
...!Rada-rada sedikit anget, yang tidak suka boleh minggir dulu ya, hehehe!...
Pagi menyapa seluruh insan di dunia setelah hujan mengguyur bumi tadi malam. Tari terbangun dari tidur lelapnya, semalam ia ketiduran ketika mendengar cerita sang suami tentang Manda.
Wanita itu mendudukkan diri, ia merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal. Ia menatap Tama dan Una bergantian. Tangannya terulur ke kening Tama, ia memeriksa suhu tubuh sang suami dengan menempelkan punggung tangannya ke kening Tama.
Tari menarik napas lega, suhu tubuh suaminya sudah kembali normal.
"Hem, sudah bangun dari tadi?" Tama membuka matanya tiba-tiba, hal itu mengaget Tari yang masih memperhatikan wajah sang suami.
"E-eh baru aja kok, My lion." Tari bergerak salah tinggkah.
Tama menggelengkan kepalanya, pria itu mendudukkan diri dengan perlahan. Ia tidak lagi meringis kesakitan.
"Apa masih terasa sakit?" tanya Tari melihat Tama yang tak mengaduh seperti semalam.
"Sudah tidak terasa apa-apa," sahut Tama.
Wanita itu melihat suaminya yang sedang menurunkan kaki dari ranjang, Tari pun ikut melakukan hal yang sama. Sedangkan Una masih tidur di atas ranjang dengan nyaman.
Tari menyusul Tama yang hampir menggapai handle pintu kamar mandi. Wanita bertubuh mungil itu menahan tangan suaminya.
"Ada apa?" Tama menjungkitkan sebelah alisnya.
"Ehm gak jadi," ucap Tari. Ia buru-buru membalik badannya.
Namun, belum sempat kakinya melangkah, Tama sudah lebih dulu merengkuh tubuh pendeknya dari belakang.
"Apa bisa kita berolah raga sedikit? Ini masih terlalu pagi untuk bersiap-siap," bisik Tama di telinga Tari.
Bulu roma wanita itu meremang ketika hembusan napas hangat milik sang suami menerpa telinganya.
"T-tapi, ada Una di sini. Nanti kalau—"
"Kita lakukan di tempat lain, sepertinya bathub menarik untuk dicoba." Tama meletakkan dagunya ke atas kepala sang istri, tangannya semakin merengkuh Tari lebih dalam.
"A-anu ...." Tari mencoba melepaskan tangan kokoh yang melilit di pinggangnya.
Bukannya terlepas, Tama malah lebih menguatkan rengkuhannya. "Terima kasih sudah merawatku," ucap Tama, namun masih dengan suaranya yang datar.
Pipi Tari bersemu merah, wanita itu merasa sedang berada di dunia mimpi. Ia mencubit pipinya sendiri demi memastikan bahwa semua ini bukan mimpi belaka.
__ADS_1
Tari meringis kesakitan, ia menarik pipinya terlalu kuat. 'Ini bukan mimpi, ini nyata. Pak Tama ... Pak Tama melihatku.' wanita itu berucap dalam hati.
"Jangan menyubit pipimu sendiri."
"Akh!!!" pekik Tari. Wanita itu menutup mulut dengan kedua telapak tangannya, untung saja Una tidak terbangun.
"Kepala Tari pusing," rengek Tari.
Tama menggendong tubuh Tari persis seperti mengangkat karung beras. Pria itu melangkah masuk ke dalam kamar mandi, tak lupa ia mengunci pintu agar olah raga paginya tidak terganggu.
Pria itu menurunkan istrinya di atas wastafel, mulut Tari hendak melayangkan protes. Namun, Tama lebih dulu meraup bibir semanis buah chery milik wanita itu dengan lahap.
Decapan dari keduanya menandakan pergulatan benda kenyal sedang berlangsung. Tak ingin membuang waktu, Tama melepaskan semua kain yang melekat di tubuh Tari.
Pria itu menyudahi pergulatan yang membuat bibir sang istri terlihat bengkak. Tama menarik ke atas kaus miliknya, pria itu tanpa malu melepaskan celana serta segi tiga miliknya di depan Tari.
Kini keduanya sama-sama polos, Tama memunguti pakaian mereka, lalu membalik badannya untuk mencampakkan kain-kain itu.
Mata Tari fokus ke satu titik, yaitu bumper milik sang suami. "Wah udah berubah warna," ucap wanita itu.
