terluka dan mulai mengeluarkan cairan kental berwarna merah.
"Apa maksud pria brengs3k itu!" geram Fajar.
Dengan napas yang memburu, pria itu membuka laci nakas untuk mengambil ponsel genggamnya.
Ia membuka daftar kontak, dan menekan nomor Tari yang berlabel khusus.
"Sialll!!!" maki Fajar, ketika panggilannya tidak kunjung tersambung.
Pria itu tak patah arang, ia mencoba untuk menghubungi Tari kembali demi memastikan sesuatu.
Secercah cahaya menghinggapi Fajar kala panggilannya tersambung. "Halo, Tari ...."
"Kak Fajar, he-he-he. Ada apa, Kak?"
"Kakak hanya ingin memastikan sesuatu cantik. Apakah kamu ada pergi ke rumah sakit hari ini?" tanya Fajar memastikan. Suara pria yang tadinya marah, kini berubah lunak.
"Eh! Kok Kak Fajar tau?!" pekik Tari.
"Kakak hanya meneb—"
Tut!
Panggilan Fajar terputus begitu saja, pria itu kembali menghubungi Tari, namun kini nomor gadis pujaannya sudah tidak aktif.
"Shiittt!!!" umpat Fajar kesekian kalinya.
"Jadi benar apa yang dikirim Tio. Tari pergi bersama Tama ke rumah sakit, tapi kenapa harus ke ruangan itu? Apa pria brengs3k itu sudah meniduri gadisku! Harggh!!!" teriak Fajar, ia membanting ponsel genggamnya dengan kasar ke dinding.
Benda pipih itu hancur teronggok di atas lantai. Ia menelfon seseorang lewat telfon rumah yang ada di kamarnya.
"Belikan aku ponsel baru! Kirimkan ke kediamanku besok pagi!" perintah Fajar pada bawahannya, ia kembali berteriak kencang. Melampiaskan semua rasa amarah yang menggerogoti hatinya.
Apa lagi, tadi samar-samar ia mendengar suara Tama sebelum panggilan terputus.
"Aku akan merebutnya darimu! Aku tau kau tidak tulus padanya." Fajar menampilkan seringai tajamnya, sebuah rasa atas nama cinta membuat pria itu merasa lebih berhak dan pantas memiliki Tari seutuhnya.
Di kediaman Batara, Tari mengeluarkan protesnya pada Sang suami yang mengambil ponsel genggamnya dengan paksa.
"Ih balikin!" Tari berusaha merebut kembali benda pipih yang berada di genggaman tangan Tama.
Ranjang mereka bergoyang karena gerakan brutal keduanya. Namun, bukan karena aksi panas yang mengasyikan. Melainkan aksi tarik-menarik antara Tari dengan Tama.
"Tari belum selesai bicara sama Kak Fajar tau!" Tari mencebikkan bibirnya. Ia menarik ponsel yang ada di genggaman suaminya dengan kuat, hingga tubuh Tama tertari ke depan.
"Sudah kukatakan jangan dekat-dekat dengan pria itu!" tegas Tama. Balas pria itu menarik dengan tenaga yang lebih besar, hingga tubuh Tari terhuyung ke depan.
Tari menyipitkan matanya. "My lion cemburu ya!" ucap wanita itu dengan menunjuk wajah suaminya.
__ADS_1
"Tidak!" sergah Tama.
"Udah ngaku aja," goda Tari dengan tangan jail yang mentoel-toel benda pusaka milik Tama.
"Aku bilang tidak, ya tidak!"
"Ah masa ...." Tari kembali mentoel belalai gajah Sang Suami yang masih terbungkus rapi.
"Ssts ... B-bocah sableng!" suara Tama berubah remang.
"Ups, dedek lion bangun. Cup-cup-cup, bobok lagi ya sayang." Tari menepuk-nepuk sesuatu yang bangkit tersebut.
Tanpa rasa bersalah, wanita itu membaringkan diri di atas ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Grep!
Hanya dalam sekali hentakkan, selimut yang menutupi tubuh Tari sudah terjatuh ke lantai akibat tarikan kuat dari Tama.
"Kau! Jangan harap bisa sembunyi tangan begitu saja," ancam Tama.
"Ahh!"
Seringai tercipta di wajah pria yang baru saja mer3mas bukit mini milik Tari. Tubuh Tama merangkak ke atas tubuh istrinya.
"P-pak, besok Tari kuliah loh," peringat wanita itu.
"Oh ya?" tanya Tama santai dengan posisi yang intim.
