Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Marah


__ADS_3

Mata Tama mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Pria itu merenggangkan tubuhnya dengan menekuk tangan secara bergantian.


Ia membuka sedikit selimutnya untuk mengintip, pantas saja Tama merasa kedinginan. Ternyata ia hanya tidur dengan berlapis selimut. Tapi entah kenapa Tama merasa hangat semalam.


Tiba-tiba pria itu teringat jika ia dan Tari tidur saling menimpah semalam. Mereka seperti orang yang saling mentransfer kehangatan lewat sentuhan kulit tanpa pembatas.


Mata Tama menilisik ke seluruh area kamar. "Ke mana dia?" tanya Tama sedikit bergumam.


Pria itu menurunkan kakinya ke lantai, dan memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Belakangan ini tubuhnya terasa lebih ringan. Entah karena apa dia bisa merasa seperti itu.


Tama berdiri di bawah guyuran sower, air membasahi tubuh Tama dari atas sampai bawah, tak ada sedikit pun bagian tubuhnya yang tidak terbasahi oleh cairan bening itu.


ia menyugar rambutnya yang basah ke belakang. Putaran memori dari awal ia bertemu dengan Tari terus berputar di kepalanya.


Pria itu teringat akan kata-kata yang selalu ia lontarkan jika dirinya tidak sudi menyentuh tubuh Tari. Namun, kini ia seperti menjilat ludahnya sendiri. Fakta menunjukkan bahwa Tama sudah kecanduan akan wanita bertubuh pendek itu.


"Apa kau marah sayang?" lirih Tama.


Entah siapa sayang yang dimaksud oleh pria itu. Tama melakukan aktivitas mandinya sembari berpikir apa yang harus ia lakukan ke depannya.


Setelah 30 menit berlalu, akhirnya Tama sudah selesai dari acara membersihkan diri. Kini ia sudah rapi dengan kemeja abu-abunya. Pria itu melangkah ke luar kamar.


Begitu sampai di bawah ia bertemu dengan Mama dan Papanya yang duduk di ruang makan. Pria itu tidak melihat Tari dan juga Una, anaknya.


"Tari dan Una ke mana?" tanya Tama pada kedua orang tuanya.


"Sudah berangkat dari 15 menit yang lalu. Kamu kok lama bangun, tidak biasanya," ucap Mama Widi mengangkat kedua alisnya.


"Kecapekan, ada banyak yang harus Tama selesaikan," jawab Tama datar.


Mama Widi menganggukkan kepalanya seraya melipat bibir, wanita paruh baya itu menahan agar sudut bibirnya tidak melengkung.


Papa dan Mama Tama melihat cara jalan Tari yang sedikit aneh sebelum pergi tadi, sudah dipastikan pasutri itu menghabiskan malamnya dengan atraksi di atas ranjang lagi.


Tama memutuskan untuk segera berangkat ke kampus, karena hari ini dirinya memiliki jadwal untuk mengisi kelas di pukul 10 pagi. Ia berpamitan pada kedua orang tuanya dan melangkah ke garasi mobil.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Pria itu hanya fokus pada jalan yang sedang ia lewati.


Sementara di tempat lain, Tari baru selesai mengantar Una ke sekolah bersama Pak Jaka. Mobil yang dinaiki Tari tanpa sengaja berada di depan mobil suaminya.


Mata Tama mengernyit, ia hapal betul mobil siapa yang ada di depannya. Pria itu mengkuti rute yang di tempuh oleh Tari.


Wanita berambut pendek itu asik dengan ponsel genggamnya, ia menghubungi Ardi untuk menanyakan kabar sang ayah.


Kuda besi yang ditumpangi Tari berhenti di depan gerbang utama kampus. "Nak Tari yakin berhenti di sini? Tidak mau Pak Jaka antar sampai ke parkiran fakultas? Nanti jalannya kejauhan loh," ucap Pak Jaka. Karena Tari sudah mengatakan lebih awal untuk di antar sampai depan gerbang saja.


"Iya sampai sini aja, ada yang mau Tari beli dulu, Pak."


Pak Jaka mengangguk paham. Tari keluar dari mobil, tidak lupa ia mengucapkan kata terima kasih pada supir keluarga Batara.


