Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
You are Mine!


__ADS_3

Pria itu mulai merasakan hal yang sama seperti istrinya setelah meminum jamu yang diberikan Mama Widi. Tubuhnya terasa panas, ia merasa gelisah.


Ditambah pemandangan yang disuguhkan oleh istrinya begitu menggiurkan. Ada dorongan aneh yang merasuki keduanya.


Tari yang sudah tidak tahan akan rasa panas yang membakar, berusaha menggapai pengait benda berbentuk kacamata miliknya. Tama yang melihat itu langsung menghampiri Sang Istri untuk mencegah.


"Bocah sableng, hentikan!" seru Tama, menggapai lengan istrinya demi mencegah gerakkan Tari.


"Huaaa ... panas tau!" rengek Tari, menarik lengannya dari genggaman Sang Suami.


Tiba-tiba rengekan gadis itu berganti dengan suara yang terdengar lirih dan serak. "Perut my lion keras," ucap Tari, menyentuh perut Tama dengan gerakan jari yang abstrak.


"Sshit!" umpat Tama dengan suara yang mirip dengan geraman.


Pria itu mulai merasakan efek dari minuman yang diberikan mamanya. Tama berusaha menahan dorongan hasrat untuk menyentuh Sang Istri, ia melangkah mundur.


Tari menatap suaminya dengan mata yang sayu. Gadis itu beranjak mendekati Tama, dirinya bagai singa betina yang ingin menerkam mangsanya.


"Hiks ... panas, tolongin Tari," rengeknya pada Sang Suami.


Gadis itu semakin menjadi, ia yang sudah tidak tahan, dengan segera melepas penutup bukit kembarnya. Melihat hal itu, sebagai pria normal, ditambah efek minuman yang diteguknya membuat adrenalin kelelakian Tama berpacu.


Mata Tama terkunci pada sesuatu yang tidak terlindungi dengan sehelai benang pun. Ia bahkan lupa bagaimana caranya berkedip.


Tari semakin menipiskan jaraknya dengan Sang Suami, Tama yang masih terhipnotis dengan gunjlukan milik istrinya tidak sadar jika Tari sudah berada tepat di depannya.


Grep!


"My lion ...." Tari menubruk tubuh Tama dan memeluk tubuh pria itu erat-erat.


Sekujur tubuh Tama mendadak kaku. Kulit mereka yang tidak mengenakan penutup saling bersentuhan.


Pria itu dapat merasakan sesuatu milik Tari yang menempel pada tubuh bidangnya. Tama yang sudah tidak mampu menahan segala dorongan dari tubuhnya, ikut beraksi dengan menggunakan tangannya yang sedari tadi menganggur.


Tari semakin belingsatan akibat ulah tangan suaminya yang mengelus punggung mulusnya dengan gerakan melambat.


"Ssst ... ," desis Tari kala merasakan tangan Tana yang membelai tengkuknya.


Gadis yang sudah dirasuki oleh efek minuman itu berubah menjadi lebih agresif. Ia menganlungkan tangannya di leher Sang Suami lalu sedikit melompat untuk masuk ke gendongan Tama.


Tari sudah persis seperti koala yang sedang memeluk bambu. Ia mengunci kakinya di belakang tubuh Tama agar tidak terjatuh.


Pria yang sedang asik mengendus di leher istrinya merasa terganggu, saat tiba-tiba Tari menahan kedua pipinya dengan tangan mungil milik Sang istri.


Tama yang tadinya ingin protes dan kembali pada aktivitasnya yang terhenti akibat ulah Tari, kini berganti dengan senyum miring kala istrinya meminta sesuatu yang tanpa diminta pun akan ia lakukan.

__ADS_1


"Kissss me, please," ucap Tari dengan suara yang berubah serak. Jari jemarinya menyentuh garis wajah Sang Suami dengan penuh perasaan.


"As you wish." Tama menarik tengkuk istrinya, dan terjadilah pertemuan antara benda kenyal tak bertulang itu.


Decapan terdengar nyaring di telinga keduanya. Mereka saling melahap dengan tak sabaran, seakan tak ada hari esok untuk melakukannya.


Tari dan Tama saling memperdalam aktivitasnya dengan menekan tengkuk masing-masing.


Kedua benda tak bertulang itu saling membelit dan menyecap rasa. Tama yang tidak merasa puas hanya dengan aktivitas biasa ini, ia mulai meluncurkan aksinya dengan tangan yang satunya, tanpa melepaskan tautan benda kenyal milik mereka.


Tangan Tama mulai mengabsen kulit putih nan mulus milik Sang istri. "Eungh ...." lenguhan Tari terdengar begitu merasakan sesuatu menyentuh kembar mungil miliknya.


Suara-suara aneh mulai menguasai seluruh area kamar pasutri itu. Suasana semakin panas karena kedua insan yang saling berkerja sama dalam aktivitasnya.