Tama kembali membalik badannya, ia membawa Tari ke dalam pelukan ala koala.
"My lion, tadi Tari lihat warna bekas ciuman angsanya sudah menggelap."
Pria itu merem4s bumper sang istri, Tari terpekik kaget sekaligus merasakan hal aneh yang bergejolak, apa lagi ketika Tama melahap bukit kembar miliknya dengan rakus secara tiba-tiba.
Tama mirip seperti bayi besar yang rakus ketika menyesap sumber kehidupannya. Tari semakin dibuat tak tahan, perempuan itu sampai menjerit tertahan.
Kaki Tama melangkah menuju bathub, ia turun bersama dengan Tari yang masih berada dalam gendongan koalanya.
Tari merasa tak nyaman dengan sesuatu yang menganjal di bawahnya.
"Kau merasakannya? Dia sudah tidak sabar. Kau harus menidurkannya." Tama membelai pipi sang istri yang berada di atas pangkuannya.
Tama mengangkat tubuh sang istri dan mulai melakukan penyatuan. Ia memompa tubuh sang istri dengan liarnya. Pria itu bahkan lupa untuk menyuruh Tari meminum pil KB-nya, ia sudah dirasuki dengan sesuatu yang mendorong rasa ingin menggagahi sang istri.
Pria itu menyelesaikan olah raga paginya dengan cepat, ia membantu Tari yang lemas dengan menggosok punggung istrinya.
"Tari belum minum pil nya loh," ucap Tari tiba-tiba.
Gerakan menggosok punggung Tari terhenti sejenak, pria itu baru sadar ketika sang istri mengatakannya. Namun pria itu mencoba berpikir positif, dengan meyakinkan tidak akan mungkin jadi jika lupa minum sekali.
__ADS_1
Tama tidak tau jika Tari tidak pernah meminum pil-pil penunda kehamilannya. Hanya sekali Tari mengkonsumsi pil KB, itu pun karena Tama yang menjejalinya.
"Tidak apa," jawab Tama. Pria itu kembali membersihkan tubuh istrinya. Ia tak mau ambil pusing. Karena dirinya yakin, lupa mengkonsumsi sekali tidak akan mendatangkan masalah.
***
"Aku harus berangkat lebih dulu," ucap Tama. Ia menunduduk agar bisa melihat wajah Tari yang sedang memasangkan dasinya.
"Iya gak apa, Tari diantar Pak Jaka aja. Memangnya mau ke mana?" tanya Tari yang masih fokus dengan aktivitasnya.
"Ke Resto Batara. Pagi ini aku harus mengecek secara langsung." Tama menjelaskan ke mana dirinya akan pergi dengan singkat.
Tari mengangguk, ia memilih berangkat dengan Pak Jaka dan Una dari pada terlambat masuk dan ketinggalan materi.
"Oke, sudah selesai." Tari menepuk pelan bahu Tama seraya tersenyum ceria.
Wanita itu mendengakkan kepala. "Good luck, My Lion." Tangannya terulur untuk menangkup kedua pipi Tama.
"Jangan mancing-mancing," ucap Tama memperingati.
"Capek deh!" Tari menepuk jidatnya. "Dasar suami meskut!" Wanita itu membalik badannya dan segera keluar dari kamar.
Tama menyusul sang istri yang sudah keluar lebih dulu. Ia tak berniat untuk mengikuti Tari, karena waktu yang sudah memburu.
Mereka pergi dengan mobil yang berbeda. Tari mengeluh dalam hati, ia merasa ada hal yang tak enak akan terjadi. Tapi, perempuan itu berusaha berpikiran menepisnya.
Mata bulatnya melirik ke Una yang memeluk pinggangnya. Bocah gembil itu begitu menyayangi Tari.
Hingga akhirnya, Una dan Tari harus berpisah sementara karena mobil mereka sudah tiba di sekolah Una.
Wanita bertubuh mungil itu mengantar anaknya sampai ke depan pintu kelas, ia melihat salah satu anak laki-laki yang menyambut Una dengan wajah mengejek. Namun, Tari dapat melihat jika itu bentuk menarik perhatian sebagai teman.
"Mirip sekali sama si Raihan kelakuannya ckckck," gumam Tari.
`
`
`
Bersambung ....
__ADS_1
Hadeh si Tama semalam sakit, sekarang udah sehat aja. Dasar aneh!