Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Mengejar Cinta Pak Duda 34


__ADS_3

Seakan tak memiliki rasa malu, Fio mengiba didepan Sakya untuk segera dinikahinya.


Beberapa jam yang lalu, kedua orang tua Fio menyetujui permintaan konyol Fio yang menginginkan pernikahannya dan pernikahan Daniel dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Awalnya sang bapak merasa tidak setuju karena Daniel masih sekolah dan bagaimana kelak dia akan membiayai hidup istrinya. Namun, Fio terus menguatkan sang bapak jika gaya pacaran anak zaman sekarang nanam dulu baru tanggung jawab, akhirnya hanya akan membuat aib keluarga. Apalagi Fio juga menjelaskan jika tidak serega diambil, kemungkinan Karina akan langsung dibawa keluarganya untuk keluar Negeri.


Saat ini Sakya menatap luas hamparan gedung yang terlihat dari balkon kamar rawat Nesya. Memang sungguh gila saat Fio meminta Sakya untuk dinikahi dengan alasan ingin membantu Daniel. Memang saat itu Sakya juga sudah meminta izin kepada kedua orang tua Fio, jika dia ingin menikahi Fio. Namun, saat ini suasana telah berubah. Nadine sudah pergi tanpa kabar berita lagi dan yang lebih utama adalah masalah Nesya yang tak kunjung siuman pasca operasi. Saat ini Sakya benar-benar tidak ingin kehilangan satu-satunya harta terindahnya.


"Pak, tolong!" pinta Fio untuk kesekian kalinya. Namun, Sakya belum bersuara. Sakya tidak yakin dengan apa yang pernah dia ucapkan, meskipun hanya ingin menikah sebagai status belaka, nyatanya saat ini hatinya tergoyahkan. Bayangan Sarah tak lepas dari pikiran.


"Selain untuk membantu Daniel, aku juga gak meminta pak Sakya untuk mencintaiku. Aku hanya ingin Nesya tumbuh dengan kasih sayang yang lengkap dan tidak merasa sendirian lagi."


Fio tak gentar meskipun Sakya masih membisu tanpa kata. Baginya tak ada kata menyerah sebelum menang. Hanya tinggal satu langkah lagi, impian Fio untuk bersanding dengan Sakya akan segera terkabulkan, meskipun dia harus kehilangan rasa malunya.

__ADS_1


Terdengar helaan napas panjang dari Sakya yang mempertandakan jika saat ini Sakya dalam kebimbangan.


"Pak jawab! Apakah pak Sakya mau menikahi atau tidak. Jika iya, katakan iya! Jika tidak, ya tinggal bilang saja. Aku tidak apa-apa dan akan baik -baik saja."


Meskipun berpura-pura untuk tetap baik-baik saja, tetapi hatinya sangat rapuh. Ingin menjerit dan meraung saat tak sedikitpun tanda-tanda Sakya akan memberikan jawaban.


Fio sudah tahu jawab apa yang akan keluar dari bibir Sakya. Mungkin dirinya yang terlalu percaya diri dan tanpa persetujuan dari Sakya, Fio telah lancang mengatakan kepada orang tuanya jika Sakya ingin menikahi Fio secepatnya.


"Oke Aku bersedia untuk menikahimu, tetapi semua berjalan sesuai kontrak yang telah aku siapkan saat itu."


Deg!

__ADS_1


Jantung Fio berdebar tak menentu. Bagaikan mimpi, Fio mencubit pelan di pipinya. "Aduh sakit," lirih Fio.


"Pak Sakya setuju dengan ucapan ku?" tanya Fio sedikit ragu.


"Setelah aku pikir-pikir lagi aku setuju."


Akhirnya perjuangan Fio tidak sia-sia, meskipun harus menanggung rasa malunya. "Tapi seperti kesepakatan awal, bagaimana?" tanya Sakya.


Meskipun akan menyakitkan, tetapi dengan senang hati Fio mengiyakan saja keinginan Sakya. Dalam hati, Fio juga terus berpikir lebih keras lagi agar bisa mendapatkan hati Sakya.


***

__ADS_1


__ADS_2