
Fajar masuk ke dalam mobilnya dengan perasaan tak menentu, baru kali ini dia ditolak. Pria itu menyalakan mobilnya dan menginjak pedal gas.
Baru saja kuda besi milik Fajar pergi dari parkiran cafetaria, disusul dengan kedatangan mobil Tama yang berhenti di halaman depan cafe.
Tari dapat melihat kedatangan suaminya lewat dinding kaca. Wanita mengambil tas serta ponsel genggamnya lalu bergegas keluar.
"Nunggu lama?" tanya Tama ketika Tari sudah masuk ke dalam mobil.
Tari menggelengkan kepala sebagai jawaban. Dari kejauhan, terlihat salah satu mahasiswa memotret Tari ketika masuk ke dalam mobil.
"Lumayan, dapat berita untuk besok." Mahasiswa itu melenggang pergi begitu mendapatkan bahan baru untuk diramu.
Tama dan Tari menikmati perjalanan ke rumah sakit dalam diam. Tari masih menimang-nimang pikirannya untuk bilang atau tidak pada sang suami soal mempublish hubungan mereka.
"My Lion ...," panggil Tari.
"Hem?"
"Apa boleh Tari mempublish hubungan kita ke orang-orang kampus?" tanya Tari dengan hati-hati.
Ia menatap wajah suaminya, menunggu respon apa yang akan pria itu keluarkan.
"Untuk apa?" Tama balik bertanya.
"Pak Tama pasti udah dengar dari orang-orang," cebik Tari dengan wajah lesu.
Tama menarik napasnya dalam, pria itu menyugar surai hitam miliknya denga sebelah tangan.
"Akan aku pikirkan nanti," jawab Tama.
Tari menyenderkan kepalanya pada kursi mobil, ia hanya menjawab ucapan suaminya dengan kalimat 'baiklah'.
Mobil masih terus melaju, hingga 4 roda itu berhenti di depan toko buah. "Kita kok berhenti di sini?" tanya Tari.
"Sebelum ke rumah sakit beli ini dulu untuk ayah."
"Oo begitu, Tari ikut turun."
Mereka berdua turun dari mobil, mata Tari dimanjakan dengan berbagai buah segar. Tama menunjuk buah mana saja yang ingin ia beli untuk dijadikan parsel buah, penjual itu dengan sigap mencatat semua pesanan Tama.
Sepasang suami istri itu memilih duduk di kursi yang sudah disediakan, mereka menunggu si penjual menyelesaikan tugasnya.
Tak butuh waktu lama, buah-buah segar tadi sudah disulap menjadi parsel yang indah. "Ini Pak, totalnya 250 ribu." Si penjual memberikan pesanan Tama.
Pria itu mengeluarkan dompetnya lalu memberikan 3 lembar uang 100 ribu. "Kembaliannya untuk ibu saja," ucap Tama.
"Terima kasih ya Pak, wah dik om nya baik sekali ya. Semoga dilancarkan rezekinya." Penjual buah itu tersenyum senang.
Tari membalas senyuman si penjual dengan ragu sambil menatap suaminya yang mulai mengeluarkan ekspresi tak suka.
Wanita bertubuh mungil itu terkejud ketika tiba-tiba sang suami menarik lengannya begitu saja. Begitu masuk ke dalam mobil, pria itu meletakkan parsel buah di kursi belakang, setelahnya Tama duduk di kursi pengemudi sambill mengeluarkan umpatannya.
"Sialan!!! Apa mereka melihatku setua itu jika berada di sampingmu?!"
"Sabar ...," ucap Tari, tangannya tergerak mengusap pundak sang suami.
Tama menangkap tangan istrinya, ia memajukan kepala untuk menipiskan jarak. Tiba-tiba saja Tama menyambar bibir istrinya dengan rakus.
Tari yang tak siap sampai terjedut ke pintu mobil. Hanya pergulatan benda kenyal yang singkat. Tama menarik kepalanya dan kembali duduk di tempat semula.
__ADS_1
"Harusnya aku melakukan ini di depan penjual tadi, agar dia tau jika aku bukan om mu!"
Tari hanya mampu mengerjapkan matanya berulang kali, sungguh tingkah Tama sangat kekanakkan.
"Lagian tubuhmu terlalu kecil, gayamu juga terlihat seperti anak-anak. Ini juga salahmu!"
Mulut wanita itu tercengang, bisa-bisanya ia disalahkan hanya karena tubuh serta gayanya.
"Kok jadi salah Tari, kan Pak Tama memang lebih tua dari Tari. Nanti kalau Pak Tama umurnya 45 tahun, Tari masih 26," balas wanita itu dengan menggebu-gebu.
"Apa kau mengataiku tua?!" geram Tama.
"Tari gak ada bilang gitu loh," tangkis Tari.
"Akan aku tunjukkan seperti apa pria tua ini bermain nanti malam!" ucap Tama dengan penuh penekanan.
Pria itu kembali menjalankan mobilnya agar segera tiba di rumah sakit. Tari bergidik ngeri mendengar ancaman yang keluar dari mulut suaminya.