"Iya, My lion," sahut Tari dengan tersenyum lega. Ia bersyukur suaminya itu percaya dengan alasannya.
Tiba-tiba pergulatan terhenti. "Di mana pil-nya?" tanya Tama.
"Di laci," jawab Tari dengan napas ngos-ngosan.
Pria itu buru-buru mengambil pil yang berada di laci samping ranjang.
"Ayo minum!"
Kepala Tari menggeleng kuat. Namun, pria yang sudah dilanda naf5u tidak kehabisan akal. Iya mendorong pil itu ke dalam mulut istrinya dengan benda tak bertulang yang ia miliki.
Gerakan tangan Tama semakin tak terkendali. Benda tidak bertulang pria itu mulai menjelajah ke seluruh area bukit istrinya.
Tangan pria itu pun tak tinggal diam, ia mengabsen setiap lekuk tubuh istrinya, hingga berakhir di bawah pusar.
Suara-suara aneh mulai mengisi seluruh area kamar pasutri itu. Hingga terjadilah kegiatan olah raga di malam hari ala Tama dan Tari.
***
Pagi kembali menyapa, Tari merasakan tubuhnya yang terasa remuk. Tama benar-benar melahapnya tanpa kenal waktu.
"Huh! Sungguh teralalu," keluh Tari dengan menirukan jargon khas Rhoma Irama.
Mata wanita itu bergerak menatap baju serta penutup asetnya yang berserakan di lantai. Tari menurunkan satu kakinya dengan meringis akibat rasa ngilu di area bawah pusarnya.
Dengan tertatih ia melangkah menuju kamar mandi. Sedangkan Tama masih terdidur pulas tanpa mengenakan sehelai benang pun selain selimut yang menutupi tubuh polosnya.
__ADS_1
Tari berendam di dalam bathub yang berisikan air hangat, wanita itu memainkan busa yang menutupi permukaan air.
"Pulang kuliah langsung ke rumah ayah ah," ucap wanita itu sembari meniup busa yang berada di telapak tangannya.
Tari bangkit dengan perlahan dari berendamnya setelah menghabiskan waktu 30 menit untuk berendam. Begitu ia keluar dari kamar mandi, Tari melihat Tama yang masih memejamkan mata dengan posisi tengkurap.
Langkah kaki wanita itu mendekati suaminya. Tari memilih duduk di tepian ranjang, ia mengusap punggung Tama yang tidak tertutupi apa pun.
"Bangun ...," ucap Tari, dengan telapak tangan naik turun.
Tubuh Tama tersentak kala merasakan telapak tangan dingin Tari yang menyentuh kulit punggungnya.
"Eungh! Sudah jam berapa?" tanya Tama sembari membalik tubuhnya.
"His, dedek lion-nya ditutup dong!" Tari menaikan selimut yang merosot dari tubuh suaminya.
"Kenapa? Apa kau tergoda bocah sableng?" Tama kembali bertanya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Alamak! Siapa juga yang tergoda, dah ah! Tari mau pakai baju dulu, My lion mandi gih, bau banget." Tari berjalan meninggalkan suaminya.
"Bau juga bercampur dengan aroma tubuhmu," sahut Tama yang masih bisa didengar oleh Tari.
Gadis itu memilih tidak menanggapi ucapan suaminya, sebab ia harus bergegas pergi ke kampus.
***
"Ini semua gara-gara Pak Tama!" rajuk Tari dengan bersedekap dada.
"Enak saja!" bantah pria yang tidak mau disalahkan.
"Coba aja kalau Pak Tama nggak ngajak Tari main, pasti Tari gak terlambat!" Tari menatap wajah Tama dengan komuk cemberut.
"Siapa suruh menggoda saya?" balas pria itu.
"Tari cuma ganti baju di dalam walk in closet di bilang menggoda?!" tanya Tari tak habis pikir dengan suaminya.
Tama hanya menanggapi Tari dengan mengendikkan bahu.
"Huh! Kalau begini Tari gak mau masuk kelas, pasti kalau masuk disuruh pulang karena terlambat." Wanita itu menghembuskan napasnya kasar.
"Jadi?" tanya Tama.
"Hadeh, ya jadi Tari absen lah. Hari ini Tari langsung ke rumah ayah saja."
"Oke, ku antar. Hari ini aku mengisi kelas siang," ucap Tama. Pria itu kembali melajukan mobilnya yang tadi terparkir di pinggir jalan.
Tari menganggukkan kepalanya, setidaknya ada kemajuan dari Tama.
`
`
`
Bersambung ....
__ADS_1