Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Mengejar Cinta Pak Duda 12


__ADS_3

Fio sudah menyetel alarmnya. Dia tidak ingin bangun kesiangan, karena ini adalah hari pertama Nesya masuk sekolah. Fio sengaja memasak untuk bekal Nesya. Berhubung banyak stok sayur di dalam kulkas, Fio juga memasak sarapan untuk pak duren.


"Di rumah boro-boro pegang panci, nyalain kompor aja cuma setahun sekali," lirih Fio sambil meresapi kegiatan pagi ini. Meskipun masih dalam keadaan setengah mengantuk, Fio berusaha untuk memberikan hasil terbaiknya. Anggap saja dirinya saat ini sedang belajar menjadi istri idaman. Bangun pagi kemudian memasak untuk anak dan suaminya. Ah ... sungguh indah khayalan Fio, hingga tanpa sadar telur yang di goreng telah berubah warna menjadi coklat kehitaman.


Fio yang sadar segera mematikan kompornya. "Yah ... godong,"keluh Fio sambil mengangkat hasil karya pertamanya.


"Hahaha." Suara tawa dari belakang Fio, membuatnya hampir jantung. Sosok Sakya yang tiba-tiba muncul begitu saja.


"Kalau tidak bisa masak, tidak usah memaksakan diri, kan jadi mubadzir," kata Sakya yang langsung menggeser tubuh Fio.


"Sini biar saya aja yang masak. Kamu urus Nesya sana! Lagian gak bisa masak sok-sokan mau masak," ledek Sakya.


"Tapi ini adalah hari pertama Nesya masuk sekolah, Pak. Aku hanya ingin membuatkan bekal untuknya."


"Kamu itu gak bisa masak. Lagian Saya sudah biasa masak jadi kamu nurut apa kata saya, mengerti?"


Fio hanya pasrah saja. Buat apa malu, toh memang seperti itu kenyataan. Fio memang tidak pandai memasak. Bahkan sudah terbukti dengan hasil karya pertamanya.


"Gimana mau jadi istri idaman, masak aja vak bisa," keluh Fio setelah sampai di depan kamar Nesya.


Bocah itu masih terbungkus selimut tebal. Perlahan Fio mendekati lalu membangunkan Nesya dengan lembut.


"Ines, Sayang. Bagun, Nak. Kan hari ini Ines udah mulai masuk sekolah." Fio membelai lembut rambut Nesya.


"Udah jam berapa, Aunty?" tanyanya.


"Udah jam 6, Sayang. Bagun yuk!"

__ADS_1


Sambil menguap, Nesya turun dari tempat tidurnya. "Aunty gendong." Nesya merentangkan tangannya berharap Fio mau menggendongnya.


"Udah mau sekolah, masa masih minta gendong? Kan Ines udah besar."


"Tapi Ines masih ngantuk, Aunty."


****


Di dapur, Sakya telah menyiapkan sarapan diatas meja. Namun, Fio tidak menemukan lagi batang hidungnya pak duren.


"Wah ... banyak sekali makanan, Aunty," seri Nesya dengan mata berbinar.


"Eh, tunggu! Kita tunggu ayah untuk sarapan bersama," cegah Fio saat Nesya sudah hendak mengambil lauknya.


Tak berapa lama, Sakya telah bergabung bersama diatas meja. Tidak ingin menunggu lama lagi, Fio langsung mengambilkan sarapan untuk Nesya.


"Iya Pak. Ini mau buat susu sama bekalnya Ines dulu," sahut Fio.


"Kami gak usah takut, masakan ku bisa di makan kok. Kalau gak percaya tanya sama Ines. Iya 'kan Nes?"


Nesya mengangguk, membenarkan ucapan ayah. "Iya Aunty. Masakan ayah enak kok."


Fio tersenyum sambil melihat ayah dan anak yang sedang menunggu dirinya untuk turut sarapan bersama.


Fio tidak menyangka jika masakan Sakya lebih enak dari yang dia bayangkan. Bahkan Fio harus pasang muka tembok saat masakannya tidak apa-apanya dibandingkan dengan masakan Sakya.


"Sumpah ini masakan enak banget sih? Kalau tiap hari pak Sakya masak, bisa-bisa berat badanku langsung naik. Mungkin juga perut ini juga akan menggelembung akibat resep berlebihan dari pak Sakya."

__ADS_1


Fio tertawa dalam hati sambil membayangkan dirinya sedang dimanja oleh Sakya. Detik yang bersamaan, Nesya membuyarkan lamunannya.


"Aunty, kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Nesya saat melihat Fio mengembangkan garis di bibirnya.


"Aunty .... " Kini Nesya berteriak saat Fio tak langsung menanggapinya.


Fio yang tersadar dari alam halusinasi, segera bertanya kepada Nesya. "Ada apa, Sayang?"


"Aunty gimana sih? Lihatlah, ayah sudah menunggu kita di luar. Aunty malah melamun disini. Ayo Aunty, nanti Ines telat!"


Fio yang langsung gelagapan dan langsung mempersiapkan apa saja yang hendak dia bawa ke sekolahan.


"Ya Allah pak duren, kapan sih bapak nikahin aku. Biar aku juga dapat ciuman juga?"


Fio hanya bisa membatin saat melihat Nesya mendapatkan ciuman di pipinya sebuah Sakya menuju tempat kerjanya.


"Ingat kata ayah, Ines gak boleh nakal ya!" pesan Sakya.


"Siap ayah. Ines kan emang gak nakal," balas Nesya.


"Pintar anak ayah," puji Sakya kemudian.


Sebelum meninggalkan Nesya, Sakya juga berpesan kepada Fio agar menjaga anaknya dengan baik. Setelah pulang sekolah mereka harus langsung pulang rumah karena karena Nesya harus segera beristirahat.


"Fi, aku percayakan Ines sepenuhnya kepadamu," kaya Sakya.


"Tenang saja, Pak. Semua aman di tangan Fio," balas Fio dengan penuh semangat.

__ADS_1


Pak, ciuman untukku mana? batin Fio dengan mata memejam.


__ADS_2