
"Saudara Tama mengalami kecelakan lalu lintas, sekarang saudara Tama dalam penanganan dokter. Saya orang yang membawa kerabat anda ke rumah sakit," ucap seseorang yang mengangkat panggilan dari Tari.
Deg!
Tangan Tari terasa gemetar, seketika wajah wanita itu menjadi pucat. Pikirannya tak karuan mendapat kabar buruk mengenai suaminya.
"Di rumah sakit mana suami saya dirawat, Pak?" tanya Tari dengan tak sabaran.
Orang itu pun menyebutkan nama dan alamat rumah sakit yang menangani Tama. Begitu mendapatkan informasi tersebut, Tari langsung mengucapkan terima kasih dan mengakhiri panggillannya.
"Bik ...." Lirih Tari.
"Sabar ya, Nak. Ayo Bik Arum panggilan Pak supir untuk mengantar kita ke tempat suami kamu dirawat."
Kepala Tari mengangguk, wanita bertubuh mungil itu berdiri dengan hati-hati. Kepalanya terasa seperti tertimpa batu besar, sungguh dirinya merasa takut. Apa lagi mengingat ucapan Tama sebelum pergi tadi.
"Boleh aku memelukmu untuk yang terakhir?"
"Apa aku harus mati agar bisa berada di sisimu?"
"Jika iya, maka aku mau memilih jalan itu—"
Rasa takut semakin menyulut perasaan Tari saat ucapan Tama menggema di kepalanya. Wanita itu terus merapalkan doa agar suaminya baik-baik saja.
__ADS_1
"Ayo masuk, Nak," seru Bik Arum pada Tari.
Wanita bertubuh mungil itu masuk ke dalam mobil, ia memainkan tangannya karena khawatir. Sesekali Tari mengusap perutnya sambil berkata dalam hati. "Semoga Papa baik-baik saja ya, Nak."
Setelah menempuh perjalanan yang tidak begitu jauh, akhirnya Tari tiba di rumah sakit tempat suaminya berada.
Wanita itu turun dengan terburu-buru, untung saja ada Bik Arum yang mengingatkan Tari untuk berhati-hati.
Tari menanyakan pada resepsionis rumah sakit perihal ruangan atas nama suaminya. Begitu resepsionis rumah sakit menyebutkan letak ruangan sang suami, Tari dan Bik Arum langsung bergegas pergi.
"Kerabat Pak Tama?" tanya pria yang menolong Tama.
Tari yang baru sampai di depan ruangan ICU menganggukkan kepalanya. "Saya istrinya," sahut Tari.
"Pak, bagaimana keadaan suami saya?" tanya Tari tanpa basa-basi.
"A-aa iya, suami kamu masih ditangani oleh dokter."
Bik Arum mengusap bahu Tari yang bergetar, wanita bertubuh mungil itu beralih ke arah pintu ruangan ICU, dirinya menjauh dari Bik Arum dan Pria yang menolong suaminya.
Tari berdiri tepat di depan pintu kaca tersebut, ia memegang benda dingin itu dengan rasa takut.
Tari menoleh ke belekang, ia kembali menghampiri pria yang menolong suaminya. "S-suami saya baik-baik saja kan? Tadi Pak Tama masih bangun kan?" tanya Tari dengan lelehan air mata.
__ADS_1
"Suami kamu dalam keadaan tidak sadarkan diri saat di bawa ke rumah sakit. Lebih lanjutnya kita menunggu dokter saja."
Rasanya hati Tari semakin gelisah mendengar jika suaminya tidak sadarkan diri.
"Ah, hampir saja saya lupa. Ini dompet, serta ponsel suami kamu," ucap Pria yang menolong Tama.
Tari menerima barang-barang milik suaminya, ia mengucapkan banyak terima kasih karena sudah membantu sang suami.
Pria baik hati yang menolong Tama masih ikut menunggu hingga Tama selesai ditangani.
"Bagaimana kondisi suami saya, Dok?" tanya Tari begitu dokter yang menangani Tama keluar.
"Pasien mengalami cedera ringan dibagian kepala dan beberapa luka di bagian tangan dan juga kaki," ujar dokter tersebut.
"Apa saya sudah boleh masuk untuk melihat suami saya?" tanya Tari kembali.
Dokter itu menjelaskan jika suaminya boleh dibesuk begitu Tama sudah dipindahkan ke ruang rawat karena saat ini Tama masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.
`
`
`
__ADS_1
Bersambung ....