Tari melepaskan tautan bibirnya dari Sang Suami. Dad4nya naik turun akibat kekurangan pasokan udara.


Begitu indra pengecap mereka terbebas, Tama langsung mengantinya dengan aktivitas lain. Ia masuk ke dalam ceruk istrinya dan mulai membuat jejak di sana.


Tari yang diperlakukan seperti itu, merasa semakin tak karuan, hingga mulutnya terus mengeluarkan suara-suara yang semakin membangkitkan semangat Tama.


"Auhh ...." Tari semakin mengeratkan kaitan tangannya yang berada di leher suaminya.


Entah sudah berapa lama mereka melakukan aktivitas ini dengan gaya koala menggantung di pohon bambu. Kaki Tama mulai merasa pegal.


Pria itu juga semakin ingin melakukan hal yang lebih.


Kedua insan itu kembali membelit indra pengecapnya. Tari yang berada di bawah kuasa suaminya hanya bisa pasrah.


"I want you," desis Tama.


Pria itu melepas segi tiga biru milik istrinya. Karena Tari sudah melepaskan baju kodok motif keroppi yang ia gunakan ketika pergi tadi. Sehingga mempermudah Tama dalam menjalankan aksinya.


Tama mengangkat wajahnya, pria itu menyudahi pertukaran saliva dengan Sang Istri, ia menatap wajah Tari yang basah akan keringat.


Melihat hal itu, Tama menyeringai. Ia menurunkan kepalanya, dan mendaratkan sebuah kecupan pada kedua gunjlukan kembar milik istrinya.


Tubuh Tari bergerak tak karuan merasakan sapuan kasar pada asetnya. Tama, Sang Suami, menjelma menjadi bayi besar yang begitu rakus.


"Auh, My lion ...."


Tama yang sudah siap sedari tadi, menjeda aktivitas menjadi bayi besarnya. Ia menegakkan tubuhnya, lalu menggapai haduk dengan tangan dan membuang kain putih itu ke sembarang tempat.


Sungguh malang nasib pakaian dan handuk pasutri yang berceceran di lantai.


Mata Tari mendelik melihat sesuatu yang pernah ia lihat waktu itu. Tapi, kali ini bentuknya berbeda. Ah bukan bentuknya, tapi ... ah sudahlah, intinya bibir Tari bahkan menganga melihat benda itu.

__ADS_1


Tama kembali pada posisinya. Pria itu menundukkan kepala dan mulai membisikkan sesuatu di telinga Sang Istri.


"Seluruh tubuhmu adalah milikku!" suara berat Tama masuk ke indra pendengar Tari, gadis itu merasa merinding kala napas Sang Suami menerpa telinga dirinya.


"Ingat! Seluruh yang ada pada tubuhmu, adalah milikku!" ucap Tama sekali lagi, mengklaim istrinya.


Entah dalam keadaan sadar atau tidak Tama membisikkan kata itu.


"Now, time to play!" Seringai Tama dan wajah sayunya berpadu dengan sempurna.


Pria itu mulai menyentuh semua titik sensitif istrinya, dan sepanjang kegiatan itu Tari terus menyebut nama Tama.


Hingga sampailah pada penghujung acara, yaitu proses pengandonan sebelum mem-baking.


Tama mengambil ancang-ancang sebelum melakukan kegiatan inti. Dan pada saat ia melancarkan aksinya, detik itu pula teriakan Tari nyaring terdengar.


"Hu ... lepas! Pak Tama hiks, huaaaa ...."


Suara tangis Tari tidak mengganggu konsentrasi pria itu dalam menjalankan tugasnya.


***


Di kamar yang lain, Papa dan Mama Tama saling bertukar suara.


"Apa tidak bahaya untuk Tari kalau Tama minum obat pera—"


"Tidak dong, Pa. Malah bagus, jadi putra kita yang sok jual mahal itu bisa terikat dengan Tari," ucap Mama Widi memotong ucapan Papa Tama.


Mama dan Papanya Tama tidak tahu jika Tari pun ikut meminum separuh jamu yang sudah dibubuhi dengan bubuk ajaib oleh Mama Widi.


"Pasti putra kita seperti singa sekarang," ujar Papa Adam.


"Like father like son," sahut wanita paruh baya itu dengan enteng.


Kembali pada pasangan suami istri yang sedang mengarungi indahnya surga dunia. Kamar itu dipenuhi dengan segala suara yang beraneka ragam.


Tidak ada lagi jerit kesakitan milik Tari, karena suara itu sudah berganti dengan yang lain.


`


`


`


Othor gak sempat lihat sampai abis, soalnya ketahuan sama Pak Tama. Othor diseret keluar sambil diplototin:(

__ADS_1


Tapi, othor tidak menyerah! Othor Kacan nangkring di depan pintu sambil nguping, ditemani kacang kulit pemberian Kak Cen(♡˙︶˙♡)


__ADS_2