
Ibu Fio bernapas lega saat melihat hasil tes kehamilan Fio. Tidak ada garis dua yang artinya Fio memang sedang tidak hamil. "Alhamdulillah Gusti," seru ibu Fio dengan alat tes kehamilan di tangannya. Begitu juga dengan pak Mail yang tidak jadi mencoret nama Fio dari kartu keluarga.
"Nah, bener kan kalau Fio itu gak hamil. Lagian kalian lebih percaya sama mulut ternganga," oceh Fio yang merasa puas.
"Hus ... gak boleh ngomong gitu. Nanti wak Yeni dengar, marah dia."
"Ibu ngapain masih belain orang lain? Takut gak ada temen buat ngerumpi ya?" ejek Fio.
Ibunya hanya bisa terdiam. Apa yang dikatakan oleh Fio memang ada benarnya, karena wak Yeni adalah tetangga tempatnya berghibah.
"Pokoknya Fio mau naman Fio kembali bersih. Wak Yeni harus bertanggung jawab dengan kabar burung yang sudah terlanjur membakar hati penghuni kampung ini!" pinta Fio.
"Kamu tenang saja, ibu yang akan bereskan semua."
***
Sudah tiga hari Fio beristirahat di rumahnya dan saat ini kondisinya juga sudah sehat seperti sedia kala. Fio juga sudah memberi kabar kepada Sakya jika dia sudah sehat. Namun, Sakya belum bisa menjemputnya karena sedang ada pekerjaan yang urgent.
Fio hanya bisa bersabar sesuai dengan perintah Sakya yang akan menjemput beberapa hari lagi. Selain merindukan wajah yang mengguncangkan hatinya, Fio juga merindukan Nesya, bocah imut dengan segala kepolosannya.
"Nunggu beberapa hari aja dah kayak nunggu satu tahun," gerutunya.
__ADS_1
Fio tidak mempunyai kegiatan selain makan dan menonton televisi. Hidupnya seolah kembali lagi seperti sebelum menjadi pengasuh Nesya.
Baru saja Fio ingin memejamkan matanya, suara ribut di depan rumah sangat jelas menusuk telinganya. Karena merasa penasaran, Fio mengintip dari celah jendelanya. "Ngapain itu para jamu bawa pasukan kesini. Udah kayak mau demo aja," pikir Fio.
"Fio keluar kamu! Dasar kamu perempuan gak punya malu!" Suara itu menggetarkan hati Fio.
"Keluar kamu!" teriaknya lagi.
"Mampus ternyata gue lagi didemo sama warga." Fio segera mencari ibunya yang sudah berjanji akan menyelesaikan salah paham ini. Namun, sialan sang ibu sedang tidak ada di rumah. Saat ini hanya Fio seorang yang berada di rumah itu. Fio takut dan gugup jika harus menghadapi warga, meskipun dia tidak bersalah. Keganasan warga tidak bisa dihadapi karena lebih suka main hakim sendiri.
"Masa bodoh. Ogah gue keluar." Fio malah membenamkan tubuhnya diatas tempat tidur.
Kesal karena Fio yang tak kunjung keluar para pendemo memilih membubarkan diri satu persatu.
"Capek, Teh. Kayak antri BLT aja," celoteh salah seorang warga.
"Iya. Mana panas, haus lagi. Awas aja kalau bayarannya gak sesuai!" ancam salah seorang warga.
"Hei ... kalau kalian pulang gimana demonya ini?" imbuh teh Mala lagi.
"Kalian ajalah. Toh kalau Fio beneran hamil, pak Sakya udah mau tanggung jawab dengan menikah Fio."
__ADS_1
Tak bisa berkata apa-apa lagi saat pasukan yang dibawa hanya tersisa tiga orang saja. Siapa lagi jika bukan para jamu. Teh Mala hanya bisa menelan kekecewaannya karena tidak bisa menjatuhkan Fio.
"Terus gimana kita, teh Mala?" tanya teh Nining yang juga sudah kehausan.
"Tau ah." Dengan kesal, teh Mala malah berlalu meninggalkan dua rekannya yang telah bercucuran keringat dibawah terik matahari.
"Yah ... dia malah pergi," ucap teh Shanti.
"Wah ... curang! Teh Mala tunggu!" teriak teh Nining.
Fio merasa ada yang aneh saat suasana depan rumahnya telah sunyi. Untuk memastikan lagi, Fio mengintip dari celah jendelanya. "Eh, pada kemana tuh orang?" gumamnya.
Diseberang sana, Nesya merasa uring-uringan karena semua keperluan tak sesuai dengan keinginannya. Dari mulai ikatan rambut hingga sang nenek yang melarang Nesya untuk tidak makan jajanan yang berlebihan.
"Kami sekarang udah gak bisa dibilangin sama nenek ya!" bentak Nadine saat Nesya melakukan perlawanan. "Apakah ini yang diajarkan oleh Fio selama ini?" bentaknya lagi
"Nenek jahat!" teriak Nesya yang kemudian berlari meninggalkan rumah.
Selama berada di rumah baru, Nesya tidak pernah keluar rumah sendirian. Hal itu membuat Nesya tidak tahu arah akan kemana dia terus berlari. Dengan isak yang membuat dadanya naik turun, Nesya terus berlari tanpa arah.
"Aunty ... dimana aunty." Nesya terus menangis sambil memanggil Fio.
__ADS_1
Nadine gelagapan saat melihat Nesya meninggalkan rumah. "Kemana perginya anak itu?" panik Nadine.
Nadine tidak mengira jika Nesya bisa nekad pergi dari rumah. Apa yang akan dia katakan kepada Sakya jika anaknya tak bisa ditemukan secepatnya. "Semua ini pasti hasil didikan Fio yang tidak becus untuk mendidik anak kecil. Lihat saja jika dia sampai menunjukkan batang hidungnya di depanku, akan aku buat dia menyesal!"