Tanpa ditunjukkan pun dia sudah tau sepak terjang sang suami jika sedang bertempur di atas ranjang, entah bagaimana nasibnya nanti malam. Mungkin saja ia tidak bisa berjalan besok paginya.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai di parkiran rumah sakit. Keduanya turun secara bersamaan. Tama membuka pintu belakang untuk mengambil parsel buah.
"Ayo!" seru Tama.
Tari mengikuti langkah suaminya dari belakang.
Bugh!
"Aw! Jidatku," aduh Tari karena dahinya menabrak punggung Tama.
"Sini! Kau mau orang mengira aku om mu lagi ha?" Tama menarik Tari ke sampingnya.
'Aneh banget, apa ini karena waktu itu aku sering nyumpahin Pak Tama ya? Makanya jadi begini.'
Setelah melewati koridor rumah sakit dengan tatapan geli dan iri orang-orang, sampailah mereka di depan ruang rawat inap ayah Tari.
Tama melepas belitan tangannya di pinggang sang istri. Kedua pasangan suami istri itu masuk ke dalam.
"Dek Tari," panggil Ardi dengan tersenyum begitu melihat kedatangan Tari.
Tama memutar bola matanya malas, jelas-jelas ia juga ada di sini, tapi hanya Tari yang disapa oleh Ardi. Sedangkan dirinya hanya disambut dengan senyuman dan juga anggukan kepala.
Pria itu memilih untuk meletakkan parsel buah yang ia beli ke atas nakas yang berada tak jauh dari brankar ayah Tari.
"Bang, bagaimana keadaan ayah?" tanya Tari, ia melihat ayahnya yang sedang tertidur.
"Baik, Dek Tari," sahut Ardi.
"Syukurlah, Bang Ardi udah makan siang?"
Tama menarik tangan istrinya, ia membisikkan sesuatu ke telinga sang istri. "Untuk apa kau tanya dia sudah makan apa belum!"
'Alamak, ini Pak Tama kenapa sih?' batin Tari menjerit.
Ardi menggelengkan kepalanya melihat suami Tari yang sedang berbisik di depannya.
"Abang udah makan, tadi beli di kantin rumah sakit," jawab Ardi.
"Tari ... kamu baru datang, Nak?" panggil Ayah Tari dengan suara serak khas bangun tidur.
__ADS_1
Tari segera menghampiri ayahnya ketika melihat pria paruh baya itu membuka suara serta matanya. "Iya, Ayah. Baru aja, apa ayah nyaman di sini?"
Pak Wahyu tersenyum menanggapi perhatian anaknya. "Tentu saja nyaman, suamimu memberikan ruangan yang paling bagus untuk Ayah. Terima kasih ya, Nak."
Tari menoleh untuk melihat wajah sang suami yang membalas ucapan terima kasih ayahnya dengan senyuman yang terlihat tulus.
Cukup lama mereka berada di rumah sakit, Tari menghabiskan banyak waktunya dengan berbicara banyak hal lucu bersama ayah, suami dan Ardi.
"Udah sore, Nak. Kamu baliklah ke rumah. Kasihan cucu Ayah ditinggal terlalu lama," ucap Pak Wahyu yang masih berbaring di atas brankar.
"Em iya, Ayah. Tari pamit pulang ya. Bang Ardi, Tari titip Ayah."
"Siap, Dek!"
Tama dan Tari menyalim tangan Pak wahyu, lalu mereka pun bergegas untuk kembali ke rumah.
"My Lion, kita ke kontrakannya Nadia dulu ya. Tari mau minjam buku refrensi untuk nugas," ucap Tari begitu mereka sudah berada di dalam mobil.
"Hem, di mana alamatnya?"
"Dekat kok dari sini. Lurus aja, nanti di perempatan jalan belok kiri. Di dekat jembatan sungai A," jelas Tari.
Tama menacap gas, ia mengemudi mobil dengan Tari yang mengarahkan jalan. Hingga sampailah mereka di depan kontrakan Nadia.
"Dia tinggal di tempat seperti ini?" Tama menatap sepatu kulitnya yang berada di atas tanah becek.
"Iya, di sini kontrakannya murah meriah. Yaudah, Tari ke dalam dulu. Kayaknya Nadia udah pulang kerja." Tari meninggalkan Tama yang berdiri di samping mobil.
Tok! Tok! Tok!
"Loh, ada apa Tar?"
"Mau minjam buku, tadi kelupaan hehehe," ujar Tari dengan cengengesan.
kedua wanita itu asik mengobrol di depan pintu, Nadia menggoda sahabatnya yang datang bersama dengan dosen kewirausahaan itu.
Ngek! Ngek! Ngek!
Suara sekumpulan angsa sangat mengganggu pendengaran Tama. Mata pria itu mendelik saat tiba-tiba hewan berleher panjang itu semakin dekat dengannya.
Pria itu segera berbalik arah untuk membuka pintu mobil. Namun, baru saja berbalik. Angsa-angsa itu sudah menyerang bumpernya dengan brutal.
"Aw! Sialan!!!" Tama mengaduh kesakitan, tubuhnya tersungkur ke bawah.
Tak hanya satu angsa yang menyosori bumpernya itu, melainkan 5 angsa.
"Tari! Suamimu!" teriak Nadia.
"Pak Tama!!!"
`
`
`
Bersambung ....
Turun sudah harga pasarmu, Pak Tama. Hahahaha.
__ADS_1