Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Mengejar Cinta Pak Duda 21


__ADS_3

Hari ini Sakya memang sedang menghindari ibu mertuanya yang terlalu ikut campur dalam kehidupannya saat ini. Dia tidak bisa merasakan bagaimana hancur hatinya saat kepergian Sarah dan kini malah memintanya untuk mencari pengganti Sarah. Banyak memang wanita yang lebih cantik dari Sarah, tetapi itu tidak akan menjamin hatinya yang akan mau menerima Nesya sepenuh hatinya.


Sakya terus memandangi Fio yang sedang merapikan pakaian Nesya. Wanita yang biasa saja, tidak bisa memasak tetapi bisa mengambil hati Nesya sepenuhnya. Bahkan anaknya akan lebih menurut dengan kata-kata Fio.


Garis bibirnya terangkat tipis. Selama beberapa bulan Sakya tinggal satu atap dengan Fio, tak pernah sedikitpun Sakya memikirkan perempuan itu. Mungkin karena hari ini Sakya sedang kesal maka untuk mengalihkan perasaannya, dia malah memikirkan Fio.


"Pak." Fio memanggil Sakya yang sedang melamun. "Jangan melamun, nanti setan datang," kata Fio lagi.


"Iya. Kamu setannya."


Fio melotot menatap Sakya sambil mengerutkan dahinya. Bisa-bisa dirinya disamakan dengan setan.


"Kan kamu yang bilang, jangan melamun, nanti setan datang. Terus kamu yang datang., berarti kamu dong setannya." Sakya menahan senyumnya agar tetap berwibawa. Namun, dalam hati Sakya sedang menertawakan wajah Fio yang terlihat tidak terima.


"Mana ada setan cantik seperti aku. Eh, ada kok kalau yang mau di ganggu itu pak Sakya," kekeh Fio.

__ADS_1


Keduanya pun akhirnya memilih mengobrol di sebuah meja sambil menunggu Nesya. Fio menduga jika Sakya sedang memiliki banyak beban, apalagi dengan kehadiran ibu mertua yang tak memiliki akhlak. Bisa-bisanya dia memaksa pak Duren untuk menikahi Luna. Meskipun mereka pernah menjalin sebuah hubungan, tetap Fio merasa tidak terima dengan permintaan konyol dari Nadine.


"Pak Sakya lagi mikirin permintaan konyol dari Bu Nadine ya?" Fio menatap Sakya dengan segudang rasa iba.


"Entah, Fi." Sakya membuang napas beratnya "Aku tidak tahu mengapa ibu memaksaku untuk menikah, terlebih untuk menikahi Luna. Apa jangan-jangan Luna yang telah merencanakan semua ini?" Sakya menduga-duga.


Fio yang mendengarkan keluhan Sakya pun juga membenarkan dugaan Sakya. Bisa jadi Luna yang menyuruh Nadine untuk memaksa Sakya.


"Bisa jadi, Pak. Mungkin mbak Luna masih memiliki perasaan kepada pak Sakya dan ingin mendapatkan pak Sakya kembali dengan bantuan ibu mertua pak Sakya."


"Kamu benar," kata Sakya.


Keduanya pun langsung sama-sama membisu, sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Jika memang benar begitu, berarti Fio tidak harus menelan kasar kekecewaannya dan membiarkan Sakya bahagia dengan Luna.


Tidak bisa! Aku tidak boleh menyerah begitu saja. Aku harus bisa mendapatkan pak Sakya. Pak Sakya harus menjadi milikku. Sia-sia dong perjuanganku jika aku harus menyerahkan begitu saja. Fio ayo buktikan jika kamu lebih pantas menjadi ibu untuk Nesya.

__ADS_1


"Memangnya pak Sakya tidak mau menikahi mbak Luna?" tanya Fio.


Sakya menoleh dengan senyum tipis dibibirnya. "Aku tidak mencintainya, terlebih saat ini aku masih sangat mencintai Sarah. Tak ada seseorang yang bisa menggantikan Sarah di hatiku," jelas Sakya.


Semangat yang sudah membara, kini tiba-tiba redup begitu saja dengan sebuah pengakuan dari Sakya.


"Apakah selamanya hati pak Sakya akan terkunci untuk orang lain? Tidak, aku tidak bisa membiarkan ini berlarut terlalu lama."


Keduanya saling berbincang tanpa menyadari jika Nesya sudah keluar kelas. "Ayah gak kerja?"


Sakya segera menoleh dan melihat Nesya bersama dengan beberapa temannya. "Ayah sedang libur, makanya ayah bisa nungguin Ines," kata Sakya. Namun, Sakya menangkap jika anaknya merasa tidak suka dengan keberadaan. "Ada apa? Ines gak suka kalau ayah tunggui?"


Nesya yang polos dengan cepat menggeleng kepalanya. "Tidak. Lihatlah teman-temanku di suruh mamanya untuk mengikutiku up untuk bertemu dengan ayah," kesal Nesya.


"Itu tandanya mama mereka menginginkan jika anaknya berteman sama Ines," sambung Sakya.

__ADS_1


"Tidak ayah! Mama mereka menyuruh anaknya mengikuti Ines karena mereka ingin melihat ayah dari jarak dekat. Kata mama mereka ayah terlalu tampan dan cocok untuk cuci mata."


__ADS_2