
Untuk melakukan pembuktian, kedua orang tua Karina menyuruh anaknya untuk melakukan tes, apakah dia telah hamil duluan. Karena jika memang terbukti demikian, maka kedua orang tuanya tidak akan segan-segan untuk melaporkan Daniel kepada pihak sekolah karena telah melakukan perbuatan tercela kepada anaknya.
Karena yang sudah mengantongi tes kehamilan milik Fio, dengan tersenyum tipis menyerahkan kepada kedua orang tuanya.
"Apakah kalian masih tidak percaya dan akan terus mencurigaiku jika aku sedang hamil? Aku sangat mencintai Daniel, Bu," kata Karina setelah memberikan hasil tes kehamilannya.
"Kamu itu masih sekolah, Rin? Apa kata orang jika kamu nikah?"
"Itu kan kata orang, Bu. Toh sama aja kan, abis lulus nanti Karin tetap akan menikah dengan Daniel."
"Kamu jangan buat keluarga kita malu, Rin! Meskipun kamu memang sedang tidak hamil, ayah tetap tidak akan mengizinkan mu untuk menikah. Apalagi nikah dadakan. Kamu pikir nikah itu layak goreng tahu bulat?" Ayah Karina tetap pada pendirian awal. Sebagai orang tua, dia tidak rela jika putrinya menikah tanpa adanya sebuah pesta. Apalagi Karina adalah tunggal.
"Tapi Yah ...." Karina terus mengiba.
"Ayah bilang tidak, tetap tidak! Nikah itu butuh persiapan, Rin! Kamu gila ya, mau nikah besok pagi tanpa ada persiapan apapun, kayak udah kebelet aja! Ingat, kamu masih sekolah!"
Karina yang merasa sangat kecewa memilih menutup pintu kamar dengan perasaan jengkelnya. Padahal sebelumnya keduanya menyetujui jika Karina terbukti sedang tidak hamil. Namun, kenyataan sekarang berbeda. Mereka malah menentang dan tidak setuju.
__ADS_1
"Rin! Kamu harus berpikir dewasa! Jaga nama baik keluarga kita! Nikah itu gak gampang, Rin!" kata ayahnya dari balik pintu yang telah dikunci.
Karina tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Seiring berjalannya waktu, perutnya akan semakin besar dan dia tidak bisa untuk menutupi kenyataan. Bukan hanya dia saja yang malu, tetapi juga kedua orang tuanya.
Cinta memang buta. Semua akan dipertaruhkan hanya demi cinta yang kadang kala bisa pudar. Tak ada pilihan lainnya, Karina segera mengirim pesan kepada Daniel untuk menentukan rencana selanjutnya, setelah Karina gagal untuk menyakinkan keluarga.
"Maafkan Karin, Yah, Bu. Bukan Karin gak sayang sama kalian, tapi Karin tidak ingin kalian menanggung malu. Karin sangat mencintai Daniel."
****
Luka yang menyakitkan itu adalah luka yang tak kasat mata. Meskipun sudah mencoba untuk membalutnya, tetapi, tetap saja masih terasa sakit.
Karena keadaan Nesya yang sudah membaik dan sudah diizinkan pulang, Fio telah menyiapkan penyambutan Nesya. Kamar Nesya telah di hiasi dengan balon dan beberapa boneka telah berjajar diatas tempat tidurnya.
Mata Nesya tak lepas dari pandangan pada sebuah kamar yang sangat indah. "Wah ... cantik sekali." Kata yang keluar begitu saja, membuat Fio menarik kedua garis bibirnya.
"Kamu suka?" tanya Fio kemudian.
__ADS_1
Sebuah anggukan kecil. "Iya. Ines suka."
Sakya langsung menurunkan tubuh Nesya untuk menuju tumpukan boneka yang memperlihatkan ada sebuah kotak besar.
"Apa ini?" tanya Nesya polos.
Fio segera menghampiri Nesya yang sudah membolak-balik kotak tersebut.
"Buka aja. Itu adalah hadiah dari Aunty untuk anak hebat seperti Ines. Semoga Ines suka ya."
"Makasih Aunty."
Benar saja, tangan mungil itu langsung segera membuka kotak yang membuat mata Nesya tak hentinya merasa takjub.
"Barbie." Satu kata yang kemudian mengambil boneka Barbie dalam ukuran besar.
"Ini kan Barbie yang belum Ines punya. Wah ... aunty keren. Makasih ya Aunty." Senyum dibibir kecil itu tak memudar. Namun, tidak dengan Fio yang merasa hatinya nyeri.
__ADS_1
"Fi, maafkan aku," kata Sakya lemah dengan mata yang tak putus melihat kearah anaknya.
"Gak apa-apa, Pak. Mungkin Tuhan punya rencana lain," balas Fio dengan mata berkaca-kaca.