Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Mengejar Cinta Pak Duda 17


__ADS_3

Fio terkejut saat mobil yang ditumpanginya berhenti di depan sebuah TPU. Namun, tidak dengan Nesya yang sudah tidak sabar untuk segera turun dan mencari rumah terakhir sang ibu.


"Aunty, ayo turun!"


Fio mengikuti langkah Nesya yang dipandu oleh Sakya. Tepat di salah satu makam dengan batu nisan nama Sarah, Sakya berhenti lalu berjongkok untuk mengusap batu pusara. Begitu juga dengan Nesya yang tak kuat lagi membendung tangisannya. Fio yang berada disamping Nesya terus menguat hati bocah itu agar lebih tenang.


Fio juga tidak bisa membendung air matanya saat Nesya mengeluarkan keluh kesahnya kepada sang bunda yang telah berada dibawah pusara.


"Bunda ... mengapa bunda meninggalkan Ines? Ines sangat merindukan bunda. Semua orang juga jahat menyembunyikan kepergian bunda. Ines sedih, Bunda."


Sakya membiarkan Nesya untuk mengadu diatas batu nisan bundanya. Mungkin dengan cara seperti itu Nesya bisa meras lega dan bisa menerima kenyataan yang ada.


Setelah cukup lama Nesya mengeluarkan isi hatinya, tiba saatnya Sakya mengajaknya untuk pulang. "Lain kali kita datang kesini lagi ya, Sayang. Sekarang kita pulang dulu. Kan Ines bilang kita mau piknik ke kebun binatang."


Nesya segera mengusap jejak air matanya, kemudian juga mengusap batu pusara bundanya. "Bunda, Ines pulang dulu ya. Ines sayang, Bunda."


***

__ADS_1


Mobil melaju dengan sedang. Perubahan wajah Nesya juga sangat terlihat. Jika sebelum mengunjungi makam sang ibu dia sangat ceria, tetapi saat ini Nesya memilih diam. Hal itu tak luput dari pandangan Sakya yang sedang mengemudikan mobilnya.


Bukan hanya Nesya yang merasa sangat kehilangan, Sakya pun merasakan kehilangan yang amat mendalam. Hingga sampai saat ini nama sang istri masih tersimpan dalam hatinya.


Hampir satu jam, akhirnya mobil Sakya telah memasuki area parkir. Dengan bantuan Fio, Nesya keluar dari mobil.


"Pak jadi semua ini aku yang bawa?" tanya Fio sambil membuka bagasi mobil.


"Kalau kamu bisa bawa sendiri, ya bawa aja. Tapi kalau gak bisa, ya tinggalkan saja."


Fio mendengus kesal. Itu artinya dia harus membawa semua perlengkapan yang telah disiapkan dari rumah.


Sakya menoleh kearah Fio sambil menggulung ujung kemejanya hingga ke siku.


"Memangnya saya ada mengatakan jika saya tidak mau membantu?" tanya Sakya dengan alis yang menaut.


"Jadi ...."

__ADS_1


Tak ada kata-kata yang keluar lagi dari bibir Sakya, tetapi dia segera mengambil perlengkapan yang hendak dia bawa masuk ke dalam.


"Udah ayo jalan!" perintahnya.


***


Jauh diseberang sana, wanita tengah baya yang diam-diam mengawasi Sakya merasa tidak senang dengan kedekatan sang Nesya dengan Fio. Wanita itu sangat takut jika posisi Sarah di hati Sakya akan segera tergantikan oleh perempuan lain. Di tambah lagi saat ini Sakya telah pindah rumah di salah satu kompleks elit.


"Aku tidak bisa membiarkan mereka terus bersama. Jika sampai Sakya menikah lagi, maka aku tidak akan mendapatkan apa-apa.".


Wanita yang tak lain adalah ibu mertua Sakya itu merasa menyesal telah memberikan Nesya kepada Sakya. Jika saat itu dia tidak memberikan Nesya, sudah di pastikan Sakya tidak akan pernah dekat wanita lain.


"Semua ini gara-gara tua bangka itu yang harus sakit-sakitan. Coba saja dia tidak keluar masuk rumah sakit, mana mungkin aku akan menyerahkan Nesya kepada bapaknya."


Tatapan penuh tidak suka menguasai jiwanya. Bahkan mertuanya juga telah menyiapkan rencana baru untuk menjauhkan hubungan Fio dengan Sakya.


****

__ADS_1


Nanya doang. Masih ada yang baca gak sih? Kalau emang gak ada, mungkin novelnya gak aku lanjutin. Mau fokus sama novel lainnya 😭😭


__ADS_2