
Fio merasa ini terlalu cepat untuk dirinya. Meskipun dia belum siap, tetapi demi tanggung jawab untuk menjaga Nesya Fio pasrah saja saat Sakya mengatakan jika hari ini mereka sudah menemukan rumah baru dan akan segera pindah.
"Ingat yang pernah ibu katakan!" pesan ibunya saat mengantar Fio untuk ikut bersama dengan Sakya pindah.
"Iya Ibu. Doain Fio betah tinggal disana. Ibu kan tahu kalau Fio gak bisa jauh dari Ibu." Fio segera memeluk tubuh ibunya. Rasanya begitu berat saat ingin meninggalkan keluarganya. Padahal jarak rumah baru Sakya tidak terlalu jauh, tetapi hati Fio terlalu berat untuk berpisah dari ibunya.
"Halah, lebay! Sudah sana, pak Sakya udah nungguin tuh!" celetuk Daniel yang turut mengantar Fio hingga halaman rumahnya.
"Selama gue gak ada di rumah, tugas Luh adalah jagain Ibu! Awa aja pulang sekolah ngeluyur aja!" ancam Fio kepada adiknya.
Kepergian Gio bersama dengan Sakya tak luput dari penglihatan tetangganya, apalagi teh Shanti juga melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Fio pergi bersama dengan duren satu anak itu.
"Gaswat! Aku harus segera laporan sama teh Mala. Bisa hancur dunia perjamuan kalau sampai Fio kawin sama pak duren itu." Teh Shanti dengan langkah cepat menuju rumah teh Mala selaku ketua duta jamu.
***
Sesampainya di rumah baru, Fio merasa sedikit canggung. Dadanya yang terus menari membuatnya semakin gugup. Ditambah lagi saat ini dia akan tinggal satu atap dengan pak duren. Fio harus bisa mengontrol detak jantungnya agar tidak mati kaku.
"Nah sudah sampai," kata Sakya kepada Nesya.
Nesya merasa sangat senang karena ternyata rumah barunya ada di tengah kota dan berlantai dua. "Hore ... rumah Ines bagus," seru bocah kecil itu dengan kepolosannya.
"Kami suka?" tanya Sakya.
"Tentu, Yah. Ines sangat suka," jawab Nesya dengan wajah berbinar.
Bahkan Fio saja tidak bisa berkata apa-apa lagi saat melihat rumah baru milik Sakya yang menurutnya sangat bagus. Fio yakin harga rumah ini tidak kaleng-kaleng.
__ADS_1
"Bagaimana menurutmu, Fi?" Sakya meminta pendapat Fio.
Fio yang sedang berpikir jauh merasa gelagapan saat Sakya bertanya kepada dirinya.
"Ba-bagus, Pak," gugup Fio.
"Kamu kenapa gugup seperti itu? Rumah ini memang bagus. Seharusnya rumah ini akan menjadi rumah keluarga kecil saya dengan Sarah, tetapi Tuhan berkata lain. Sudahlah, ayo turun! Di dalam ada Luna yang sedang menunggu kita," ajak Sakya.
Fio menautkan alisnya dengan rasa penasaran siapa Luna yang dimaksud oleh Sakya.
Sambil menggendong tubuh mungil Nesya, Fio mengikuti langkah Sakya untuk masuk kedalam rumah barunya. Hatinya sudah berdebar tak menentu. Berharap Luna bukanlah calon ibu untuk Nesya.
Baru saja Sakya membuka pintu, seorang wanita cantik segera bergegas untuk menyambutnya dengan senyum yang menghias di wajahnya.
"Mas Sakya ... cepat sekali sampainya. Aku belum siap beresin kamar Nesya, lho," ucapannya dengan tatapan mendamba.
"Fio?" Luna membeo. "Jadi dia beneran tinggal disini, Mas?" tanya Luna shock.
"Bukankah sudah ku katakan jika aku pasti membawa dia karena Nesya sudah merasa nyaman."
"Tapi Mas ...."
Sakya seolah tak ingin mendengarkan penolakan dari Luna. Dia segera membawa Fio dan Nesya menuju kamar Nesya yang ada di lantai dua.
Saat ini Nesya sudah berpindah tangan ke gendongan sang ayah. Nesya yang belum pernah melihat Luna pun bertanya, "Ayah, siapa bibi tadi?"
Sakya segera menjawab, "Dia teman ayah."
__ADS_1
Nesya hanya mengangguk pelan karena dia tidak tertarik dengan Luna. Namun, berbeda dengan Fio yang ingin tahu lebih dalam siapa itu Luna dan apa hubungannya dengan Sakya. Jangan sampai apa yang dia khawatirkan sejak tadi menjadi sebuah kenyataan. Fio sangat tidak rela jika pak duren ternyata sudah memiliki calon ibu untuk Nesya.
"Gila, sungguh gila! Ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Aku tidak akan membiarkan hatiku hancur berkeping-keping hanya karena wanita itu. Harus segera dipertanyakan siapa itu Luna. Dan jika memang dia adalah calon ibu untuk Nesya, aku tidak mau lagi untuk menjadi pengasuh Nesya lagi!"
Setelah memperlihatkan isi kamar sang anak, Sakya pun mengajak Nesya untuk melihat-lihat setiap ruangan di rumahnya. Berharap sang anak menyukainya.
"Aunty ... lihat, ada kolam renang. Aunty harus ajarin Ines renang ya!" seru Nesya dengan penuh kebahagiaan.
"Tapi aunty tidak bisa renang, Sayang."
"Yah ...." Nesya sedikit kecewa.
"Gimana kalau tante yang ajarin Nesya renang. Tante jago renang, lho," sahut Luna yang tiba-tiba sudah berada di kolam renang bersama dengan ayahnya.
"Tapi Ines gak mau!" balas Nesya dengan ketus.
Entah ada apa dengan Nesya, tetapi baru saja bertemu dengan Luna, Nesya sudah menunjukkan rasa tidak suka kepada wanita itu.
"Ines, gak boleh gitu! Yang sopan!" tegur ayahnya.
Nesya hanya bisa menatap Fio, berharap dia mendapatkan pembelaan darinya. Sambil tersenyum, Fio langsung menggendong Nesya dan berkata, "Ines mandi dulu ya sebelum bobok siang."
Bocah yang masih polos itu hanya mengangguk pelan. Setelah meminta izin kepada Sakya, Fio segera membawa Nesya ke kamarnya.
Saat ini Fio tahu bagaimana perasaan Nesya. Mungkin belum terbiasa saja dengan keberadaan Luna yang secara tiba-tiba. Apalagi Luna yang selalu menempel kepada ayahnya.
"Aunty harus bilang sama ayah kalau Ines gak mau diajarin renang sama tante Luna!"
__ADS_1