Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Mengejar Cinta Pak Duda 13


__ADS_3

Hari pertama masuk sekolah adalah hari yang sangat berkesan bagi setiap anak. Dimana mereka pasti akan melakukan perkenalan diri dan mendapatkan teman baru. Namun, tidak dengan Nesya yang merasa hampa karena disampingnya tak ada sang ibu yang turut mengantarkan dihari pertamanya sekolah. Hanya ada Fio, sang pengasuh. Tidak mungkin Nesya memperkenalkan Fio sebagai ibunya.


Fio hanya bisa memantau Nesya dari jarak jauh, berharap anak pak duren bisa membaur dengan cepat bersama dengan teman-temannya.


"Aunty ...," panggil Nesya saat anak itu keluar paling awal.


"Loh, kok keluar?" tanya Fio kaget.


"Kata Miss siapa yang bisa menjawab pertanyaan boleh pulang, Aunty," kata Nesy dengan semangat, karena dia bisa menjawab pertanyaan dengan benar.


"Wah ... anak oak duren pinter sekali," puji Fio sambil mengusap puncuk kepala Nesya.


"Pak duren siapa, Aunty?" tanya Nesya bingung karena Fio keceplosan saat ingin menyebutkan nama Sakya.


Fio nyengir sambil menggandeng tangan Nesya untuk segera pulang. "Pak duren itu adalah singkatan dari duda keren. Ayah Ines 'kan keren," kata Fio.


Nesya tertawa karena merasa lucu dengan sebutan dari Fio. "Emang ayah Ines keren dari mana Aunty? Oh iya Aunty, boleh minta tolong antarkan Ines ke rumah sakit dong! Ines mau kasih tahu bunda, kalau Ines sekarang udah mulai sekolah. Ines punya banyak temen. Tapi sayang ... bunda gak ada disamping Ines saat perkenalan tadi." Wajah Nesya mendadak menjadi murung. Rasa rindu pada sang ibu sangat menggebu, tetapi karena sang ayah yang selalu sibuk, membuat Nesya tidak sempat untuk diajak menjenguk Bundanya.


"Tapi ... tapi Aunty gak tahu bunda Ines ada di rumah sakit mana." Untuk kesekian kalinya Fio berbohong. Entah sampai kapan Fio akan menyembunyikan kenyataan ini dari Nesya. Fio yakin cepat atau lambat kebenaran pasti akan terungkap, tetapi Fio takut jika kenyataan itu akan melukai hati Nesya.


Sesuatu yang diawali dengan kebohongan, biasanya akan menimbulkan luka yang mendalam, terlebih itu adalah sebuah kenyataan yang menyakitkan.


"Mending kita pulang, nanti Aunty buatkan cilok," kata Fio yang ingin mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


"Memangnya Aunty bisa? Goreng telur saja gosong hihihi," ejek Nesya dengan tawa kecilnya.


Fio yang menyadari kekurangannya hanya bisa menertawakan salah satu kekurangannya yang tidak pandai memasak.


Itu baru satu diantaranya, belum yang lainnya.


"Bisa dong! Ines jangan meremehkan Aunty, ya!"


***


Setelan membayar taksi, Fio segera mengajak Nesya untuk segera masuk ke dalam rumah. Sebelum itu, Nesya mengajari untuk meletakkan sepatu pada tempatnya dan langsung mencuci tangan serta kakinya.


"Aunty, susu!" perintah Nesya yang sudah duduk disebuah sofa.


Baru saja Fio siap menyeduh susu untuk Nesya, sosok yang paling tidak di oleh Fio kembali datang seperti hantu. Muncul kapan disaat yang tidak diinginkan dengan tujuan ingin mendapatkan hati calon suami dan anaknya.


"Hai Nesya, gimana hari pertama masuk sekolah? Pasti menyenangkan," sapa Luna sambil mengambil tempat duduk di samping Nesya.


Nesya terdiam sesaat untuk memperhatikan Luna. Dia yakin jika Luna bisa membantunya saat ini ketimbang Fio.


"Tante Luna udah temenan lama belum sama ayahnya Ines?" tanya Nesya tiba-tiba kepada Luna.


Dengan senyum yang memerkah, Luna menjawab dengan santai.

__ADS_1


"Udah lama dong. Bahkan tante sama ayah kamu udah temenan waktu tante dam ayah kamu masih sekolah. Ada apa? kok tanya seperti itu?" tanya Luna juga.


"Tidak ada Tante. Oh iya , tante juga kenal sama bunda Nesya dong?" tambah Nesya lagi.


"Ya jelas kenal dong. Tante sama bunda kamu itu adalah sahabat. Tapi sayang Tuhan lebih menyayangi bunda kamu," kata Luna dengan menunjukkan wajah sedihnya.


"Maksud tante?"


"Kamu harus jadi anak yang kuat meskipun bunda kamu sudah tidak ada disini lagi. Tante yakin bunda kamu bisa melihat kamu dari langit, karena bunda kamu udah gak sakit lagi. Dia sudah bahagia di surga."


Nesya menautkan alisnya saat mendengarkan ucapan Luna. Diusia yang sudah lima tahun meskipun masih ada sebagian yang belum dimengerti, tetapi untuk mencerna ucapan Luna sangatlah mudah.


"Maksud Tante, bunda Ines udah meninggal," kata Nesya tanpa keraguan.


Tanpa menjawab dengan kata-kata, Luna langsung memeluk tubuh mungil yang ada di sampingnya. "Kamu harus kuat ya, Nes. Meskipun bunda kamu sudah meninggalkan kita, tapi masih banyak kok yang sayang sama kamu, termasuk tante," ujar Luna.


Detik itu juga Nesya langsung mendorong tubuh Luna hingga terjungkal ke samping. Nesya berlari cepat menuju kamar sambil berteriak. "Tante jahat! Tante jahat!"


Luna segera mengejar Nesya lalu mengetuk pintu kamarnya. "Nesya, kamu kenapa, Nak?" Luna menggedor pintu kamar Nesya.


"Nesya, buka sayang," lanjutnya lagi.


"Tante jahat! Tante pembohong!" teriak Nesya dari balik kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2