
Seperti biasa, Sakya akan sangat kesulitan untuk membagi waktunya Kepada Nesya. Karena saat ini Sakya sedang sibuk untuk menangi sebuah kasus dari klien-nya, dia harus stay saat di butuhkan. Bahkan hanya untuk sekedar sarapan dan minum kopi di rumah saja Sakya tidak mempunyai waktu. Dan saat ini di tambah lagi dengan adanya Nesya. Hal itu pasti membuat pagi harinya menjadi pagi yang sangat melelahkan.
Sakya harus menyiapkan bekal untuk anaknya, memandikan, mendandani bahkan Sakya dituntut untuk bisa menjadi penata rambut yang handal.
"Ines, jangan nakal!" kata Sakya dengan suara sedikit meninggi. Baru kali ini Sakya mengeluarkan suara tinggi kepada anaknya. Hal itu tentu membuat Nesya merasa sedikit ketakutan.
Sadar akan apa yang telah dia lakukan, akhirnya Sakya meminta maaf kepada Nesya.
"Sayang, ayah minta maaf tidak bisa mengontrol emosi ayah."
Namun, Nesya hanya membisu. Matanya merah dan berkaca-kaca. Padahal Nesya hanya ingin rambutnya di kepang dua seperti boneka Barbie miliknya. Namun, karena Sakya tidak tahu bagaimana cara mengepangnya dan Nesya terus merengek akhirnya Sakya kelepasan, tidak bisa mengontrol emosinya.
"Sudah jangan menangis, nanti minta tolong sama aunty Fio. Dia pasti bisa. Ayah mau segera berangkat ke kantor."
Sakya akhirnya menggandeng Nesya untuk menuju rumah Fio. Terlihat pak Mail sedang memberi makan linling.
"Eh, Ines udah datang. Udah mandi dan udah cantik," sambut pak Mail, bapaknya Fio.
"Fio-nya ada, Pak?" tanya Sakya cepat.
"Tentu ada. Tapi mungkin belum bangun. Anak itu memang kebiasaan gak bisa bangun pagi kerena udah di manjakan oleh ibunya." Pak Mail menelan dia akhir kalimat, takut jika sampai terdengar oleh istrinya.
Sakya tersenyum tipis. Sebenarnya ada yang ingin disampaikan kepada Fio, tetapi karena dia juga sedang terburu-buru, dia memilih mencari waktu yang tepat. Mungkin malam adalah waktu yang tepat untuk berbicara kepada Fio.
Benar saja dugaan Pak Mail jika sang istri akan langsung keluar. Dia hanya bisa berharap jika sang istri tak mendengarkan ucapan tadi.
Dengan segera Bu Laila menyuruh Nesya untuk masuk kedalam dan mengambil peralatan yang telah dibawakan oleh ayahnya.
"Kalau pak Sakya repot, Nesya gak usah dibawakan bekal, Pak. Disini ada Fio. Meskipun dia belum berpengalaman untuk mengurusi anak, tetapi pak Sakya tenang saja Fio bisa mengurus Nesya dengan baik."
__ADS_1
Sakya hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih kepada ibunya Fio yang sudah sangat baik kepada dirinya. Namun, Sakya harus membuang napas beratnya saat mengingat kenyataan yang ada. Seharusnya dia tidak perlu merepotkan orang lain. Seharusnya sang istri tidak meninggal. Berada di tempat penuh kenangan bersama sang istri membuat Sakya tidak bisa mengontrol emosinya, terlebih dengan apa yang telah dilakukan pagi ini kepada Nesya.
Nesya berlari ke kamar Fio. Benar saja ucap pak Mail jika Fio masih nyenyak dibawah selimut. Padahal hari sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
"Ya ampun ... anak ini tidak bisa berubah." Bu Laila mendengus pelan.
Jika tidak melihat adanya Nesya, bu Laila pasti akan menyeret Fio ke kamar mandi. Namun, tidak saat berada di hadapan anak kecil.
"Nek, kenapa aunty belum bangun? inikan sudah siang?" tanya Nesya yang melihat Fio masih berada di atas tempat tidurnya.
"Aunty memang seperti itu. Dia itu pemalas. Coba Ines yang bangunin!" saran bu Laila.