Tama memperhatikan Tari yang berdiri di depan gerbang kampus dari kejauhan. Tiba-tiba, matanya menangkap sosok yang tidak ia sukai menghampiri Tari.


Rahang pria itu mengeras kala melihat Tari sedang mengobrol dengan seorang pria yang tak lain dan tak bukan ialah Fajar.


"Eh Kak Fajar kok pagi-pagi udah ada di sini?" tanya Tari keheranan.


Tari menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia merasa tidak pernah memblokir nomor siapa pun. "Masa sih?" tanya Tari tak percaya.


Ia merogoh saku dan mengeluarkan ponsel genggamnya, jari Tari membuka daftar kontak hp-nya. Benar yang dikatakan Fajar, nomor pria itu masuk ke daftar blokir.


"Benar kan?"


"E-eh iya, maaf Kak." Tari merasa tak enak pada pria yang pernah menemani dirinya disaat terpuruk. Dirinya sendiri pun merasa heran, karena sepanjang hidupnya, ia tidak pernah memblokir orang.


"Udah jangan murung gitu, Kakak jadi makin suka nanti." Tangan Fajar mengacak poni Tari yang tertata rapi.


Tama mencengkram kuat kemudi mobilnya. Ia mengeluarkan benda pipih miliknya dan mengetik sesuatu di sana.


✉ : "Temui aku sekarang!"


Begitu pesan singkatnya terkirim, ia langsung meyalakan mobilnya kembali dan masuk ke area kampus.

__ADS_1


"Kak Fajar jangan gitu ih, Tari udah punya suami. Maaf Kak Fajar, Tari masuk dulu. Permisi," ucap Tari. Wanita mungil itu pergi meninggalkan Fajar yang tengah menahan rasa amarah.


Ia tak akan menyerah untuk merebut Tari dari Tama, apa lagi pria itu merasa jika Tari sangat tidak pantas untuk orang yang masih mencintai masa lalu.


Tari berjalan menuju fakultasnya, ia memeriksa ponsel genggam yang tadi mengeluarkan suara notif pesan. Mata wanita itu mengernyit melihat pesan yang dikirim oleh Tama.


"Masih ada sisa waktu 20 menit lagi sih untuk masuk ke kelas," gumam Tari.


✉ : "Di mana? Memangnya ada apa My Lion?" Tari membalas pesan dari suaminya.


✉ : "Di ruanganku!"


Tari menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat balasan singkat dari Tama. Ia memutar balik langkahnya untuk pergi ke Fakultas Ekonomi.


Dengan sungkan Tari melewati beberapa dosen yang berada di sana sebelum masuk ke ruangan suaminya.


Begitu ia masuk ke ruangan sang suami, dirinya sudah disambut dengan tatapan tajam dari Tama. Pria itu melangkah maju, mendekati Tari yang berada di dekat lemari berisi tumpukkan kertas.


Grep!


Tubuh Tari terhimpit ke dinding. Tama mengunci pergerakkan Tari dengan tangan menahan kedua pundak wanita itu. Ia menghunus Tari dengan mata elangnya.


"Rupanya kau berangkat lebih awal untuk menemui pria itu? Huh?!" ucap Tama berbisik di telinga Tari dengan suara yang berat.


"Atau jangan-jangan ... kau selingkuh denganya!" tuduh Tama dengan geramannya.


Tari yang mulai mengerti akan suaminya yang ternyata sedang salah paham, mencoba untuk menangkis tuduhan sang suami.


"Tari tidak selingkuh!" sahut wanita itu dengan suara yang pelan, agar orang-orang yang berada di dekat ruangan itu tidak mendengar suara mereka.


"Apa karena dia lebih muda huh? Apa kau tidak puas denganku?!" cerca Tama yang terus menyudutkan Tari.


"Pak Tama apa-apan sih, Tari itu cinta sama Pak Tama! Gak mungkin Tari selingkuh!" balas Tari dengan suara yang sedikit naik.


Tama menyambar bibir Tari dengan benda kenyal miliknya. Ia meluapkan semua kekesalan yang dirinya rasakan.

__ADS_1


__ADS_2