
Deru suara mesin mobil terdengar dari dalam rumah Fio. Fio yakin jika itu adalah mobil pak duren yang pulang lebih awal dari biasanya. Sepertinya hari-hari sebelumnya, Sakya pasti akan membawa buah tangan untuk ibunya Fio sebagai rasa terima kasihnya.
Setelah memandikan Nesya, Fio juga mendadani Nesya sama seperti boneka barbienya yang rambutnya dikepang dua.
"Ayah," serunya saat melihat sang ayah sudah ada di teras rumah Fio.
Sakya segera menggendong Nesya lalu menghujani ciuman di pipi anaknya. "Ines gak nakal sama bibi Fio 'kan?" tanya Sakya kepada anaknya.
Nesya menggeleng dan berkata, "Bukan bibi, Yah. Tapi aunty Fio. Kata aunty, panggilan bibi itu untuk orang yang sudah tua. Sedangkan aunty Fio masih muda," jelas Nesya tanpa sesuai ucapan Fio tadi.
Sakya menarik kedua garis simpul bibirnya sambil menautkan alisnya. "Oh iya?"
Nesya kembali mengangguk pelan, mengiyakan ucapan ayahnya.
Fio pun segera menyerahkan perlengkapan Nesya untuk dibawa pulang kembali, termasuk boneka barbie yang telah di make over oleh Fio.
"Ya sudah sekarang pamit dulu sama aunty Fio kalau Ines mau pulang!" perintah Sakya sambil menurunkan anaknya. Namun, bukan pamit, Nesya malah menggeret Fio untuk jalan ke depan.
"Aunty Fio kan udah janji mau bacain dongeng kancil lagi. Sekarang ayo, kita baca di rumah Ines."
Fio membulatkan matanya dengan alis yang menaut. "Ta-tapi kalau di rumah Ines, aunty gak bisa, sayang. Karena ... karena nanti nenek marah," kilah Fio cepat.
Seketika langkah Nesya terhenti dan menatap kearah Fio. "Berarti kalau di rumah aunty, boleh?"
Fio menatap Sakya yang ada di hadapannya dengan rasa cemasnya. Fio sangat takut jika Sakya berpikir jika dia telah mencuci pikiran anaknya.
Nesya pun juga menatap ayahnya yang masih terdiam. "Apakah ayah juga akan melarang Nesya untuk bobok disini bersama dengan aunty Fio?"
Sakya masih terdiam. Kedua orang dewasa itu saling bersitatap dengan pemikiran mereka masing-masing. Sulit untuk berkata tidak, tetapi Sakya juga tidak tega jika harus melihat anaknya menangis kembali. Namun, jika mengiyakan, Sakya takut jika itu hanya akan merepotkan Fio dan keluarganya.
"Ayah ... apakah ayah tidak mendengarkan Ines?" tanya Nasya yang sudah penuh harap. Berharap sang ayah memberikan izin.
"Tapi, Sayang ... kasihan aunty-nya. Dia capek momong Ines satu harian dan sekarang aunty mau istirahat. Lain kali aja ya," bujuk Sakya dengan lembut.
"Tapi Ines maunya sekarang! Ines juga mau disuapin lagi sama aunty Fio. Sama seperti mama yang sering nyiapin Ines, Yah."
Deg!
__ADS_1
Sakit!
Terasa sakit hingga ke ulu hati. Bagaimanapun pasti Nesya selalu merindukan perlakuan sang mama yang sudah bisa dia ingin. Kepergian Sarah membuat hati Sakya hancur. Apalagi saat Nesya yang selalu bertanya mengapa tidur mama sangat lama dan tak bangun-bangun.
"Kalau di izinkan, gak papa Pak. Nanti kalau sudah tidur pak Sakya jemput, bagaimana?" Kini Fio yang meras iba memihak kepada Fio agar diberikan Izin.
Dengan berat hati akhir Sakya pasrah. Dia tidak ingin membuat anaknya bersedih di usianya yang masih kecil. Cukup dirinya saja yang menanggung kesedihan atas kepergian ibu dari anaknya.
"Iya. Ayah izinkan. Tapi dengan syarat gak boleh nakal ya."
"Hore!!" teriak Nesya bahagia. "Ines bobok sama aunty lagi nanti," teriaknya lagi sambil berlari kedalam rumah Fio.
Meskipun baru beberapa hari Nesya dan Fio saling berinteraksi, tetapi hubungan sudah sangat dekat. Mungkin karena Fio memperlakukan Nesya dengan baik sehingga Nesya meras lebih nyaman dengannya.
"Maaf kalau kelakuan Nesya membuat mu tidak nyaman. Mungkin dia sedang merindukan mamanya," kata Sakya dengan rasa canggung.
Fio menarik kembali dua garis sudut bibirnya lalu berkata, "Gak apa-apa, Pak. Aku bisa ngerti kok."