Benar saja, dengan kepolosannya Nesya segera naik keatas ranjang dan membangunkan Fio dengan caranya sendiri.
Fio yang merasa terganggu segera membuka matanya. Samar-samar wajah Nesya sudah ada di depan wajahnya. "Nesya." Fio terkejut saat bocah itu sudah memainkan boneka barbie di sampingnya.
"Aunty jangan jadi pemalas!" ucap Nesya saat Fio sudah membuka matanya lebar-lebar.
Fio langsung terbelalak menanggapi ucapan bocah polos yang ada di depannya saat ini. Ada rasa malu yang bersarang dalam hatinya. Sambil tersenyum tipis Fio berkata, "Aunty kecapekan, Sayang. Ines sih, tadi malam malah ngajakin ke pasar malam. Kan Aunty jadi ngantuk berat."
"Tapi Ines gak ngantuk, Aunty."
Fio membuang napas beratnya. Tentu saja dia dengan Nesya berbeda. Apalagi Fio sendiri memang tipe orang yang susah untuk bangun pagi.
"Ya sudah, Aunty mandi dulu baru kita sarapan. Oke!"
***
Sakya menggulung lengan kemejanya. Kasus yang sedang dia tangani masih bergulir dan belum membuahkan hasil. Itu sebabnya Sakya masih terus mendampingi kliennya untuk mendapatkan keadilan di persidangan nanti.
__ADS_1
"Mas," sapa seorang wanita yang sangat dikenali oleh Sakya duduk di depan mejanya.
"Luna" gumam Sakya, saat matanya melihat sang pemilik suara tersebut.
Wanita yang dipanggil Luna segera memberikan sebuah rantang yang berisi makan siang untuk Sakya.
"Terimakasih," ucap Sakya lemah.
Luna memperhatikan wajah Sakya yang tak seperti biasanya. Seperti ada sesuatu yang membebani pikiran saat ini. Dengan lembut, Luna memegang tangan Sakya dan bertanya "Ada apa, Mas?"
Sakya menatap dua mata yang selalu berbinar. Meskipun sudah tidak lagi bersama, tetapi hubungan Luna dan Sakya tetap berjalan dengan baik.
Luna dan Sakya pernah menjalan sebuah hubungan, sebelum pada akhirnya mereka berpisah dan memilih menikah dengan pasangan mereka masing-masing. Namun, nasib baik tak berpihak kepada Luna. Hanya satu bulan dia membina rumah tangga bersama suaminya, Luna harus mengakhiri hubungan mereka di pengadilan.
"Pasti semuanya akan segera menemukan titik terang, Mas. Tetap berdoa semoga masalah ini segera berakhir."
Sakya mengangguk pelan lalu menyantap makan siang yang dibawa oleh Luna.
Meskipun keduanya berbeda profesi, tetapi Luna tak pernah absen mengirimkan makan siang untuk Sakya setelah istrinya meninggal.
"Oh iya, Mas. Gimana keadaan Nesya sekarang? Aku belum sempat menjenguknya."
"Dia baik-baik saja bersama pengasuhnya."
"Mas ... apakah kamu gak kepikiran untuk mencarikan sosok ibu pengganti untuk Nesya? Diusianya yang masih kecil, dia masih sangat membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu."
Sakya menatap Luna penuh arti. Bagaimana Sakya bisa mencari sosok ibu pengganti untuk Nasya, sementara sosok Sarah dihatinya tidak bisa tergantikan.
"Lun, tolong jangan bahas masalah ini. Aku sedang tidak ingin membahas masalah itu."
__ADS_1
Luna mengangguk pelan. Dia mengerti bagaimana perasaan Sakya yang belum bisa merelakan kepergian istrinya. Namun, Sakya juga harus memikirkan bagaimana tumbuh kembang Nesya tanpa kasih sayang dari seorang ibu. Mungkin saat ini hati Sakya sedang tidak bagus karena sedang menangani masalah yang belum selesai. Akan tetapi, Luna akan membujuk Sakya dilain waktu. Dia harus meyakinkan jika Nesya memang membutuhkan kasih sayang seorang ibu, meskipun itu hanya ibu sambung.