Setelah menitipkan Nesya lagi, Sakya pun memilih pulang karena dia belum menginjak kakinya ke rumah setelah pulang kerja.
Di dalam kamar, Sakya menatap sebuah bingkai dimana ada fotonya dan foto Sarah. Meskipun Sakya sudah mengikhlaskan Sarah, tetapi masih menyisakan luka dihatinya. Apalagi tentang Nesya yang selalu mempertanyakan mamanya.
Sakya menyentuh foto Sarah. Sekarang semuanya tinggallah kenangan. Tak ada harapan hidup jika bukan karena Nesya.
Lamunan Sakya buyar saat mendengar ketukan pintu serta sebuah suara yang sedang memanggil namanya. Sakya bergegas memakai pakaian dan membuka pintu.
Rambut yang masih setengah basah serta aroma wangi shampoo menusuk dan menggetarkan dada Fio. Saat ini Fio sudah berada di hadapan Sakya.
"Ada apa?" tanya Sakya.
"Itu ... Nesya minta susu dan kebetulan susu stok susu tadi siang sudah habis," jelas Fio.
Sakya pun baru mengingat jika stok susu anaknya memang sudah habis. Karena ingin cepat pulang, Sakya lupa tak membelikan susu anaknya.
"Susunya memang habis dan saya lupa membeli," ucap Sakya.
Fio menautkan alisnya sambil menimpali, "Terus gimana dong, Pak?"
__ADS_1
"Kamu tunggu sini dulu, aku ambil dompet sebentar."
Fio menatap kepergian Sakya sambil membuang napas beratnya. Sudah pasti sekarang Fio disuruh beli susu Nesya sendiri. Ternyata masih sama, tidak ada yang berubah. "Huh," dengusnya pelan.
"Ayo!" Terlihat Sakya hendak mengunci pintu rumahnya.
"Mau kemana, Pak?"
"Beli susu lah, tadi katanya susu Nesya habis. Gimana sih?"
Mata Fio langsung berbinar saat mendengar Sakya mengajak dirinya untuk jalan berdua. Eh, maksudnya beli susu berdua. Saat Fio hendak naik kedalam mobil, Sakya menyuruh Fio untuk memanggil Nesya. Karena ternyata Sakya tidak melupakan anaknya.
Bagi Fio tidak masalah jika harus membawa Nesya, toh anaknya sudah jinak. Fio terkekeh saat masuk ke dalam rumahnya.
"Kesambet apa luh?" tanya Daniel yang merasa aneh dengan Fio yang tertawa sendiri.
"Kepo luh!" balas Fio dengan menjulurkan lidahnya, seolah sedang mengejek Daniel.
Fio tak memperdulikan Daniel, saat ini dia menghampiri Nesya yang sedang dipangku oleh ibunya. Dengan pelan Fio berkata, "Ines, ayah kamu ngajak kita buat beli susu. Kamu tunggu disini sebentar ya. Aunty mau ganti baju dulu."
Nesya bersorak ria saat mendengar jika ayahnya akan mengajaknya jalan keluar. Sudah lama Nesya tidak menghabiskan waktu bersama dengan ayahnya semenjak kepergian ibunya. Karena setelah Sarah meninggal Nesya langsung dibawa pulang ke rumah neneknya.
Dengan celana jeans serta kaos switer, Fio terlihat layaknya anak ABG yang sedang ingin melakukan kencan. Tak lupa juga rambut yang dikuncir kuda menjadi pelengkap penampilannya.
"Aunty cantik sekali," puji Nesya dengan kepolosannya.
Kepala Fio terasa semakin berat akibat pujian dari Nesya. Sejak lahir Fio memang sudah cantik. Hanya mata juling saja yang melihat Fio jelek.
"Kan Aunty menang cantik. Dah ah, ayo berangkat! Ayah udah nungguin di depan, tapi Pamit dulu sama kakek dan nenek!" perintah Fio.
Layaknya anak pada umumnya yang akan patuh pada ucapan orang tuanya, Nesya segera menyalami kedua orang tua Fio sambil berkata, "Ines pergi beli susu dulu ya, Nek."
Ibu Fio tersenyum lebar. Kebahagiaan kecil yang tak pernah terlintas dalam benaknya kini tiba-tiba muncul begitu saja. Melihat kedatangan Fio dengan Nesya membuat ibunya sangat berharap jika Fio bisa berjodoh dengan ayahnya Nesya.
"Hati-hati ya. Jangan lupa bawa oleh-oleh untuk kakak dan nenek," pesan ibu Fio.
"Beres, Nek. Nanti Ines bilang sama ayah."
__ADS_1
Setelah berpamitan kepada kedua orangtuanya, Fio pun menggandeng Nesya untuk menghampiri Sakya yang menunggu di dalam mobil. Sakya sendiri mereka canggung jika setiap hari harus keluar masuk ke rumah Fio, apalagi jika bertemu dengan orang tua Fio.